Increase in Land Value due to Spatial Transformation in the Northern Part of the Bandung – Cimahi Peri-urban Region

Anita Vitriana

Abstract


Abstract. The increase in density and urban activity has led to spatial expansion towards the urban periphery. Peri-urban areas that originally were rural areas, gradually turn into typical urban settlement areas. This transformation is followed by an increase in economic land value which is characterized by an increase in land price.  This study examines the meaning of the increase in economic land value for the government as an effect of the spatial transformation in the periphery area of Bandung City and the northern part of Cimahi. This study uses quantitative-qualitative mixed methods. Primary data was obtained through interviews with informants from local communities, and secondary data was obtained from a former study on this area and Land and Building Tax documentation (PBB). For the government, economic land value specifically will be reviewed using the Land-Tax Object Sales Value (NJOP Tanah), and then compared with the increase in market price of land. The study results show that the increase of land price due to the spatial transformation in the Gunung Batu Dalam area was not in line with the increase in land value for local governments. The increase in land prices determined by market forces becomes a potential loss of revenue for local governments. Therefore, the government needs to control the increase in land prices. If not, then the government should immediately adjust the Land-Tax Object Sales Value to represent the economic land value of peri-urban areas.

Keywords. land value, spatial transformation, peri-urban area, Gunung Batu Dalam area.

Abstrak. Peningkatan kepadatan dan aktivitas urban telah menyebabkan terjadinya perubahan spasial ke arah periferi kota.  Wilayah peri-urban yang sebelumnya daerah perdesaan, lambat laun berubah menjadi wilayah permukiman khas perkotaan. Perubahan fungsi tersebut berdampak pada peningkatan nilai ekonomi lahan. Studi ini mengkaji makna peningkatan nilai ekonomi lahan bagi pemerintah sebagai dampak proses transformasi lahan pada salah satu kawasan periferi Kota Bandung-Cimahi bagian utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-kualitatif. Data primer diperoleh melalui metoda wawancara dengan informan dari komunitas lokal, dan data sekunder diperoleh dari penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya terhadap kawasan ini serta dokumentasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan harga lahan akibat transformasi spasial di Kawasan Gunung Batu Dalam tidak berbanding lurus dengan peningkatan nilai lahan bagi pemerintah daerah. Peningkatan harga lahan yang ditentukan oleh mekanisme pasar, justru menjadi celah potensi kehilangan pendapatan bagi pemerintah daerah. Untuk itu, pemerintah perlu mengontrol peningkatan harga tanah. Jika tidak, maka pemerintah perlu segera menyesuaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) Tanah agar secara reprsentatif dapat mewakili nilai ekonomi lahan kawasan peri-urban.  

Kata kunci. Nilai lahan, transformasi spasial, wilayah peri-urban, Kawasan Gunung Batu Dalam

Full Text:

PDF

References


Astuti, A. (2014) Analisis Pengaruh Perubahan Nilai Jual Tanah Terhadap Zona Nilai Tanah (Studi Kasus : Kecamatan Banyumanik Kota Semarang). Universitas Diponegoro. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/45126/3/BAB_II.pdf

Bandung, P.K. (2008) Peraturan Daerah Kota Bandung No. 8 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005-2025. http://doi.org/10.1017/ CBO9781107415324.004.

Dewi, N.K., and Rudiarto, I. (2014) Pengaruh Konversi Lahan terhadap Kondisi Lingkungan di Wilayah Peri-urban Kota Semarang (Studi Kasus: Area Berkembang Kecamatan Gunungpati). Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 10(2), 115–126. Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article.php?article=195622&val=1260&title=Pengaruh Konversi Lahan terhadap Kondisi Lingkungan di Wilayah Peri-urban Kota Semarang (Studi Kasus: Area Berkembang Kecamatan Gunungpati)

Firman, T. (2009) The Continuity and Change In Mega- Urbanization In Indonesia: A Survey of Jakarta – Bandung Region ( JBR ) Development. Habitat International, 33(4), 327–339. http://doi.org/10.1016/j.habitatint.2008.08.005

Firman, T. (2000) Rural to Urban Land Conversion in Indonesia during Boom and Bust Periods. Land Use Policy, 17(1), 13-20.

Ginting, S.W. (2010) Transformasi Spasial Dan Diversifikasi Ekonomi Pada Wilayah Peri-urban di Indonesia. Jurnal Arsitektur dan Perkotaan “KORIDOR”, 1(1), 60-64.

Hardati, P. (2011). Transformasi Wilayah Peri Urban, Kasus di Kabupaten Semarang. Jurnal Geografi, 8(2), 108–117. Retrieved from http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/ view/1661/1868.

Hudalah, D., Winarso, H., & Woltier, J. (2007). Peri-urbanisation in East Asia - A new challenge for planning? International Development Planning Review, 29(4), 503–519.

Krismasta, V., Rogi, O.H.A., and Tilaar, S. (2015) Kajian Transformasi Wilayah Peri-urban di Kota Manado (Studi Kasus : Kecamatan Mapanget). SPASIAL, 2(1), 1–9. Retrieved from http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/spasial/article/view/8260/7819

Kurnianingsih, N.A., and Rudiarto, I. (2014) Analisis Transformasi Wilayah Peri-urban pada Aspek Fisik dan Sosial Ekonomi (Kecamatan Kartasura). Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 10(3), 265–277. Retrieved from http://ejournal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/ 7784/6380

Kusumastuti, D. (2005) Pasar Tanah dan Pola Tata Ruang Perumahan di Daerah Peri-urban. Institut Teknologi Bandung.

McGee, T. (2005) Distinctive Urbanization in the Peri-urban Regions of East and Southeast Asia - Renewing the Debate. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 16(1), 39–55. Retrieved from http://mfile.narotama.ac.id/files/Umum/JURNAL ITB/Distinctive urbanization in the peri-urban regions of East and Southeast Asia- renewing the debate.pdf

Mulyanti, W. (2015) Pengaruh Konsolidasi Lahan Perkotaan terhadap Harga Tanah di Ringintelu , Kelurahan Kalipancur - Kota Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, 11(1), 63–75. Retrieved from http://ejournal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/ 8658/7028

Nugroho, P. (2014) Kajian Transformasi Spasial di Peri Urban Koridor Kartasura-Boyolali. GEADIDAKTIKA, 4(2), 1–14. Retrieved from http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/geografi/ article/view/4619/4257

Sadikin, F.I. (2010) Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi Sebelum dan Sesudah Krisis Moneter 1997 : Suatu Pendekatan VAR. Unversitas Indonesia.

Sari, M.K., and Winarso, H. (2007) Transformasi Sosial Ekonomi Masyarakat Peri-Urban di Sekitar Pengembangan Lahan Skala Besar : Kasus Bumi Serpong Damai. Jurnal Perencanan Wilayah dan Kota, 18(1), 1-30.

Tilaar, S. (2013) Kajian Nilai Lahan Permukiman di Wilayah Kecamatan Malalayang Kota Manado. Sabua 5(2), 96-102. Retrieved from http://download.portalgaruda.org/article.php? article=146372&val=1034&title=KAJIAN NILAI LAHAN PERMUKIMAN DI WILAYAH KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO

Verheye, W. (2009) The Value and Price of Land. In Encyclopedia of Life Support Systems (Encycloped, Vol. III). EOLLS. Retrieved from http://www.eolss.net/sample-chapters/c19/e1-05-03-03.pdf

Vitriana, A. (2005) Proses Pasar Tanah dan Penataan Ruang Permukiman di Kawasan Gunung Batu Dalam. Institut Teknologi Bandung.

Winarso, H., D. Hudalah, M.K. Sari, and A.M. Novastara (2007) Dampak Pengembangan Lahan Skala Besar Terhadap Struktur Spasial Peri-urban Kota Jakarta. (M.K. Sari, A.M. Navastara, & F.K. Maula, Eds.) (Research S). Bandung: Urban Planning and Design Research Group.




DOI: http://dx.doi.org/10.5614%2Fjrcp.2017.28.1.5

Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

Copyright © 2019 Journal of Regional and City Planning