Dukungan Modal Sosial dalam Kolektivitas Usaha Tani untuk Mendukung Kinerja Produksi Pertanian Studi Kasus: Kabupaten Karawang dan Subang

Tiara Anggita

Abstract


Perkembangan sektor industri yang secara intens dikhawatirkan semakin mengancam keberadaan lahan pertanian, terutama di kawasan lumbung padi nasional seperti Kabupaten Subang dan Karawang. Kondisi semakin diperburuk oleh banyaknya petani gurem yang berskala usaha kecil, pendapatan yang rendah, dan kinerja produksi yang tidak dapat bersaing di pasar modern. Dalam menghadapinya, petani harus melakukan suatu revolusi manajemen usaha yang menyatukan petani-petani gurem ke dalam bentuk usaha kolektif. Penggabungan ke dalam usaha kolektif tersebut memerlukan adanya dukungan modal sosial yang kuat antar masyarakat petani, yang meliputi jejaring sosial dan kepercayaan satu sama lain. Berdasarkan hasil analisis, disimpulkan bahwa kondisi modal sosial kalangan masyarakat petani di kedua wilayah studi tidak dapat mendukung kinerja kolektifitas usaha tani akibat adanya trauma finansial. Ketiadaan kolektifitas tersebut membuat kapasitas, kualitas, dan kontonuitas produksi yang diharapkan dapat bersaing di apsar modern tidak dapat terjadi. Biaya produksi pun menjadi tidak efisien dan kesejahteraan petani sangat rendah.

Kata Kunci: Industri, kinerja produksi, kolektifitas usaha tani, modal sosial, masyarakat petani


The development of the industrial sector that is increasingly threatening the existence of an agricultural land, particularly in areas such as the national granary Subang and Karawang. The condition is further aggravated by the many small farmers, low income, and production performance can not compete in the modern market. In the deal, farmers must undertake a business management revolution that brings together farmers in the collective effort. Incorporation into the collective effort requires the support of strong social capital among the farming community, which includes social networking and trust each other. Based on the analysis, it was concluded that the conditions of social capital among the farmers in the two study areas could not support farming collectivity performance due to financial trauma. The absence of such collectivity making capacity, quality, and production kontonuitas are expected to compete in the modern Apsar can not happen. The cost of production becomes inefficient and welfare of farmers is very low.

Keywords: Manufacture, production performance, collectivity farming, social capital, community farmers


Full Text:

PDF

References


Akhmad, S. Membangun Gerakan Ekonomi Kolektif dalam Pertanian Berkelanjutan; Perlawanan Terhadap Liberalisasi dan Oligopoli Pasar Produk Pertanian. Tegalan Purwokerto. Jawa Tengah: BABAD, 2007.

Boyce, C. and Neale, P. 2006. Conducting InDepth Interview: a guide for designing and conducting In-Depth Interviews for evaluation input. Pathfinder International Tool Series, monitoring and evaluation–2. USA. http://www.pathfind.org/site

/DocServer/m_e_tool_series_indepth_interviews.pdf?docID=6301.

Buletin PDB Sektor Pertanian Volume 3 Nomor 1, Maret 2004. Pusat Data dan Informasi Pertanian Departemen Pertanian, 2004.

Buletin PDB Sektor Pertanian Volume 3 Nomor 1, Maret 2004. Pusat Data dan Informasi Pertanian Departemen Pertanian, 2004.

Claridge Tristan. Social Capital and Natural Resource Management. Unpublished Thesis, Brisbane: University of

Queensland Australia, 2005.

Cohen, Don, dan Laurence Prusak. In Good Company: How Social Capital Makes Organizations Work. Boston: Harvard Business Scholl Press, 2001

Coleman, J, Foundations of Social Theory. Cambridge Mass: Harvard University Press. 1990.

Fukuyama, Francis. Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity. London: Hamish Hamilton, 1995

Hasbullah, J, Sosial Kapital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press. 2006. Heliin, Jon, Mark Lundy, dan Madelon Meijer. Farmers Organization, Collective Action and Market Access in Meso-Americas. CAPRi Working Paper No. 67, October, 2007. Cali, Columbia: International Food Policy Research Institute. 2007.

Hernanto, Fadholi. Ilmu Usaha Tani. Jakarta: Penerbit Swadaya. 1999.

Lin, Nan, Karen Cook, dan Ronald S. Burt. Social Capital: Theory and Research. New York : Aldine De Gruyer, 2001.

Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES Indonesia.

Mubyarto. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES. 1995.

Nuhung, Iskandar Adi. Membangun Pertanian Masa Depan: Suatu Gagasan Pembaharuan. Demak: Aneka Ilmu. 2003.

Purwanto, Aris. “Kehilangan Pasca Panen Kita Masih Tinggi” dalam Majalah Inovasi, Volume 4/XVII/4 Agustus 2004. PPI Jepang.2004. Diunduh dalah http://ppijepang.org pada 20 Maret 2012.

Rakhma, Fildya. Potensi Manfaat Kawasan Industri terhadap Perkembangan Kegiatan Pertanian di Kabupaten Karawang. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2010

Rizal, Yose. Dampak Usaha Pertanian Kolektif terhadap Perkembangan Ekonomi Lokal. Bandung: Institut Teknologi Bandung, 2003.

Saragih, Bungaran. Agribisnis sebagai Landasan Pembanguan Ekonomi Indonesia dalam Era Millienium Baru, dalam Jurnal Studi Pembangunan, Kemasyarakatan, dan Lingkungan, Volume 2 No. 1/Feb 2009 (1-9) Setiawan, Iwan. Collective Farming sebagai Alternatif Strategi Pemberdayaan Petani (Studi Kasus di Desa Rancakasumba Kabupaten Bandung). Laporan Penelitian. Bandung: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, 2008.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: CV.Alfabeta.

Yusdja, Yusmichad, Edi Basuno, Mewa Ariani, dan Tri Bastuti Purwantini. Analisis Peluang Peningkatan Kesempatan Kerja dan Pendapatan Petani Melalui Pengelolaan Usaha Tani Bersama. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian dalam Jurnal Agro Ekonomi Volume 22 No.1 Mei 2004 (1-25)




Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

Copyright © 2019 Journal of Regional and City Planning