Adaptasi Penataan Ruang Terhadap Risiko Kenaikan Muka Air Laut (Sea Level Rise) di Jakarta Utara

Dwi Resti Pratiwi

Abstract


Laju kenaikan muka air laut di Indonesia yang mencapai 20-100 cm dalam waktu 100 tahun (WWF dan IPCC, 1999), mengakibatkan semakin rentannya kota-kota besar di Indonesia terhadap dampak kenaikan muka air laut. Salah satu kota pesisir yang paling rentan ialah Kota Jakarta, karena fungsinya sebagai Ibu Kota negara yang merupakan pusat pembangunan Indonesia. Oleh karena itu, pada penelitian ini diidentifikasi risiko dampak kenaikan muka air laut di Jakarta khususnya Jakarta Utara untuk memberikan alternatif adaptasi yang sesuai dengan karakter kerentanan Kota Jakarta. Penelitian ini menilai tingkat risiko kenaikan muka air laut di Jakarta khususnya Jakarta Utara yang 45,29% wilayahnya berada di ketinggian dibawah 1 meter. Untuk menilai tingkat risiko tersebut terlebih dahulu dilakukan dengan mengidentifikasi faktor kerentanan Kota Jakarta, yaitu kerentanan sosial kependudukan, ekonomi, dan fisik kota. Penilaian bobot kerentanan ini dilakukan dengan metode AHP. Setelah diketahui masing-masing bobot faktor kerentanan tersebut, selanjutnya dilakukan overlay peta bahaya kenaikan muka air laut tahun 2010-2050 dengan peta kerentanan sehingga menghasilkan peta risiko kenaikan muka air laut Kota Jakarta Utara tahun 2010-2050. Berdasarkan hasil tinjauan lokasi berisiko dan pemanfaatan ruang menurut RTRW 2010, terdapat beberapa kawasan pengembangan penting seperti kawasan industri dan pemanfaatan ruang pemukiman yang berada pada lokasi paling berisiko tinggi yaitu berada di Kelurahan Penjaringan yang merupakan kelurahan berisiko tertinggi di Jakarta Utara.

Kata kunci: kenaikan muka air laut, risiko, rentan, Kota Jakarta

 

The rate of sea level rise in Indonesia that reaches 20-100 cm in 100 years (WWF and IPCC, 1999) resulted in a growing vulnerability of major cities in Indonesia to the impacts of sea level rise. One of the most vulnerable coastal cities is the city of Jakarta, as its function as a state capital that is central to the development of Indonesia. Therefore, in this study identified the risk impact of sea level rise in North Jakarta Jakarta in particular to provide an alternative adaptation to suit the character of the vulnerability of Jakarta. This study assess the risk of sea level rise in North Jakarta Jakarta, especially 45.29% of the area is located at a height below 1 meter. Assess the risk level is done by first identifying the vulnerability factor of Jakarta, the social vulnerability of population, economic, and physical city. Weight of the vulnerability assessment is performed by the method of AHP. Having known each weighting factor of vulnerability, then be overlaid hazard maps of sea level rise in 2010-2050 to map the vulnerability resulting risk maps of sea level rise in North Jakarta in 2010 to 2050. Based on the review sites at risk and use of space by RTRW 2010, there are some important areas such as industrial park development and utilization of space settlements that are at least high-risk locations that are in the Village of Penjaringan which is the highest-risk villages in North Jakarta.

Keywords: sea level rise, risk, vulnerable, City of Jakarta

Full Text:

PDF

References


Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. Oktober, 2007. Pedoman Penyusunan Peta Risiko Bencana.

Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta. 2009. Kondisi Lingkungan dan Upaya Pengendalian Banjir di DKI Jakarta.

Makalah disampaikan dalam Focus Group Discussion: Perilaku Adaptasi Berdasarkan Kejadian Banjir Jakarta 2007. Jakarta, 23 April 2009.

Badan Perencana Daerah. 2010. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi DKI Jakarat 2010.

Badan Perencana Kota Jakarta. 2008. Data Saku Jakarta Utara.

Badan Pusat Statistik Jakarta. 2008. Jakarta Utara dalam Angka.

Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada. 2007. Pemanasan Global. Dari http://www.korantempo.com/korantempo/ko ran/2009/02/28/Metro/krn.20090228.158222.id.html. (25 Mei 2009).

Hadi, S., R. Widiaratih, E. Riawan. 2007. Dampak Kenaikan Muka Laut di Pantai Utara dan Kepulauan Seribu. Laporan Akhir Riset Kementrian LH-ITB.

Peta Propinsi Jakarta: www.deptan.go.id.

Soenarno. 2003. Tinjauan Aspek Penataan Ruang dalam Pengelolaan Wilayah Laut dan Pesisir. Disampaikan dalam Seminar Umum Dies Natalis ITS Ke-43 Di Surabaya, 8 Oktober 2003. http://www.penataanruang.net. Diakes pada 25 Mei 2009.

Tanpa Nama. 2007. Zona Penduduk: 60 Persen Penduduk Bermukim di Pesisir. Dari http://www.lampungpost.com/cetak/berita.ph p?id=2007122201514418. Diakses pada (15 Juli 2009).

The World Bank dan Department for International Development. 2007. Working Paper: Indonesia and Climate Change.

UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.




Copyright © 2016 Journal of Regional and City Planning

Creative Commons License
This work licensed under CC-BY-NC, a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Visitor Counter