SOSIOKULTUR SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

https://doi.org/10.5614/sostek.itbj.2014.13.3.1

Authors

  • Yudi Latif Reform Institut

Abstract

Sejarah membuktikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi inheren dengan perkembangan sosiokultural masyarakat. Lebih konkretnya, terdapat hubungan yang signifikan antara formasi kerangka institusional dengan laju perkembangan teknologi dan produksi. Makalah ini mengkaji hubungan antara perkembangan sosiokultural dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sebuah negara yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Berkaitan dengan hal itu, diperlukan komitmen semua pihak untuk melakukan revitalisasi kebudayaan yang berbasiskan nilai-nilai luhur bangsa yang sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Suatu strategi kebudayaan harus diorientasikan untuk menghadapi masa depan dengan segala masalah dan tantangannya. Dalam konteks ini, perlu dibuat tafsiran-tafsiran kreatif dan penyempunaan dari warisan budaya yang ada melalui pembelajaran interkultural. Selain itu, strategi kebudayaan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Upaya pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fenomena kebudayaan harus mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Selanjutnya, strategi kebudayaan juga harus komprehensif, mencakup semua faktor budaya, yaitu manusia (anthropos), lingkungan (oikos), alat (tekne), dan komunitas (ethnos). Kata kunci: ilmu pengetahuan, teknologi, sosiokultural, kemajuan bangsa, strategi kebudayaan History proves that the development of science and technology is inherent with the socio-cultural development of the society. More concretely, there is a significant correlation between the formation of an institutional framework and the pace of technology development and production. This paper examines the relationship between the socio-cultural development and the advancement of science and technology in a country, which in turn affects the national progress. In this regard, it is necessary for all parties to be committed to revitalizing culture-based noble values that correspond to the demands of the nation's science and technology. A cultural strategy should be oriented at facing the future with all its problems and challenges. In this context, it is essential that creative interpretations and polishing cultural heritage to perfection be performed through inter-cultural learning. Then the cultural strategy should be directed to improve the quality of life. Efforts for developing science and technology as a cultural phenomenon should be able to increase the empowerment of the community in order to meet the physical and spiritual needs. Furthermore, cultural strategies must also be comprehensive, covering all cultural factors, i.e. men (anthropos), environment (oikos), tools (Tekne), and community (ethnos). Keywords: knowledge, technology, sociocultural, national progress, cultural strategy

References

Al-Hasan, A.Y. & DR. Hill (1993), Teknologi dalam sejarah islam. Bandung: Mizan.

Alisjahbana, ST. (1983). The concept of culture and civilization: problem of national identity and the emerging world in anthropology and sociology. Jakarta: Dian Rakyat. Bellah, R.N. (1985). Tokugawa religion: the value of pre-industrial japan. USA: Mcmillan Company.

Cassirer, E. (1990). Manusia dan kebudayaan: sebuah esei tentang manusia. Jakarta:

Fisch, R. (1977). “Psychology of scienceâ€, dalam Science, Technology and Society, ed. I, Spiegel-Rosing and D. de S. Price. London: Sage Publications.

Garner, Howard, (1983). Frame of mind. New York: Basic Book Inc.

Gaston, J. (1980). “Sociology of science and technologyâ€, dalam A guide to the culture of science, technology, and medicine, ed. P.T. Durbin. New York: The Free Press. Gramedia.

Habermas, J. (1990). Ilmu dan teknologi sebagai ideologi . Jakarta: LP3ES.

Habibie, B.J. (1995). Ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan bangsa: menuju dimensi baru pembangunan indonesia. Jakarta: CIDES.

Hardjowirogo, M. (1983). Manusia jawa. Jakarta: Yayasan Idayu.

Ibrahim, MA. (1991). “Ilmu, teknologi dan kebudayaan indonesiaâ€, Makalah pada Kongres Kebudayaan, Jakarta: Dirjen Kebudayaan Depdikbud.

Johnston, A.& A. Sasson (1986), New technologies and development. Paris: UNESCO.

Kleden, I. (1988). Sikap ilmiah dan kritik kebudayaan. Jakarta: LP3ES. Kraft, M.E. & N.J. Vig. (Ed). (1988). Technology and politics. USA: Duke University Press.

Kuntowijoyo. (1991). Paradigma islam: interpretasi untuk aksi. Bandung: Mizan.

----------------. (1994). Demokrasi dan budaya birokrasi. Yogyakarta: Bentang.

Latif, Yudi. (1994). “Added value: a leading conceptâ€, dalam added value-oriented development based on human resources development and the mastery of technology, ed. Yudi Latif. Jakarta: CIDES.

---------------. (1995). “Teknologi dan demokrasiâ€, Kompas, 23 Oktober 1995.

Lowrance, W.W. (1985). Modern science and human values. New York: Oxford University Press.

Lubis, M. (1988). Transformasi budaya untuk masa depan. Jakarta: Haji Masagung.

Mangunwijaya, YB. (1986), “menghadapi budaya pasca-indonesia dan pasca-einsteinâ€, Makalah pada Temu Budaya DKJ. Jakarta: DKJ.

McClelland, D.C. (1987). Memacu masyarakat berprestasi. Jakarta: Intermedia.

Mitcham, C. (1980). “Philosophy of Technologyâ€, dalam A guide to the culture of science, technology, and medicine, ed. P.T. Durbin. New York: The Free Press.

Mulder, N. (1983). Kebatinan dan hidup sehari-hari orang jawa: kelangsungan dan perubahan kulturil, Jakarta: Gramedia.

Nagai, M. (1993). Pergaulan jepang dalam modernisasi pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Noerhadi, T.H. (1994). “Menuju masyarakat indonesia yang modern, mandiri dan berkeunggulanâ€. Makalah diskusi kebudayaan CIDES. Jakarta: CIDES.

Pabottingi, M. (1991). “Kebudayaan bukanlah terdakwaâ€, Kompas, 13-14 September.

Parsons, T. (1954). Essay in sociological theory. Glencoe: Free Press. Peursen, V. (1976). Strategi kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Reich, R.B. (1992). The work of nation. New York, Fintage books.

Schneider. E.V. (1986). Sosiologi industri. Jakarta: Aksara

Persada. Sharif, M.N. (1986). Technology policy formulation and planning: a reference manual. Bangalore: APCTT.

Suriasumantri, Y. (1984). Filsafat ilmu: sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Susanto, A.S. (1991). “Penguasaan teknologi dan pemerataan kecerdasan bangsaâ€, Makalah pada Kipnas-V. Jakarta: PAPIPTEK-LIPI.

Sutrisno, S. (1992). “Budaya keilmuan dan situasinya di indonesiaâ€, dalam Tantangan Kemanusiaan Universal: Kenangan 70 Tahun Dick Hartoko, ed. Moedjanto et. al. Yogyakarta: Kanisius.

Tatsuno, S.M. (1990). Created in japan: from imitators to world-class innovators USA: Harner Bussines.

Tehranian, M. (1990). Technologies of power: information machines and democratic prospects. New Jersey: Ablex Publishing Corporation.

Turner, C.H. & A. Trompenaars. (1993). The seven culture of capitalism. New York: Doubleday.

Vig, N.J. (1988). “Technology, Philosophy, and the Stateâ€, dalam Technology and Politics, ed. M.E. Kraft& N.J. Vig USA: Duke University Press.

Wenk, E. Jr. (1986). Trade offs: imperatives of choice in a high-tech world. Baltimore: The Johns Hopkins University Press.

Wibisono, K. (1991). “Kebudayaan dan ilmu dan teknologiâ€, Makalah pada Kongres Nasional Jakarta: Dirjen Kebudayaan Depdikbud.

Williams, R. (1983). Keywords. London: Fontana Paperbacks.

Published

2014-12-01

Issue

Section

Articles