https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/issue/feed Journal of Regional and City Planning 2021-03-11T16:32:20+07:00 Kamal Khairudin jpwk@lppm.itb.ac.id Open Journal Systems <p><strong><img src="http://journals.itb.ac.id/public/site/images/budini/logo_web_2.jpg" alt="" /></strong></p> <p><strong>Indexing: </strong>SCOPUS, Web of Science (ESCI), other </p> <p><strong>ISSN </strong>2502-6429 (online)</p> <p><strong><em>Journal of Regional and City Planning</em></strong> or JRCP is a tri-annual open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the sciences, analytics, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the past, present, and future transformation of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.</p> <p><a title="SCImago Journal &amp; Country Rank" href="https://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=21100889410&amp;tip=sid&amp;exact=no"><img src="https://www.scimagojr.com/journal_img.php?id=21100889410" alt="SCImago Journal &amp; Country Rank" border="0" /></a></p> https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/13053 The Urban Women Travelling Issue in the Twenty-first Century 2021-01-02T04:29:48+07:00 Yong Adilah Shamsul Harumain adilah_shamsul@um.edu.my Nikmatul Adha Nordin nikmatul@um.edu.my Goh Hong Ching gohhc@um.edu.my Noor Suzaini Zaid suzaini_zaid@um.edu.my Andree Woodcock adx974@coventry.ac.uk Deana Mcdonagh mcdonagh@illinois.edu Komal Faiz komalfaiz@gmail.com <p>Mobility generally refers to the ability or capacity to move. The subject of women’s mobility has been well documented and investigated by researchers since the 1970s. Early studies were initially inspired by the issue of gender-based violence encountered by women. At the same time, there is increasing research on women transportation mobility due to the increasing percentage of women working and travelling outside the house. However, there is an absence of studies that adopted a systematic review of studies related to women’s mobility. The increase of women working in the 21st century has led to an increase in the percentage of women travelling, thus engendering issues such as safety, security, mobility and accessibility. This paper attempted to identify studies related to women’s mobility in the 21st century from the year 2001 until the year of 2020 by using a systematic literature review, guided by Preferred Reporting Materials for Systematic Reviews and Meta Analyses, also known as the PRISMA Statement, to further understand the scenario of urban women travelling in the global context. This paper reviews previous studies conducted in the 21st century, revealing slight variations of focus among the authors on the urban women travelling issue.</p><p><strong>Abstrak.</strong> Mobilitas umumnya mengacu pada kemampuan atau kapasitas untuk bergerak. Subjek ‘Mobilitas Wanita’ telah didokumentasikan dan diteliti dengan baik oleh para peneliti sejak tahun 1970-an. Studi terdahulu awalnya terinspirasi dari isu-isu kekerasan berbasis gender yang dihadapi perempuan. Sementara itu, penelitian tentang mobilitas transportasi perempuan semakin meningkat karena meningkatnya persentase perempuan yang bekerja dan pindah ke luar rumah. Namun, belum ada penelitian yang mengadopsi tinjauan sistematis pada artikel terkait studi terkait mobilitas perempuan. Meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di abad ke-21 juga meningkatkan persentase perempuan yang bepergian sehingga menggambarkan banyak masalah antara lain keselamatan, keamanan, mobilitas dan aksesibilitas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengidentifikasi kajian-kajian yang berkaitan dengan mobilitas perempuan abad ke-21 dari tahun 2001 hingga tahun 2020 dengan menggunakan Systematic Literature Review yang berpedoman pada Preferred Reporting Materials for Systematic Reviews dan Meta Analysis atau yang lebih dikenal dengan PRISMA Statement untuk memahami lebih jauh skenario perjalanan wanita perkotaan dalam perspektif global. Makalah ini mengulas penelitian sebelumnya yang dilakukan pada abad ke-21 yang telah ditafsirkan dan diuraikan dengan sedikit variasi fokus di antara penulis tentang isu perjalanan wanita perkotaan. </p><p><strong>Kata kunci.</strong> mobilitas wanita, tinjauan literatur sistematis, perjalanan, abad ke-21.</p> 2021-01-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/14024 A DSR Methodology for Conceptual Solution Development of Public Open Space Governance 2021-01-02T04:29:49+07:00 Gabriel Hoh Teck Ling gabriel.ling@utm.my Pau Chung Leng pcleng2@utm.my Noradila Rusli noradila@utm.my Wai Shin Ho hwshin@utm.my <p>Considering the importance of the 11th Sustainable Development Goal on sustainable cities and communities and the New Urban Agenda, it is imperative to address one of today’s crucial urban planning challenges, which concerns overexploitation, mismanagement, and quality issues related to public parks and state-owned public open space (POS). Selecting an appropriate methodological framework to formulate a solution to cope with the encountered challenges is necessary; however, finding a suitable one is difficult as there is a lack of research, particularly on the step-by-step development of a conceptual countermeasure (solution). Against this background, we adopted the revised design science research (DSR) framework and its procedural methodology to formulate a conceptual solution, represented as an artifact, within the institutional-social-ecological context of Sabah, Malaysia. The data obtained for the development and validation of the solution were secondary, based on a review via content analysis of prior studies. The proposed conceptual artifact (self-governing collective action) based on the root causes (i.e. property rights and transaction costs issues) from the ‘why’ analysis was then validated via the institutional analysis and development (IAD) framework using its social-ecological system (SES) criteria. The main contribution of this study is to showcase the application and relevancy of the DSR framework for urban and environmental planning research through a problem-solution analysis by demonstrating the process of how the artifact was systematically constructed, validated and standardised. It was found that the proposed conceptual solution can be considered valid and appropriate to address the local governance issues of POS. </p><p><strong>Abstrak.</strong> Mempertimbangkan pentingnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan dan Agenda Perkotaan Baru, penting untuk mengatasi salah satu tantangan perencanaan kota yang krusial saat ini terkait dengan permasalahan eksploitasi yang berlebihan, salah kelola, dan kualitas taman maupun ruang terbuka milik publik/negara (POS). Mencari kerangka metodologi yang tepat untuk mengatasi tantangan tersebut dirasakan perlu, tetapi menemukan yang cocok masih sulit karena kurangnya penelitian, terutama tahapan dan langkah mengembangkan konsep tindakan penanggulangan. Dengan latar belakang ini, dalam konteks kelembagaan-sosial-ekologis Sabah, Malaysia, kami mengadopsi kerangka kerja Penelitian Ilmu Desain (DSR) yang telah direvisi dan metodologi proseduralnya untuk merumuskan solusi konseptual yang direpresentasikan sebagai artefak. Data yang diperoleh untuk pengembangan dan validasi solusi adalah data sekunder, berdasarkan tinjauan melalui analisis konten dari studi sebelumnya. Artefak konseptual yang diusulkan (tindakan kolektif yang mengatur diri sendiri) berdasarkan akar penyebab (yaitu, masalah hak milik dan biaya transaksi) dari analisis 'mengapa'yang  kemudian divalidasi melalui kerangka Analisis dan Pengembangan Kelembagaan (IAD) dengan menggunakan kriteria social-ecological system (SES). Kontribusi utama studi ini adalah penerapan dan relevansi kerangka DSR dalam penelitian perencanaan kota dan lingkungan melalui analisis solusi masalah, dengan menunjukkan proses bagaimana artefak dibangun, divalidasi, dan distandarisasi secara sistematis. Akhirnya, artikel ini menunjukkan bahwa solusi konseptual yang diusulkan dianggap valid dan sesuai untuk mengatasi masalah tata kelola lokal POS. </p><p><strong>Kata kunci.</strong> Ruang terbuka publik, design science research, sistem tata-kelola mandiri, ekonomi kelembagaan baru, solusi konseptual.</p><p> </p> 2021-01-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/12931 Land Use Change and Its Impacts on Surface Runoff in Rural Areas of the Upper Citarum Watershed (Case Study: Cirasea Sub-watershed) 2021-01-02T04:29:50+07:00 Zahrul Atharinafi zahrul3@yahoo.com Nurrohman Wijaya nurrohman.wijaya@sappk.itb.ac.id <p>Land-use change in upstream regions is a recognized driver of the increase in surface runoff, resulting in increasing flood intensity and occurrence. The rapid urbanization of outlying districts surrounding large metropolitan areas is a known driver of land-use change. Therefore, we study land-use change patterns within the Cirasea Sub-watershed within the last 20 years and changes in the runoff coefficient within the same time frame. This paper examines how land-use change patterns on the outskirts of the Bandung Metropolitan Area influence runoff. Spatial analysis and surface runoff calculation using the curve number method were applied. The study found significant changes in land use, particularly in the watershed’s southern reaches, whereby forest and shrub land gave way to agriculture in a water recharge zone, resulting in an increased runoff coefficient upstream. Urbanization within the Cirasea Sub-watershed did not encroach into areas identified as recharge zones and had a minimal direct impact on increased runoff. Aggregate runoff coefficient (curve number) in the Cirasea Sub-watershed increased from 70.98 in 1999 to 72.04 in 2018. For a design 24-hour period rainfall of 120 mm, runoff increased from 48.49 mm (1999) to 51.8 mm (2018). We conclude that the changes above in land use have increased runoff in the Cirasea Sub-watershed. Furthermore, land-use policies laid down by the RTRW Bandung Regency for 2016-2036 provide provisions to reforest previously deforested areas, with deforested areas being zoned as protected forest. Therefore, we propose promoting agroforestry as part of land use policy in order to restore runoff to its 1999 level under existing land use planning policy.</p><p><strong>Abstrak.</strong> Perubahan guna lahan pada wilayah hulu diketahui sebagai salah satu penyebab peningkatan limpasan air permukaan, meningkatkan intensitas dan frekeuensi banjir. Urbanisasi pesat pada wilayah pinggiran kawasan metropolitan diketahui sebagai faktor pendorong terjadinya perubahan guna lahan. Berdasarkan kondisi tersebut, kami melakukan studi terhadap pola perubahan guna lahan pada Sub-DAS Cirasea, pada 20 tahun terakhir, serta perubahan limpasan air permukaan pada rentang waktu yang sama. Paper ini meneliti bagaimana perubahan guna lahan pada wilayah pinggiran Metropolitan Bandung Raya mempengaruhi limpasan air permukaan. Analisis spasial dan perhitungan limpasan air permukaan dilakukan, menggunakan metode bilangan kurva. Berdasarkan hasil studi, diketahui telah terjadi perubahan guna lahan yang signifikan pada wilayah hulu DAS. Hutan dan semak belukar berubah menjadi kawasan pertanian, pada wilayah resapan air tanah, sehingga terjadi peningkatan limpasan air permukaan di wilayah hulu. Urbanisasi pada wilayah Sub-DAS Cirasea diketahui tidak menjalar hingga wilayah resapan air tanah dan memiliki dampak minim terhadap kenaikan limpasan air permukaan. Angka koefisien limpasan air permukaan (bilangan kurva) di DAS Cirasea meningkat dari 70.98 (1999), menjadi 72.04 (2018). Pada curah hujan (asumsi) 24 jam sebesar 120mm, limpasan air permukaan meningkat dari 48.49mm (1999), menjadi 51.8mm (2018). Berdasarkan hasil tersebut, kami simpulkan bahwa perubahan guna lahan telah mengakibatkan peningkatan limpasan air permukaan di DAS Cirasea.  </p><p><strong>Kata kunci.</strong>Perubahan tata guna lahan, potensi aliran permukaan, DAS citarum hulu, pencegahan banjir.</p> 2021-01-02T00:00:00+07:00 Copyright (c) https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/14311 Planning Approach of Kebayoran New City of Jakarta: Background and Lessons Learned 2021-02-13T07:58:10+07:00 Erwin Fahmi erwin.fahmi@gmail.com <p>The planning of Kebayoran Baru in 1948 marked the end, and perhaps the peak, of the achievements of town planning in the Dutch East Indies. In this era, a different planning approach was applied than the one used today. This study examines that approach, the challenges it faced, and the lessons learned for current and future eras. Kebayoran Baru was meant to provide housing and office buildings in view of the expected economic growth of the colony, which had begun at the turn of the century. However, its construction was only done after World War II in the context of city reconstruction. The planning of Kebayoran Baru utilized the accumulation of knowledge concerning the principles, methods, and practice of town planning in the archipelago formulated in the third decade of the century. Instrumental to the planning of Kebayoran Baru were two prominent figures: H. Mohammad Soesilo and Thomas Karsten. Two of Karsten’s conceptual legacies that Soesilo applied in the planning of Kebayoran Baru, i.e. the concepts of ‘social mix’ and ‘organic whole’, were also relevant for post-independence Indonesia (to be).</p> <p> </p> <p><strong>Abstrak.</strong> Perencanaan Kebayoran Baru pada tahun 1948 menandai akhir, dan mungkin puncak, dari pencapaian tata kota di Hindia Belanda. Di era ini, pendekatan perencanaan yang diterapkan berbeda dari yang digunakan dahulu. Studi ini mengkaji pendekatan tersebut, tantangan yang dihadapinya, dan pembelajaran untuk era saat ini dan masa depan. Sejak pergantian abad, Kebayoran Baru dimaksudkan untuk menyediakan perumahan dan gedung perkantoran demi mengakomodasi pertumbuhan ekonomi koloni. Walaupun demikian, pembangunan tersebut dilakukan setelah Perang Dunia II dalam rangka rekonstruksi kota. Perencanaan Kebayoran Baru memanfaatkan akumulasi pengetahuan tentang prinsip, metode dan praktik tata kota di Nusantara yang dirumuskan pada dekade ketiga abad ini. Sosok di balik perencanaan Kebayoran Baru adalah dua tokoh penting: H. Mohammad Soesilo dan Thomas Karsten. Dua warisan konseptual Karsten yang diterapkan Soesilo dalam perencanaan Kebayoran Baru, yakni konsep 'campuran sosial' dan 'keseluruhan organik', juga relevan bagi Indonesia pasca kemerdekaan.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>. Kebayoran Baru, pendekatan perencanaan, H. Mohammad Soesilo, Thomas Karsten</p> 2021-04-08T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Journal of Regional and City Planning https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/14627 Rethinking inclusive city development amid COVID-19: the Indonesia context 2020-12-18T02:20:05+07:00 Giska Raissa giska.raissa@calvin.ac.id Filia Christy filia.christy@calvin.ac.id Sandhy Sihotang sandhy.sihotang@calvin.ac.id Karen Wijaya karen.wijaya@calvin.ac.id <p>Currently, cities all over the world are experiencing pressures caused by the COVID-19 pandemic, including cities in Indonesia. Studies show that the number of poor has been increasing since the spread of COVID-19, mostly in urban areas. Recent news indicates that the pandemic has the potential to add millions of new urban poor due to the threat of future layoffs faced by low-income people. The current condition in Indonesia’s urban areas indicates exclusion of the urban poor, which underlines the need for inclusive city development. Indeed, this crisis exposes the exclusion of vulnerable people, reveals deep inequalities in society and exacerbates the existing inequality among the Indonesian population. Because of the ongoing disruptions that arise in urban areas, the COVID-19 pandemic offers the opportunity to rethink the importance of inclusive city development so that they may become thriving cities for all. Besides, this study also argues that only inclusive cities can grow and thrive under all circumstances and future challenges. This paper discusses how to transform challenges amid COVID-19 to opportunities that can promote inclusive city development.</p> <p> </p> <p><strong>Abstrak</strong>. Saat ini, kota-kota di seluruh dunia sedang mengalami tekanan akibat pandemi COVID-19, termasuk kota-kota di Indonesia. Studi menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin terus meningkat sejak penyebaran COVID-19 yang umumnya terjadi di wilayah perkotaan. Berita terbaru menunjukkan bahwa pandemi berpotensi menambah jutaan orang miskin baru di perkotaan akibat ancaman PHK di masa depan yang dihadapi oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Kondisi perkotaan di Indonesia saat ini menunjukkan eksklusi dari kaum miskin kota, yang menggarisbawahi perlunya pembangunan kota yang inklusif. Memang, krisis ini mengekspos pengucilan orang-orang yang rentan, mengungkapkan ketidaksetaraan yang dalam di masyarakat dan memperburuk ketimpangan yang ada di antara penduduk Indonesia. Karena gangguan yang terus menerus muncul di perkotaan, pandemi COVID-19 menawarkan kesempatan untuk memikirkan kembali pentingnya pembangunan kota yang inklusif sehingga dapat menjadi kota yang berkembang untuk semua. Selain itu, studi ini juga berkesimpulan bahwa hanya kota inklusif yang dapat tumbuh dan berkembang dalam segala situasi dan tantangan di masa depan. Makalah ini membahas bagaimana mengubah tantangan di tengah COVID-19 menjadi peluang yang dapat mendorong pembangunan kota yang inklusif.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>. kota inklusif, pengembangan kota, COVID-19, Indonesia.</p> 2021-04-10T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Journal of Regional and City Planning https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/13856 Urban Sustainability and Resilience Governance: Review from The Perspective of Climate Change Adaptation And Disaster Risk Reduction 2021-03-11T16:32:20+07:00 Novi Maulida Ni'mah novimaulida@itny.ac.id Muhammad Sani Roychansyah saniroy@ugm.ac.id Bambang Hari Wibisono wibisono@ugm.ac.id <p class="Abstrak">The imperative of ‘making cities resilient and sustainable’ necessitates cities to develop adaptation concepts and practices in response to the uncertainty, rapid change, and complexity of urban areas. A new concept of governance that can answer the challenges of contemporary urban development and ensure long-term sustainable development is required. This study aimed to identify the general framework of adaptive urban governance by review, elaboration, and analysis of documents, in this case, scientific articles that discuss urban governance specifically related to climate change adaptation (CCA) and disaster risk reduction (DRR). The results of this study include an overview of governance approaches appearing in the literature on CCA and DRR, which was parsed down to the adaptive and anticipatory approaches. Adaptive governance requires the principle of flexibility applied in the management cycle in policy formulation, while anticipatory governance requires the principle of proactivity with the application of future foresight in policy formulation. The dimension of governance consists of process/mechanism (risk management) and capacity (technical, institutional, financial, and human capacity). Some challenges in building good governance based on an adaptive approach are encouraging community involvement, increasing local government capacities, and building integration between actors, networks, and collaborations.</p> <p class="Abstrak"> </p> <p><strong>Abstrak</strong>. Dalam menjadikan suatu kota tangguh dan berkelanjutan, kota diharuskan untuk mengembangkan konsep dan praktik adaptasi dalam menanggapi ketidakpastian, perubahan yang cepat, dan kompleksitas kawasan perkotaan. Diperlukan konsep tata kelola baru yang dapat menjawab tantangan pembangunan perkotaan kontemporer dan memastikan pembangunan berkelanjutan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerangka umum tata kelola kota adaptif dengan metode review, elaborasi, dan analisis dokumen, dalam hal ini artikel ilmiah yang membahas tentang tata kelola kota secara khusus terkait dengan adaptasi perubahan iklim (CCA) dan pengurangan risiko bencana (PRB). Hasil penelitian ini meliputi gambaran pendekatan tata kelola yang muncul dalam literatur CCA dan PRB, yang diuraikan menjadi pendekatan adaptif dan antisipatif. Tata kelola adaptif membutuhkan prinsip fleksibilitas yang diterapkan dalam siklus pengelolaan dalam perumusan kebijakan, sedangkan tata kelola antisipatif membutuhkan prinsip proaktif dengan penerapan pandangan jauh ke depan dalam perumusan kebijakan. Dimensi tata kelola terdiri dari proses / mekanisme (manajemen risiko) dan kapasitas (teknis, kelembagaan, keuangan, dan kapasitas manusia). Beberapa tantangan dalam membangun tata kelola pemerintahan yang baik berdasarkan pendekatan adaptif adalah mendorong keterlibatan masyarakat, meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, dan membangun integrasi antar aktor, jaringan, dan kolaborasi.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>: <em>pendekatan tata kelola; tata kelola kota; pembangunan berkelanjutan; ketahanan; kerangka konseptual.</em></p> 2021-04-11T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Journal of Regional and City Planning