https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/issue/feed Jurnal Teknik Sipil 2024-06-03T09:50:43+07:00 Prof. Dr. Bambang Sugeng S., DEA. jtsitb@gmail.com Open Journal Systems <div style="text-align: justify;"><a href="https://journals.itb.ac.id/index.php/jts" target="_blank" rel="noopener"><strong>Jurnal Teknik Sipil</strong> is a scientific journal published periodically every three months on <strong>April, August</strong> and <strong>December.</strong></a></div> <div> </div> <div style="text-align: justify;">Jurnal Teknik Sipil was published for the first time in 1990 with a mission as a pioneer in the scientific research publication of Civil Engineering in Indonesia.</div> <div> </div> <div style="text-align: justify;">As a national media, Jurnal Teknik Sipil is expected to accommodate the need for a media to disseminate information and latest publication for researchers and practitioners of Civil Engineering in Indonesia. In its development, Jurnal Teknik Sipil has been accredited based on the decision <a href="https://lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/sites/55/2021/12/Surat-pemberitahuan-hasil-akreditasi-elektronik-periode-I-tahun-2017.pdf">letter of Directorate General of Research and Development Strengthening, Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia, no. : 32a/E/KPT/2017</a>, dated 26 April 2017 as a national scientific journal since 1996 and is currently has been re-accredited on April 2017.</div> <div> </div> <div style="text-align: justify;">With this achievement, Jurnal Teknik Sipil has been established as a media with high quality. Until now the Jurnal Teknik Sipil still an process to maintain its quality scientific publishing only the latest research results in the domain of Civil Engineering.</div> <div> </div> <div><strong><a href="https://get.google.com/albumarchive/107091118610478581121/album/AF1QipN2Jn_OA8Or2Y6sbVxIx4GnuI0V4nRlxqaTq1R0?authKey=CJLBweWC8JnEBA">SK Accreditation</a></strong></div> <div><a href="https://get.google.com/albumarchive/107091118610478581121/album/AF1QipN2Jn_OA8Or2Y6sbVxIx4GnuI0V4nRlxqaTq1R0/AF1QipMpjtWXq4hMFMZ7UdatlHqdRLBEF6BvnBz224o3?authKey=CJLBweWC8JnEBA"><img src="http://167.205.57.68/public/site/images/admin_jts/Sertifikat_JTS001.jpg_btl_.jpg" alt="" /></a><strong>ISSN</strong> 0853-2982 since 29/05/2007</div> <div><strong>E-ISSN</strong> 2549-2659 since 26/10/2016</div> <div> </div> <div><strong><span style="text-decoration: underline;">Publication History</span></strong></div> <div>Last edition journal : <a href="https://ftsl.itb.ac.id/jurnal-teknik-sipil/">https://ftsl.itb.ac.id/jurnal-teknik-sipil/</a></div> <div> </div> <div><strong>Indexing</strong> : <a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=7y8sI58AAAAJ&amp;hl=id">Google Scholar</a> | <a href="https://doaj.org/toc/2549-2659?source=%7B%22query%22%3A%7B%22filtered%22%3A%7B%22filter%22%3A%7B%22bool%22%3A%7B%22must%22%3A%5B%7B%22term%22%3A%7B%22index.issn.exact%22%3A%222549-2659%22%7D%7D%2C%7B%22term%22%3A%7B%22_type%22%3A%22article%22%7D%7D%5D%7D%7D%2C%22query%22%3A%7B%22match_all%22%3A%7B%7D%7D%7D%7D%2C%22from%22%3A0%2C%22size%22%3A100%7D">Directory of Open Access Journals (DOAJ)</a> | <a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/9165">Indonesian Publication Index (IPI)/Portal Garuda</a> | <a href="https://www.doi.org/index.html">Digital Object Identifier (DOI)</a> | <a href="https://search.crossref.org/?q=jurnal+teknik+sipil">Crossref</a> |<a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/detail?id=945">Science and Technology Index (SINTA) </a>| Indonesian Scientific Journal Database (ISJD)</div> <div> </div> <div><strong><a href="https://statcounter.com/p11256474/summary/?guest=1" target="_blank" rel="noopener">View My Stats</a></strong></div> <div><a href="https://scholar.google.co.id/citations?user=7y8sI58AAAAJ&amp;hl=id"><strong><img src="http://167.205.57.68/public/site/images/admin_jts/google_scholar.jpg" alt="" /></strong></a> <a title="hit counter" href="https://statcounter.com/p11256474/summary/?guest=1" target="_blank" rel="noopener"><img src="http://c.statcounter.com/11256474/0/04439389/0/" alt="hit counter" /></a></div> <div> </div> <div><a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by-nd/4.0/88x31.png" alt="Lisensi Creative Commons" /></a></div> <div>This work is licensed under a <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nd/4.0/" target="_blank" rel="noopener">Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License</a></div> <div> </div> https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/23377 Pengembangan Sistem Sambungan Seismik dengan Mekanisme Kuncian yang Dapat Diganti pada Sistem Rangka Baja Pemikul Momen 2024-05-08T09:34:21+07:00 Jurnal Teknik Sipil jts@si.itb.ac.id Prima Sukma Yuana prima.s.yuana@gmail.com Muslinang Moestopo mmoestopo@gmail.com Dyah Kusumastuti dkusumastuti@gmail.com Made Suarjana mdsuarjana@yahoo.com <p>Abstrak</p> <p>Dua pendekatan dalam desain sambungan tahan gempa telah digunakan sejauh ini. Pertama memanfaatkan balok sebagai sekering, berikutnya adalah melibatkan elemen tambahan sebagai sekering. Tuntutan untuk struktur berkelanjutan, membuat sistem struktur harus mudah dan cepat diperbaiki setelah gempa bumi. Sudah banyak dikembangkan penggunaan elemen tambahan pada komponen sambungan sebagai sekering. Beberapa mekanisme sambungan masih bisa dikembangkan lebih lanjut, salah satunya adalah sistem kuncian. Namun dari keseluruhan penelitian, mekanisme disipasi energi masih dipusatkan pada elemen balok yang dimodifikasi dengan kuncian. Kebaruan dan orisinalitas penelitian ini adalah mengembangkan sistem sambungan dengan kuncian sebagai sekering yang dapat diganti. Model yang diusulkan menunjukkan perilaku seismik yang cukup baik. Sambungan berhasil diatur sehingga kegagalan hanya terjadi pada elemen sekering, elemen balok dan kolom masih pada rentang elastis. Penelitian dilakukan dengan membuat model numerik menggunakan program berbasis elemen hingga Abaqus/Standard. Evaluasi dilakukan pada sistem sambungan berdasarkan kriteria dalam AISC 341 menggunakan pola pembebanan monotonik dan siklik. Parameter yang dianalisis antara lain pola keruntuhan sambungan, kemampuan deformasi, perilaku histeresis beban vs perpindahan, karakteristik kekuatan, karakteristik kekakuan, dan kapasitas disipasi energi. Penyerapan energi pada elemen kuncian berhasil membuat kerusakan hanya terpusat pada elemen sekering, sehingga sesuai dengan keunggulan utama dari sistem ini yaitu kemudahan dalam penggantian elemen sekering yang rusak akibat gempa.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Sambungan, balok-kolom, sekering, </em><em>kuncian</em><em>, penyerapan energi</em></p> <p>Abstract</p> <p>Two approaches in earthquake-resistant steel beam-column joints have been utilized, one involves using the beam as a fuse, while the other involves additional members as sacrificial elements. The current demand for sustainable structures requires systems that must be easily and quickly repaired after an earthquake. Various types of connections have been developed. Several connection mechanisms can still be developed further, interlock mechanism is one of them. However, from the entire research, the energy dissipation mechanism is still focused on beam elements modified with interlocking. The novelty and originality of this research is to develop a connection system with an interlock as a replaceable fuse element. The proposed model shows quite good seismic behavior. The connection was successfully arranged so that failure only occurred in the fuse element, the beam and column elements were still in the elastic range. The research was carried out by creating a numerical model using the Abaqus/Standard and the evaluation based on the criteria in AISC 341 using monotonic and cyclic loading. The parameters analyzed included connection failure patterns, deformation capability, load vs displacement hysteresis behavior, strength characteristics, stiffness characteristics, and energy dissipation capacity.</p> <p>Keywords: <em>C</em><em>onnection, joint, beam-column, fuse, interlock, replaceable, energy dissipation</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/21850 Studi Perbandingan Analisis Statik dan Dinamik pada Girder Kereta Cepat 2024-05-14T08:58:01+07:00 Erwin Lim erwinlim@itb.ac.id Bob Zirads bobzirads@gmail.com Dyah Kusumastuti dkusumastuti@gmail.com Herlien D. Setio setioherlien@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Faktor perbesaran dinamis (dynamic amplification factor – DMF) lazim digunakan oleh perencana untuk memperbesar respons struktur (gaya dalam, perpindahan) yang didapatkan dari analisi statis untuk mengakomodasi efek dinamis dari laju kendaraan. Di dalam beberapa Code, faktor amplifikasi dinamis cenderung berupa rumus empiris yang tergantung pada bentangan struktur, bukan pada laju kendaraan. Studi ini hendak mengevaluasi berapa faktor amplifikasi dinamis yang mungkin terjadi pada momen lentur dan lendutan girder kereta apabila laju kendaraan divariasikan dari 100 km/jam s.d. 550 km/jam. Pemodelan dan analisis didasarkan pada girder tipikal untuk kereta cepat untuk bentang 32,6 m dengan menggunakan software metode elemen hingga. Hasil analisis software pertama-tama diverifikasi dengan solusi eksak dari persamaan gerak dinamik untuk beban terpusat berjalan (moving load), kemudian dilanjutkan dengan analisis terhadap beban kereta cepat CR400AF. Perbandingan antara respons dinamis dan statis (faktor amplifikasi dinamis) yang direkomendasikan oleh Code cenderung konservatif untuk laju kendaraan rencana 350 km/jam. </p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Respon dinamik, beban bergerak, kereta cepat, jembatan box girder, time history analysis.</em></p> <p>Abstract</p> <p>Dynamic amplification factor is commonly used by design engineers to amplify structural response (bending moment, deflection) obtained from static analysis to accommodate dynamic effect resulted from vehicle’s speed. In some design codes, this dynamic amplification factor is an empirical equation which is simply a parameter of girder length, not of speed. This study evaluates the possible amplification factor which migh occur when the speed is varied from 100 km/hour to 550 km/hour. The modeling and analysis is based on a typical girder for high speed train with girder length 32,6 m using finite element software. The results of software was firstly verified against exact solution of an equation of motion due to single concentrated moving load. Then, an analysis due to a high speed train CR400AF was carried out. The comparison between dynamic and static response (indicated by the dynamic amplification factor), be it maximum bending moment or mid span deflection, recommended by the design code tends to be conservative for operational speed of 350km/hour.</p> <p>Keywords: <em>A</em><em>nalisis dinamis, analisis statis, faktor amplifikasi dinamik, kereta cepat, respons struktur.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/22768 Pengaruh Nilai Rasio Strong Column-Weak Beam (SCWB) terhadap Kinerja Struktur Gedung Beton Bertulang 5 dan 15 Lantai 2024-03-20T14:14:33+07:00 Misbahuddin misbahuddin.mbh@gmail.com Frisca 25022025@mahasiswa.itb.ac.id Gita Yonanda 25022041@mahasiswa.itb.ac.id Vinsensia Sherin Kurnia 25022035@mahasiswa.itb.ac.id <p>Abstrak</p> <p>Bangunan tahan gempa adalah bangunan yang didesain untuk dapat menerima beban gempa dan tidak mengalami keruntuhan dan dapat digunakan kembali setelah terjadinya gempa bumi. Salah satu penyebab terjadinya keruntuhan pada bangunan gedung adalah terjadinya mekanisme kerusakan lantai lunak. Kerusakan lantai lunak dihindari dengan menerapkan sistem Strong Column – Weak Beam pada struktur dengan nilai rasio SCWB minimal dalam peraturan adalah 1.2. Namun, penelitian menunjukkan terdapat bangunan yang telah memenuhi persyaratan SCWB akan tetapi mengalami mekanisme kegagalan SBWC. Selain itu, dalam penelitian lainnya, nilai SCWB 1.2 dinilai hanya efektif pada bangunan bertingkat rendah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilakukan perbandingan kinerja struktur dengan perbedaan jumlah lantai serta dengan perbedaan nilai rasio SCWB. Gedung beton bertulang 5 lantai dan 15 lantai dimodelkan dengan denah dan dimensi tipikal antar model dengan rasio SCWB adalah 1.2, 1.5 dan 2. Peningkatan nilai SCWB dilakukan dengan memvariasikan tulangan longitudinal dari balok dan kolom tanpa melakukan perubahan dimensi. Perbandingan kinerja struktur dilakukan dengan analisis NSP untuk melihat sendi plastis, kurva kapasitas struktur serta titik performa struktur. Dari hasil analisis didapatkan bahwa semakin besar rasio SCWB maka akan semakin baik kinerja struktur tersebut akibat dari pembentukan sendi plastis yang lebih banyak terjadi pada balok.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Beton bertulang, Strong Column – Weak Beam</em></p> <p>Abstract</p> <p>Earthquake resistant buildings are designed to be able to withstand earthquake loads and not collapse and can be used again after an earthquake occurs. One of the causes of collapse in buildings is the soft story damage mechanism. Soft story damage is avoided by applying the Strong Column – Weak Beam system to structures with a minimum SCWB ratio value in the codes is 1.2. However, research shows that there are buildings that meet the SCWB requirements but experience a SBWC failure mechanism. In addition, in other studies, the SCWB value of 1.2 was considered effective only in low-rise buildings. Therefore, in this study a comparison of structural performance with differences in the number of floors and with differences in SCWB ratio values will be carried out. A 5-storey and 15-storey reinforced concrete building is modeled with plans and typical dimensions between models with SCWB ratios of 1.2, 1.5 and 2. Increasing SCWB values is done by varying the longitudinal reinforcement of beams and columns without changing dimensions. Structural performance comparisons were made using NSP analysis to see plastic hinges, structural capacity curves and structural performance points. From the results of the analysis it was found that the greater the SCWB ratio, the better the performance of the structure due to the formation of plastic hinges which are more common in beams.</p> <p>Keywords: <em>Reinforced concrete structure, Strong Column – Weak Beam</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/21646 PentaPod1: Armor Beton Jenis Baru untuk Perlindungan Pantai dan Sungai dan Aplikasinya dalam Konstruksi Check Dam PentaPod 2024-03-14T13:03:37+07:00 Dantje Kardana Natakusumah dknpub@gmail.com Hendra Achiari achiarihendra@gmail.com Eka Oktariyanto Nugroho nugrohoeka@itb.ac.id Fitra Adinata fitra240484@gmail.com Syarif Hidayatulloh syarif.cmh@gmail.com Jonathan Angelo Ishakputra jonathanangelo82@gmail.com Danis Aryo Bronto danis@dabestconsultant.com Kiromi Syabhan kiromisyabhan@pu.go.id <p>Abstrak</p> <p>Check dam, yang dikenal sebagai bendungan kecil atau bendung pengendali sedimen, adalah struktur yang dibangun melintang aliran air, seperti sungai atau saluran drainase, dengan tujuan utama untuk mengendalikan aliran air dan mengurangi kecepatannya. Umumnya dibuat dari pasangan batu atau beton, namun penelitian ini menggunakan checkdam yang terbuat dari pentapod. Check Dam PentaPod yang terbuat dari PentaPod menawarkan solusi armor beton inovatif dengan fitur interkonektivitas, dirancang khusus untuk mengurangi kecepatan air dan secara efektif mencegah erosi dan degradasi dasar sungai. Dengan bentuk lintas seksional yang kompak, struktur ini ditempatkan secara strategis di sungai guna memperlambat aliran air dan meningkatkan stabilitas struktural terhadap gaya dinamis arus sungai. Uji model hidraulik Check Dam PentaPod yang dilakukan oleh Laboratorium Sungai dan Sedimentasi ITB bertujuan mensimulasikan berbagai kondisi hidrodinamik untuk mengevaluasi efektivitas dan kinerja struktur dalam menjaga integritas dan stabilitas di bawah beragam kondisi aliran dan tinggi air. Langkah ini penting untuk memastikan kemampuan Check Dam PentaPod dalam mengontrol degradasi dasar sungai dan menjaga stabilitas tepi sungai secara efektif.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>PentaPod, armor beton baru, check dam, perlindungan alur sungai. </em></p> <p>Abstract</p> <p>Check dams, also known as small dams or sediment control dams, are structures built across waterways like rivers or drainage channels. Their primary purpose is to regulate water flow and reduce its velocity. Traditionally constructed from stone or concrete, this research explores check dams made from a novel material: PentaPods. The PentaPod Check Dam utilizes prefabricated PentaPod concrete units with interlocking features. This innovative armor solution is specifically designed to decrease water velocity and effectively prevent erosion and riverbed degradation. Due to its compact cross-sectional form, the structure can be strategically placed in rivers to slow down water flow and enhance its structural stability against the dynamic forces of river currents.Hydraulic model testing of the PentaPod Check Dam, conducted by the ITB River and Sedimentation Laboratory, aims to simulate various hydrodynamic conditions. This evaluation process assesses the structure's effectiveness and performance in maintaining integrity and stability under diverse flow rates and water levels. These tests are crucial for ensuring the PentaPod Check Dam's ability to effectively control riverbed degradation and safeguard the stability of riverbanks.</p> <p> Keywords: <em>PentaPod, new concrete armor, check dam, river channel protection.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/23074 Pengaruh Penggunaan Aspal Modifikasi Nano Zeolit terhadap Karakteristik Marshall Campuran Beraspal Panas HRS-WC 2024-05-13T14:32:07+07:00 Jurnal Teknik Sipil jts@si.itb.ac.id Eva Wahyu Indriyati indriyati.eva@gmail.com Bambang Sugeng Subagio 0205Bbsugengs@gmail.com Harmein Rahman rahmanharmein@gmail.com Sony Sulaksono Wibowo sonyssw@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Penggunaan material nano merupakan metode perbaikan sifat aspal yang sedang banyak dikembangkan saat ini. Material nano memiliki sifat fisik, kimia dan biologi yang berbeda dengan sifat aslinya, serta menunjukkan sensitifitas terhadap temperatur tinggi, daktilitas tinggi, dan luas permukaan yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan aspal modifikasi nano zeolit terhadap karakteristik marshall campuran beraspal panas HRS-WC. Material nano zeolite yang digunakan pada penelitian ini disintesis dari zeolit alam dari deposit Gunungkidul, Jawa Tengah. Sedangkan aspal yang digunakan adalah aspal pen 60/70 produksi Pertamina. Aspal ini kemudian dimodifikasi dengan menambahkan material nano zeolit ke dalam aspal pen 60/70 dengan variasi kadar penambagan nano zeolit sebesar 0,1%, 0,2% dan 0,3%. Penggunaan aspal modifikasi nano zeolit sebagai material pengikat pada campuran beraspal panas HRS-WC dapat menurunkan nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) jika dibandingkan dengan campuran beraspal panas HRS-WC menggunakan aspal pen 60/70. Selain itu, penggunaan aspal modifikasi nano zeolit dapat meningkatkan nilai stabilitas, kepadatan, dan VFA. Sedangkan nilai VIM dan VMA mengalami penurunan pada campuran beraspal panas HRS-WC menggunakan aspal modifikasi nano zeolit. Dari tinjauan nilai flow dan MQ, penggunaan aspal modifikasi nano zeolit menghasilkan campuran yang memiliki kekakuan lebih besar dibandingkan campuran beraspal panas HRS-WC menggunakan aspal pen 60/70.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Campuran beraspal panas, karakteristik Marshall, material nano, zeolit alam.</em></p> <p>Abstract</p> <p>Nano materials are currently being widely used to modify asphalt. Nanomaterials have physical, chemical and biological properties that are different from their original properties, and show sensitivity to high temperatures, high ductility and large surface areas. This research aims to determine the effect of using nano zeolite modified asphalt on the marshall characteristics of HRS-WC hot mix asphalt. The nano zeolite material used in this research was synthesized from natural zeolite from Gunungkidul, Central Java. Meanwhile, the asphalt used is asphalt pen 60/70 produced by Pertamina. This asphalt was then modified by adding nano zeolite material to asphalt pen 60/70 with varying percentages of nano zeolite addition of 0.1%, 0.2% and 0.3%. The use of nano zeolite modified asphalt as a binding material in the HRS-WC hot mix asphalt can reduce the Optimum Asphalt Content (OAC) compared to the HRS-WC hot mix asphalt using asphalt pen 60/70. In addition, the use of nano zeolite modified asphalt can increase the stability, density and VFA values. Meanwhile, the VIM and VMA values decreased in the HRS-WC hot mix asphalt using nano zeolite modified asphalt. From a review of the flow and MQ values, the use of nano zeolite modified asphalt produces a mixture that has greater stiffness than the HRS-WC hot asphalt mixture using asphalt pen 60/70.</p> <p>Keywords: <em>Asphalt mixure, Marshall characteristic, nano material, natural zeolite.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/23211 Kajian Stabilisasi Tanah dengan Semen dan Bahan Tambah sebagai Lapis Pondasi pada Perkerasan Jalan (Studi Kasus : Tanah dari Kawasan Ibu Kota Nusantara) 2024-03-20T14:37:36+07:00 Anglin Tana anglin.siona.tana@gmail.com Sony Sulaksono Wibowo sonyssw@gmail.com Harmein Rahman rahmanharmein@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Pembangunan IKN yang masif berdampak pada tingginya kebutuhan agregat sehingga harus disuplai dari luar pulau yang menyebabkan tingginya biaya konstruksi pembangunan jalan. Kajian ini menyelidiki pemanfaatan tanah lokal sebagai lapis pondasi untuk mengurangi kebutuhan agregat dan biaya konstruksi. Sampel tanah dari IKN diklasifikasikan sebagai Silty Sand, dengan kandungan butiran halus rendah, tingkat keasaman rendah, kadar sulfat rendah, dan bebas dari bahan organik, sehingga tanah ini layak untuk campuran tanah semen. Suatu campuran tanah semen yang digunakan sebagai lapis pondasi harus mencapai kuat tekan target (7 hari) 2400 kPa dan kehilangan berat di bawah 7%. Pengujian UCS dan Wetting-Drying digunakan untuk mengevaluasi parameter kekuatan dan durabilitas tersebut. Campuran tanah semen tidak selalu memberikan sifat-sifat campuran yang memadai sebagai lapis pondasi. Campuran tanah dengan 13% semen memenuhi persyaratan kekuatan, tetapi tidak memenuhi persyaratan durabilitas karena kehilangan beratnya yang tinggi (15,90%). Penambahan bahan tambah pada campuran tanah semen dapat memperbaiki kinerja campuran. Penambahan 1% bahan tambah pada campuran tanah semen, dapat menurunkan kehilangan berat hingga 57,45%. Campuran tanah dengan 13% semen dan 1% bahan tambah menghasilkan kuat tekan (7 hari) sebesar 2964,6 kPa dan kehilangan berat sebesar 6,77%, sehingga campuran ini memenuhi persyaratan kekuatan dan durabilitas sebagai lapis pondasi tanah semen (SCB).</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Kuat tekan, kehilangan berat, tanah semen, bahan tambah, lapis pondasi, perkerasan jalan, ibu kota nusantara.</em></p> <p>Abstract</p> <p>The massive development of Nusantara Capital City requires a large amount of aggregates, which must be transported from outside the island, increasing construction costs. This study investigates the use of local soil as a base layer to reduce aggregate demand and construction costs. Soil samples from the Nusantara Capital City area are classified as SM, with a high coarse fraction, low fines content (&lt;50%), low acidity, low sulfate content, and free of organic matter, making them suitable for soil-cement mixtures. A soil-cement mixture used as a base layer must achieve a target compressive strength (7 days) of 2400 kPa and a weight loss below 7%. UCS and Wetting-Drying tests were used to evaluate these strength and durability parameters. The soil-cement mixture without additives did not meet the durability requirement due to high weight loss (15.90%). Adding 1% admixture reduced the weight loss by 57.45%. The mixture with 13% cement and 1% admixture achieved a 7-day compressive strength of 2964.6 kPa and a weight loss of 6.77%, meeting the strength and durability requirements for soil-cement base (SCB).</p> <p>Keywords: <em>UCS, weight loss, soil cement, additive, base layer, pavement, nusantara capital city.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/21686 Kajian Implementasi Standar Protokol BIM Kementerian PUPR 2020 Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Universitas Nadhlatul Ulama (UNU) Yogyakarta 2024-03-14T14:16:48+07:00 Auditya Putra audityafp@gmail.com Eliza Puri eliza.puri@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Penerapan BIM di Indoensia perlu dianalisis dan dievaluasi agar dapat menciptakan penggunaan BIM yang lebih efektif dengan mengacu kepada standar protokol yang telah dibentuk oleh kementerian PUPR. Proyek yang ditinjau adalah proyek Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta yaitu proyek percobaan yang menerapkan BIM dengan pedoman Dokumen Protokol BIM Kementerian PUPR 2020. Penelitian yang dilakukan adalah menganalisis tingkat kepentingan dan tingkat kinerja faktor pelaksanaan BIM pada proyek untuk menentukan prioritas kebijakan dan evaluasi yang perlu dilakukan dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis. Selanjutnya, dilakukan juga analisis kesesuaian penerapan BIM pada proyek terhadap standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020. Dari 15 faktor penerapan yang ditinjau, kedua analisis tersebut memberikan hasil yaitu terdapat enam faktor yang pelaksanaannya sudah sesuai. Didapatkan juga hasil bahwa sejumlah faktor dievaluasi berlainan oleh tim pelaksana BIM antara sifat kuadran dan kesesuaiannya. Hal tersebut mengindikasikan adanya pemahaman terhadap standar protokol yang belum menyeluruh. Sehingga dibutuhkan adanya sosialisasi terkait dengan pelaksanaan BIM menurut standar protokol BIM Kementerian PUPR tahun 2020 oleh Kementerian PUPR untuk seluruh disiplin proyek.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Bangunan gedung, BIM, Evaluasi pelaksanaan, Industri konstruksi, Standar protokol, Teknologi informasi.</em></p> <p>Abstract</p> <p>The application of BIM in Indonesia needs to be analyzed and evaluated to create a more effective use of BIM with reference to standard protocols established by PUPR competition. The project under review is the Nahdlatul Ulama University project in Yogyakarta, which is a pilot project that implements BIM with the Ministry of PUPR's 2020 BIM Protocol Document guidelines. The research is conducted to analyze the level of Importance, and the performance factors for BIM implementation on projects that need to determine policy priorities and evaluations carried out using the Importance Performance Analysis method. Furthermore, the implementation of BIM for projects was also carried out against the Ministry of PUPR's 2020 BIM protocol standards. From 15 implementation factors reviewed, the two analyzes yielded results, six factors whose implementation was appropriate. The results also showed that several factors were evaluated differently by the BIM implementation team between the nature of the quadrants and their suitability. This indicates an understanding of standard protocols that is not comprehensive. So that there is a need for socialization related to the implementation of BIM according to the Ministry of PUPR's 2020 BIM protocol standards by the Ministry of PUPR for all project disciplines.</p> <p>Keywords: <em>BIM, Building, Construction industry, Implementation evaluation, Information technology, Protocol standards.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/19241 Modifed Seismic Response Coefficient (CS) for Designing Super High-Rise Buildings using Performance-Based Design Method 2024-04-30T14:28:45+07:00 Wirza Muharzaki Putri wirzamuharzaki98@gmail.com Indra Djati Sidi indradjati@gmail.com Bambang Boediono b.budiono1995@gmail.com Patria Kusumaningrum patz83@gmail.com <p>Abstract</p> <p>Performance-Based Design (PBD) method is widely used to design or evaluate super high-rise building against earthquake loads. The building is expected to present a certain level of performance set on FEMA 303 in response to ground motions, and should meet the target performance at Service Level Earthquake (SLE) and at Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCER). The performance level would be determined by using non-linear time history analysis and it requires non-linier parameter based on reinforcement of the structural elements. The common method proposed by Tall Building Initiative (TBI) requires the structural members are designed using response spectra at Service Level Earthquake (SLE). The problem is the ground motion and response spectra at Service Level Earthquake (SLE) are not always immediately available. In this paper, the modified seismic response coefficient (C<sub>S-M</sub>) is introduced in designing the structural members, as an initial step of Performance-Based Design (PBD), using the common response spectra of Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCE<sub>R</sub>) instead of Service Level Earthquake (SLE). The performance of buildings is evaluated at Service Level Earthquake (SLE) and Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCE<sub>R</sub>) to validate that design with modified seismic response coefficient (C<sub>S-M</sub>) is still in accordance with method by Tall Building Initiative (TBI).</p> <p>Keywords: <em>Modified Seismic Response Coefficient (C</em><em><sub>S-M</sub></em><em>), Performance-Based Design (PBD), Risk-Targeted </em><em>Maximum Considered Earthquake (MCE</em><em><sub>R</sub></em><em>), Service-Level Earthquake (SLE), Tall Building Initiative (TBI)</em><em>.</em></p> <p>Abstrak</p> <p>Metode Desain Berbasis Kinerja (PBD) banyak digunakan untuk merancang atau mengevaluasi bangunan super tinggi terhadap beban gempa bumi. Bangunan diharapkan dapat mencapai tingkat kinerja tertentu yang ditetapkan dalam FEMA 303 sebagai respons terhadap gerakan tanah, dan harus memenuhi kinerja target pada Service Level Earthquake (SLE) dan pada Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCE<sub>R</sub>). Tingkat kinerja akan ditentukan dengan menggunakan analisis riwayat waktu non-linier dan membutuhkan parameter non-linier berdasarkan penulangan elemen struktural. Metode umum yang diusulkan oleh Tall Building Initiative (TBI) mengharuskan komponen struktural dirancang menggunakan respons spektra pada Service Level Earthquake (SLE). Masalahnya adalah gerakan tanah dan respons spektra pada Service Level Earthquake (SLE) tidak selalu tersedia secara langsung. Dalam paper ini, diperkenalkan koefisien respons seismik yang dimodifikasi (C<sub>S-M</sub>) dalam merancang komponen struktural, sebagai langkah awal Desain Berbasis Kinerja (PBD), dengan menggunakan respons spektra umum dari Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCE<sub>R</sub>) sebagai ganti dari Service Level Earthquake (SLE). Kinerja bangunan dievaluasi pada kondisi Service Level Earthquake (SLE) dan Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (MCER) untuk memvalidasi bahwa desain dengan koefisien respons seismik yang dimodifikasi (C<sub>S-M</sub>) masih sesuai dengan metode yang diajukan oleh Tall Building Initiative (TBI).</p> <p>Kata kunci: <em>Koefisien Respons Seismik yang Dimodifikasi (C</em><em><sub>S-M</sub></em><em>), Desain Berbasis Kinerja (PBD), Risk-Targeted </em><em>Maximum Considered Earthquake (MCE</em><em><sub>R</sub></em><em>), Service-Level Earthquake (SLE), Tall Building Initiative (TBI)</em><em>.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/22578 Analysis of the Variability of Axial Bearing Capacity of Piles in Cohesionless Soil in the Development of Meyerhof Formula 2023-12-20T11:42:27+07:00 Sugeng Krisnanto sugeng_krisnanto@yahoo.com Merizka Putri Kabila merizkaputrikabila@gmail.com Moch. Darril Amiruddin moch.darril@hutamakarya.com Septian Wijayadi septian.wijayadi@hutamakarya.com Feby Adryan febyadryansitorus@gmail.com Ikrimah Ikrimah ikrimah@hkinfrastruktur.com <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Rumus daya dukung pondasi tiang dari Meyerhof (1976) banyak digunakan di Indonesia. Sangat penting untuk mengkuantifikasi variabilitas dalam perancangan. Ini juga berarti sangat penting untuk mengkuantifikasi variabilitas daya dukung aksial tiang terhadap nilai N-SPT dalam rumus yang banyang digunakan seperti rumus Meyerhof (1976). Analisis untuk mengkuantifikasi variabilitas yang terkandung dalam rumus daya dukung aksial Meyerhof (1976) dilakukan dalam makalah ini. Dalam analisis, digunakan data dalam publikasi Meyerhof (1976). Hubungan antara probabilitas kegagalan dan faktor keamanan untuk rumus daya dukung formula dikuantifikasi. Dari studi ini didapatkan bahwa faktor keamanan untuk rumus daya dukung aksial ujung &nbsp;tiang adalah sebesar 1,54, 2,17, dan 1,35 untuk pondasi tiang pancang pada tanah pasir, pondasi tiang pancang pada lanau, dan pondasi tiang bor. Juga didapatkan bahwa faktor keamanan untuk rumus daya dukung aksial selimut &nbsp;tiang adalah sebesar 1,54 untuk tiang pancang di tanah pasir dan lanau, dan 1,14 untuk tiang bor.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata-kata Kunci: </strong><em>Daya dukung aksial tiang, Rumus Meyerhof (1976), Probabilitas kegagalan, Faktor keamanan, Variabilitas daya dukung aksial tiang.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p><em>Meyerhof (1976) formula for calculation of pile axial bearing capacity is quite familiar in Indonesia</em><em>. It is essential to quantify the variability of soil in a design. This also means, it is essential to quantify the variability of axial pile bearing capacity versus N-SPT inherited in a commonly used formula like Meyerhof (1976) formula. An analysis to quantify the variability inherited in Meyerhof (1976) formula for calculation of pile axial bearing capacity was performed. The data in the publication of Meyerhof (1976) are used in the analysis. The relation between the probability of failure for pile and the factor of safety in terms of the axial bearing capacity formula was quantified. It was found that the factors of safety for formula of unit pile tip bearing capacity are 1.54, 2.17, and 1.35 for driven pile in sand, driven pile in silt, and bored pile in sand, respectively. Also, it was found that the factors of safety for formula of unit pile shaft bearing capacity are 1.54 and 1.14 for driven pile in sand and silt and bored pile in sand, respectively.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords: </strong><em>Axial pile bearing capacity, Meyerhof (1976) formula, Probability of failure, Factor of Safety, Variability of axial pile bearing capacity.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/19622 How Drinking Water Supply PPPs Last After 25 Years (1998 – 2023). Does It Work? 2024-03-13T14:16:32+07:00 NICCO PLAMONIA nicco.plamonia@brin.go.id Krishna Suryanto kspribadi@itb.ac.id <p>Abstract</p> <p>The PPP/BOT is a product of institutional arrangement. Institutional arrangements related to increasing the coverage of piping water systems are challenged by the socio-technical complexity of the drinking water provision system. The Institutional Development Framework provides opportunities to learn how the institution capable of delivering the precondition of the actor interacts at the preparation level. The operation started from January 1998 to December 2022, departed from 32.69% coverage, and reached only 61% of the target of 95% after 25 years. As a result, the cases confirmed that there could be vast differences between rules in form and rules in use or that the quality of preparation affects the financial and system performances. The more compliance of the collective choice to the constitutional rules that comply with the International Best Practice showed, the better the performances of the PPP/BOT proved.</p> <p>Keywords: <em>Contracting, financial performances, institution, PPP/BOT, system performances</em></p> <p>Abstract</p> <p>Kerjasama Pemerintah dan Swasta dengan skema Bangun Guna Serah (PPP/BOT) adalah produk institusi. Proses aransemen institusi yang dihadapkan dengan komplesitas sosio-teknis dalam penyediaan air minum perpipaan. The Institutional Development Framework (IAD) membuka peluang untuk mempelajari bagaimana institusi mampu menjadi prakondisi bagi actor yang berinteraksi pada saat penyiapan PPP/BOT. PPP/BOT di Jakarta berjalan mulai pada Januari 1998 dan berakhir pada Desember 2022. PPP/BOT dimulai dengan cakupan 32,69% dan berakhir setelah 25 tahun dengan hanya mencapai 61%, padahal target awal PPP/Bot pada tahun 1998 adalah mencapai target 95% selama 25 tahun kerjasama. Situasi ini menunjukkan ada disparitas signifikan antara kontrak kerjasama yang disepakati dengan implementasi. Focus penelitian menyoroti bagaimana kualitas persiapan memengaruhi kinerja keuangan dan sistem. Kepatuhan actor yang berinteraksi (pilihan kolektif) terhadap peraturan yang baik dan sesuai dengan best practice internasional, berkorelasi sngat erat dengan peningkatan kinerja PPP/BOT.</p> <p>Keywords: <em>Kontrak, kinerja keuangan, institusi, PPP/BOT, kinerja sistem.</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/18960 Kontrol Deformasi Berlebih akibat Beban Gempa pada Struktur Gedung Bertingkat dengan Penambahan Curved Damper pada Bangunan 2024-05-06T10:38:51+07:00 Alfinna Mahya Ummati alfinna.ummati@si.itera.ac.id Andrew Putra Hasundungan andrewputra95@gmail.com <p>Abstrak</p> <p>Pada tahun 2017, Hsu dkk memperkenalkan peran curved damper untuk mengurangi deformasi pada struktur portal penahan momen dengan beban siklik, curved damper dapat meningkatkan performa struktur yang bergantung pada Panjang dan sudut lengkung kurva damper. Terinspirasi dari model ini, penelitian ini mempelajari tentang peran dari curved damper jika diaplikasikan pada struktur bangunan bertingkat dengan beban gempa yang pernah terjadi. Curved damper yang diasumsikan dengan multilinear link element ditempatkan pada setiap sudut kerangka bangunan pada setiap lantai, deformasi yang terjadi dibandingkan baik sebelum dan setelah terpasangnya curved damper. Sebanyak lima titik ditinjau untuk mengamati perubahan deformasi yang terjadi dan penelitian yang dilaksanakan telah menunjukkan bahwa curved damper dapat menurunkan deformasi struktur hingga 63% akibat beban gempa yang telah dinormalisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa curved damper dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam rangka pembangunan struktur resilien terhadap gempa. Penelitian ini merupakan penelitian awal untuk selanjutnya curved damper disimulasikan dengan curved frame pada struktur.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Bangunan, curved damper, deformasi, gempa, link element</em></p> <p>Abstract</p> <p>The previous study proposed the role of curved damper to reduce deformation of the moment resisting frame subjected to the cyclic load, curved damper able to improve the structure performance regarding the length and arc angle. Inspired by this model, this research studied about the role of curved damper if it applied to the real structure with the real seismic loading. Curved damper which assumed as multilinear link element placed on the corner of the frame of each story then compared before and after the damper existing. 5 locations point out to observed the structure deformation and it was shown that the curved damper capable in reducing the deformation subjecting the normalized earthquake loading up to 63%. This research shows that curved damper is considerable to use in order to build the earthquake resilient building. This simplified modelling of the curved damper as the preliminary analysis for the curved geometry of the curved damper for further research.</p> <p>Keywords: <em>Building, curved damper, deformation, earthquake, link element</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil https://journals.itb.ac.id/index.php/jts/article/view/18543 Beban Vertikal Gelombang pada Deck Dermaga di Pelabuhan Marore, Provinsi Sulawesi Utara 2024-05-13T15:20:49+07:00 Paulus Sidabalok paul.sidabalok@gmail.com Rildova Rildova rildova@ocean.itb.ac.id <p>Abstrak</p> <p>Sejumlah literatur menawarkan formulasi untuk memprediksi beban vertikal gelombang pada dermaga, namun terdapat rentang perbedaan hasil yang mengakibatkan tingkat kepercayaan yang berbeda (McConnell, Kirsty, William Allsop, and Ian Cruickshank, 2004). Pada studi ini, simulasi dilakukan dengan model numerik menggunakan ANSYS Fluent 17.2 Academic Release dengan modul Volume of Fluid (VOF), model turbulensi SST k-ω, dan solver PISO. Keluaran model ini berupa seri waktu tekanan total rata-rata pada sisi yang dipilih. Pengaturan model numerik didahului dengan validasinya terhadap model fisik dan numerik dari studi terdahulu. Pengaturan model yang telah divalidasi kemudian digunakan sebagai dasar pemodelan yang diterapkan untuk kondisi perairan dan geometri dermaga yang sebenarnya, dalam empat kondisi tinggi gelombang. Keluaran tekanan total rata-rata maksimum kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan dari formulasi lainnya, untuk melihat kecenderungan studi terdahulu yang mendekati hasil pemodelan. Diperoleh bahwa hasil yang paling mendekati formulasi yang ditawarkan oleh Ito dan Takeda (1967) pada OCDI dengan rentang selisih –12% hingga +29%. Keluaran tekanan maksimum ini juga dibandingkan terhadap peningkatan tinggi gelombangnya, sehingga dapat dibuat hubungan linear sederhana untuk mewakili perhitungan beban akibat gelombang. Diperoleh bahwa beban akibat gelombangnya paling mendekati formulasi yang ditawarkan oleh Elghamry dan Wang (1971) dan Overbeek dan Klabbers (2000) dengan rentang selisih – 32% hingga +6%.</p> <p>Kata-kata Kunci: <em>Dermaga, ANSYS Fluent, gelombang, beban vertikal, volume of fluid</em></p> <p>Abstract</p> <p>Several literatures offered formulations of vertical wave loads on deck. However, the range of results led to various levels of confidence in the use of these formulations. This study performed simulations using ANSYS Fluent 17.2 Academic Release with Volume of Fluid (VOF) module, SST k-ω turbulence model, and PISO solver. The output was a time series of average total pressure on the selected side. The setting of the numerical model is preceded by validation of the physical and numerical models from previous studies. The validated model was then used as the basis for modeling, which was applied to the actual water conditions and pier geometry in four wave height conditions. The maximum average total pressure was then compared with the results from other formulations to evaluate the trend which was close to previous studies. It was found that the results were closest to the formulation offered by Ito and Takeda (1967) on OCDI, with a difference of –12% to +29%. This maximum pressure output was also compared to the increase in wave height, so a simple linear relationship can be made to represent the wave load. It was found that the load was closest to the formulation offered by Elghamry and Wang (1971) and Overbeek and Klabbers (2000), with a difference of –32% to +6%.</p> <p>Keywords: <em>Pier, ANSYS fluent, wave, uplift, volume of fluid</em></p> 2024-06-03T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2024 Jurnal Teknik Sipil