PENDAHULUAN
Salah satu strategi usaha peternakan di padat penduduk meminimumkan penggunaan lahan dan mengoptimumkan produksi ternak. Strategi ini telah banyak diadopsi oleh para peternak ayam pedaging yang lebih menyukai kepadatan kandang tinggi karena alasan keterbatasan lahan dan tingginya biaya kandang [1]. Namun praktek ini sering menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan kandang yang pada akhirnya dapat berdampak negatif terhadap performa Lebih daripada itu, kandang sistem litter yang banyak diadopsi oleh para peternak ayam pedaging sering menambah dampak tadi karena ayam langsung kontak dengan kotoran yang berakumulasi pada liter yang menjadi basah dan bau, sehingga menimbulkan tidak nyaman dan gangguan pernafasan yang pada akhirnya bermuara penurunan performa pedaging. Sinvalemen ini terutama teriadi pada sistem kandang litter dengan tingkat ekor/m<sup>2</sup>. kepadatan lebih dari 10 Kepadatan kandang yang direkomendasikan oleh Creswell dan Hardjosworo [2] untuk wilayah Indonesia adalah 10 ekor/m<sup>2</sup>. Pada prinsipnya kepadatan kandang dapat terus ditingkatkan sepanjang kualitas lingkungan kandang dapat dipertahankan agar tetap baik.
Penurunan kualitas kandang yang menggunakan tingkat kepadatan tinggi dapat ditekan dengan penaburan zeolit pada hamparan litter lantai kandang. Hal ini karena zeolit dapat berperan sebagai penyerap (absorbent), pengering (desiccant), dan penukar kation[3][4][5][6] [7]. Karena sifat-sifatnya ini maka zeolit
dapat menyerap air, gas, dan mengikat amoniak sehingga diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan kandang pada akhirnva memperbaiki performa ayam pedaging. Pada penelitian terdahulu [8], penaburan 1,8 kg zeolit per meter persegi hamparan litter lantai kandang ayam pedaging menurunkan kelembapan dan kadar amoniak litter masing-masing 11,29% dan 6,48% namun penurunan tersebut secara statistik tidak berbeda nyata, sehingga dapat dikatakan bahwa penaburan zeolit pada hamparan litter lantai kandang sebanyak 1,8 kg/m<sup>2</sup> belum dapat mengurangi polusi kandang al.[9] secara nyata. Nakauke et melaporkan bahwa penaburan zeolit (clinoptilolite) sebanyak 5 kg per meter persegi hamparan litter lantai kandang ayam pedaging menurunkan kelembapan sampai 17,4 persen. Dengan demikian, penaburan zeolit pada litter lantai kandang dengan dosis berkisar antara 1,8 5,0 kg/m² pada tingkat kepadatan tinggi ekor/m<sup>2</sup>) diharapkan (>10 dapat mempertahankan kualitas lingkungan kandang tetap baik sehingga akan berdampak positif terhadap performa ayam pedaging yang dipeliharanya. Penelitian bertujuan ini mengungkapkan pengaruh penaburan zeolit pada hamparan litter lantai kandang terhadap performa (konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup. ransum, dan mortalitas) ayam pedaging pada tingkat kepadatan kandang yang berbeda.
BAHAN DAN METODE
Sebanyak 324 ekor anak ayam pedaging umur sehari berstrain Hubbard ditempatkan secara acak pada 27 petak kandang berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah kepadatan kandang (K) yang terdiri atas tiga taraf (10, 12, dan 14 ekor/m<sup>2</sup>) dan faktor kedua adalah litter berzeolit (Z) vang terdiri atas tiga taraf (0,0; 2,5; dan \(5.0 \text{ kg zeolit/m}^2\)). Setiap satuan percobaan diulang tiga kali.
Anak ayam diberi ransum awal (protein kasar 21%; energi metabolis 3.000-3.100 kkal/kg ransum) sampai umur 4 minggu, kemudian diberi ransum akhir (protein kasar 20% dengan energi yang sama) sampai umur 5 minggu. Baik ransum maupun air minum diberikan ad libitum. Pada hari ke-21 (minggu ke-3) penelitian, zeolit berukuran 60 - 70 mesh ditaburkan pada litter sesuai dengan dosis perlakuan, yakni: litter tanpa penaburan zeolit, litter dengan penaburan zeolit 2,5 kg, dan litter dengan penaburan zeolit 5 kg.
Indikator performa ayam pedaging yang diukur mencakup peubah konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup, konversi ransum, dan mortalitas. Selain itu, diamati pula suhu dan kelembapan kandang pada pagi, siang, dan sore hari.
Konsumsi ransum diukur dengan cara menimbang jumlah ransum yang diberikan dikurangi jumlah ransum yang tersisa pada akhir penelitian, Pertambahan bobot hidup diperoleh dari hasil penimbangan ayam pada akhir penelitian dikurangi hasil penimbangan ayam pada awal penelitian. Konversi ransum dihitung dari jumlah ransum yang dikonsumsi dibagi dengan pertambahan bobot hidup. Mortalitas merupakan persen dari jumlah ayam yang mati sampai akhir penelitian dibagi jumlah ayam yang hidup pada awal penelitian.
Data yang berhasil dihimpun dianalisis melalui sidik ragam dan uji lanjut beda
nyata terkecil apabila analisis sebelumnya menunjukkan perbedaan nyata. Data dalam unit persen (%) sebelum dianalisis ditransformasikan ke dalam Arc sinus [10].
HASIL DAN PEMBAHASAN
Suhu dan Kelembapan dalam Kandang
Rerata suhu udara dalam kandang pada kepadatan 10. 12. dan 14 ekor/m<sup>2</sup> berturut-turut adalah 28.07; 28,27; dan 28.47°C dan rerata kelembapannya adalah 77,73; 77,95; dan 78,04 persen. Walaupun data ini tidak memperlihatkan tingkat keragaman tinggi, namun tampak ada kecenderungan peningkatan suhu dan kelembapan udara kandang dengan semakin meningkatnya tingkat kepadatan kandang. Sinyalemen ini muncul selain karena jumlah ayam meningkat per satuan luas, iuga bobot hidup avam semakin meningkat dengan bertambahnya umur (untuk kasus ini dari 1 hari - 35 hari) sehingga konsumsi ransum pun panas meningkat. Akibatnya, hasil metabolisme tubuh pun meningkat sehingga perlu dikeluarkan dari tubuh, antara lain melalui pernafasan (panting). kotoran dan urine
Suhu kandang berlantai litter-zeolit dengan dosis 0,0; 2,5; dan 5,0 kg zeolit/m<sup>2</sup> berurutan adalah 28,73; 28,55; dan 28,43°C sedangkan suhu litternya berturut-turut adalah 32,89; 32,69; dan 32.65°C. Kecenderungan penurunan suhu litter akibat penaburan zeolit ini selaras dengan temuan Pattiselano dan Randa yang menggunakan 1,2-6 zeolit/m<sup>2</sup> dengan dosis penaburan 300 g zeolit/0.25m<sup>2</sup> hamparan litter sebanyak 1-5 kali penaburan, Namun, berbeda dari zeolit pada penaburan litter lantai kandang, ternyata penggunaan zeolit sebagai suplemen ransum dengan dosis 7,5-10% secara nyata menurunkan suhu litter [12].
Rerata kelembapan udara kandang untuk dosis zeolit di atas, berturut-turut adalah 84,21; 83,52; dan 82,87 persen. Data ini
memperlihatkan kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat penggunaan zeolit dalam litter, maka baik suhu maupun kelembapan udara kandang cenderung kian menurun. Ini terjadi karena peran zeolit sebagai penyerap dan juga sebagai pengering<sup>7</sup>. Panas tubuh yang dikeluarkan melalui pernafasan, urin dan avam kotoran diserap zeolit oleh yang ditaburkan pada litter sehingga litter meniadi kering dan tidak berbau. memberikan suasana nyaman bagi ayam. Penelitian ini mengindikasikan bahwa kemangkusan zeolit dalam memperbaiki lingkungan kandang lebih mangkus untuk menurunkan kelembapan daripada suhu. Hasil penelitian ini selaras dengan temuan Pattiselano dan Randa [11], bahwa penaburan 300 g zeolit/0,25m<sup>2</sup> hamparan litter dengan tiga kali penaburan (3.6 kg/m<sup>2</sup>) secara nyata dapat menurunkan kelembapan litter (P<0.05), namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandana dan suhu litter (P>0.05)walaupun suhu keduanya cenderung menurun.
Konsumsi Ransum
Rerata konsumsi ransum per ekor ayam selama 5 minggu yang dipelihara dengan tingkat kepadatan dan taraf penaburan zeolit-litter yang berlainan, disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rerata konsumsi ransum kumulatif umur hari sampai 5 minggu.
| Taraf | Kepadatan Kandang (ekor/m²) | ||||
| Zeolit | 10 | 12 | 14 | Rerata | |
| (kg/m2) | Gram/ekor | ||||
| 0,0 | 2.505,00 | 2.597,22 | 2.564,29 | 2.555,50a | |
| 2,5 | 2.458,32 | 2.605,56 | 2.496,43 | 2.520,11a | |
| 5,0 | 2.488,33 | 2.675,00 | 2.489,29 | 2.550,87a | |
| Rerata | 2.483,89a | 2.655,93b | 2.516,67a | 2.552,16 | |
Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom atau baris yang sama, berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan uji BNT

Gambar 1. Pengaruh kepadatan kandang dan penaburan zeolit terhadap konsumsi ransum.
Hasil analisis ragam mengungkapkan bahwa rerata konsumsi ransum tidak dipengaruhi secara nyata oleh interaksi antara tingkat kepadatan kandang dengan taraf zeolit. begitu pula oleh taraf pemberian zeolit, namun sangat nyata dipengaruhi oleh tingkat kepadatan kandang (P<0.01). Berdasarkan analisis lebih lanjut dengan uji BNT, ternyata rerata konsumsi ransum pada kepadatan kandang 12 ekor/m<sup>2</sup> lebih tinggi (P<0,01) konsumsi ransum daripada pada kepadatan 10 dan 14 ekor/m². Hasil ini mengherankan karena secara logika konsumsi pada kepadatan 14 ekor/m<sup>2</sup> seharusnya lebih rendah, sesuai dengan pendapat North [13] bahwa konsumsi ransum menurun dengan meningkatnya kepadatan dan menurut Reece et al. [14] dengan meningkatnya suhu. Hal ini diduga terjadi akibat ayam-ayam yang diteliti tidak dibedakan jenis kelaminnya sehingga ayam yang terpilih acak pada kepadatan 12 ekor/m², ternyata lebih banyak yang berkelamin jantan, sehingga konsumsinya pun menjadi lebih tinggi.
Berdasar analisis ragam, penaburan zeolit pada litter lantai kandang tidak berpengaruh nyata terhadap rerata konsumsi ransum (P>0.05). Dengan kata zeolit lain. kemangkusan dalam mengantisipasi pengaruh negatif dari tingkat kepadatan tinggi melalui perannya
Journal of Indonesian Zeolites
dalam memperbaiki lingkungan kandang, belum tampak secara nyata terhadap ransum. Diduga konsumsi bahwa walaupun zeolit dapat menyerap air yang terkandung dalam kotoran ayam dan cenderung menurunkan suhu kelembapan udara kandang berkepadatan namun perbaikan lingkungan tinggi kandang tersebut belum mempengaruhi secara nyata terhadap konsumsi ransum. Temuan serupa juga diperoleh pada babi vang mengkonsumsi ransum berzeolit [15].
Pertambahan Bobot Hidup
Rerata pertambahan bobot hidup ayam pedaging per ekor sampai umur 5 minggu, disajikan pada Tabel 2. Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa rerata pertambahan bobot hidup tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh interaksi tingkat kepadatan kandang dan taraf penaburan zeolit, tingkat kepadatan kandang, atau taraf penaburan zeolit.
Kecenderungan peningkatan pertambahan bobot hidup ayam pedaging seiring dengan peningkatan taraf zeolit mengindikasikan adanya perbaikan kualitas lingkungan kandang oleh zeolit walaupun secara statistik belum mencapai perbaikan secara nyata (P>0.05).
Tingkat kepadatan kandang untuk Indonesia, vang direkomendasikan oleh Creswell dan Hardiosworo [2] adalah 10 ekor/m<sup>2</sup>. sedangkan [16] Rasvaf kepadatan merekomendasikan 8-9 ekor/m<sup>2</sup> untuk dataran rendah dan 11-12 ekor/m<sup>2</sup> untuk dataran tinggi. Namun pada penelitian ini, peningkatan kepadatan kandang sampai 14 ekor/m<sup>2</sup> masih belum menekan secara nyata laju pertumbuhan ayam pedaging (P>0.05). Walaupun ada kecenderungan indikasi penurunan pertambahan bobot hidup pada kepadatan 14 ekor/m<sup>2</sup>.
Dengan meningkatnya tingkat kepadatan kandang, pertumbuhan akan tertekan [13]. Hal ini karena tingkat kepadatan kandang tinggi berdampak pada peningkatan residu
kotoran sehingga litter bertambah basah dan bau yang ditimbulkan oleh amoniak dan hidrogen sulfida hasil fermentasi mikroba dalam kotoran [17][18]. Tingkat konsumsi dan pertumbuhan pedaging menurun pada kadar amoniak yang mencapai 50 - 75 ppm [19], bahkan kadar amonia 50 ppm dapat menekan pertambahan bobot hidup ayam pedaging sampai 12 persen [14]. Berbeda dengan hasil penelitian pada ayam broiler, ternyata suplementasi 4,5% zeolit pada avam petelur mampu memperbaiki kualitas telur [20].
Konversi Ransum
Rerata konversi ransum sejak umur 1 hari sampai 35 hari, disajikan pada Tabel 3. Berdasar analisis ragam, konversi ransum tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh interaksi antara tingkat kepadatan kandang dengan taraf zeolit, namun dipengaruhi (P<0,05) oleh kepadatan kandang dan juga oleh pemberian zeolit (P<0,05).
Berdasar uii laniut beda nvata terkecil. konversi ransum pada kepadatan 12 lebih tinggi (P<0,05) daripada pada kepadatan 10, namun sama (P>0,05) dengan konversi ransum pada kepadatan 14 ekor/m<sup>2</sup>. Dengan kata lain, ayam-ayam pada kepadatan 12 ekor/m² kurang efisien dalam menggunakan ransum sebab untuk mencapai pertambahan bobot hidup yang sama dengan ayam pada kepadatan 10 dan 14 (Tabel 2), harus mengkonsumsi ransum lebih banyak (Tabel 1). Hal ini diduga karena konsumsi ransum yang lebih banyak oleh ayam pada kepadatan 12 menghasilkan lebih banyak panas metabolisme (heat increment) yang harus dibuang untuk mengantispasi tingginya suhu dan kelembapan kandang. Akibatnya tersebut hanva menghasilkan tambahan bobot yang sama dengan ayam-ayam pada kepadatan 10 dan 14 ekor/m<sup>2</sup>. Sementara Ulupi<sup>21</sup> memperoleh angka konversi ransum terbaik pada tingkat kepadatan ekor/m<sup>2</sup>.
Tabel 2. Rerata pertambahan bobot hidup dari umur 1 hari sampai 5 minggu
| Taraf zeolit | Kepadatan kandang (ekor/m²) | |||
|---|---|---|---|---|
| (kg/m²) | 10 | 12 | 14 | Rerata |
| Gram/ekor | ||||
| 0,0 | 1.409,67 | 1.426,39 | 1.428,33 | 1.421.80 |
| 2,5 | 1.455,33 | 1.456,39 | 1.410,71 | 1.440,81 |
| 5,0 | 1.498,33 | 1.493,03 | 1.443,03 | 1.478,22 |
| Rerata | 1.454,44 | 1.458,60 | 1.416,33 | 1.443,12 |
Keterangan: Nilai rerata penaburan zeolit, kepadatan kandang, dan interaksinya tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan analisis ragam.

Gambar 2. Pengaruh kepadatan kandang dan penaburan zeolit terhadap rerata pertambahan bobot hidup ayam pedaging.

Gambar Grafik pengaruh kepadatan kandang dan penaburan zeolit terhadap konversi ransum ayam pedaging.
Tabel 3. Rerata konversi ransum ayam dari umur 1 hari sampai 5 minggu
| Taraf zeolit | Kepadatan kandang (ekor/m²) | |||
|---|---|---|---|---|
| (kg/m2) | 10 | 12 | 14 | Rerata |
| Gram/ekor | ||||
| 0,0 | 1,78 | 1,82 | 1,80 | 1,80a |
| 2,5 | 1,69 | 1,81 | 1,71 | 1,74a |
| 5,0 | 1,66 | 1,79 | 1,72 | 1,72b |
| Rerata | 1,71a | 1,81b | 1,74ab | 1,75 |
Keterangan: Superskrip berbeda pada kolom dan baris yang sama, berbeda nyata (P<0,05) dengan uji BNT
Tabel 4. Rerata mortalitas ayam dari umur 1 hari sampai 5 minggu.
| Taraf zeolit | Kepadatan kandang (ekor/m²) | |||
|---|---|---|---|---|
| (kg/m2) | 10 | 12 | 14 | Rerata |
| Persen | ||||
| 0,0 | 3,33 | 2,78 | 4,76 | 3,62 |
| 2,5 | 0,00 | 2,78 | 0,00 | 0,93 |
| 5,0 | 0,00 | 2,00 | 2,38 | 0,79 |
| Rerata | 1,11 | 1,83 | 2,38 | 1,77 |
Keterangan: Nilai rerata penaburan zeolit, kepadatan kandang, dan interaksinya tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan analisis ragam.

Gambar 4. Pengaruh kepadatan kandang dan penaburan zeolit terhadap rerata mortalitas ayam pedaging.
Taraf zeolit 2,5 kg/m<sup>2</sup> belum dapat menekan konversi ransum, namun pada taraf 5,0 kg/m², zeolit nyata menurunkan (P<0,05) konversi ransum. Ini berarti bahwa penaburan 5,0 kg zeolit/m² luasan
Journal of Indonesian Zeolites
litter kandang mampu memperbaiki efisiensi penggunaan ransum oleh ayam, melalui kemampuannya dalam memperbaiki kualitas lingkungan kandang.
Rerata konversi ransum ayam pedaging vang dipelihara pada lantai litter yang ditaburi zeolit sebanyak 5,0 kg/m² adalah 1.72 sedangkan rerata konversi ransum ayam pedaging yang dipelihara pada lantai litter tanpa taburan zeolit adalah 1.80. kata efisiensi Dengan lain. penggunaan ransum ayam pedaging yang dipelihara pada lantai litter yang ditaburi zeolit 5,0 kg/m² lebih tinggi (P<0,05) daripada efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging yang dipelihara pada lantai litter tanpa taburan zeolit. Pada lantai litter yang ditaburi zeolit 5,0 kg/m², untuk menghasilkan 1 kg tambahan bobot hidupnya. avam pedaging hanva 1.72 menakonsumsi ka ransum. sedangkan pada lantai litter yang tidak ditaburi zeolit, untuk menghasilkan 1 kg tambahan bobot hidupnya. pedaging hanva mengkonsumsi 1.80 kg ransum. Dengan demikian, penaburan 5.0 ka zeolit per meter perseai hamparan lantai litter dapat memperbaiki konversi ransum sampai 4,44 persen.
Mortalitas
Mortalitas ayam mencapai 1,85% (6 ekor) dari 324 ekor ayam yang dipelihara selama 5 minggu. Rerata mortalitas ayam dari umur 1–35 hari untuk semua perlakuan disajikan pada Tabel 4.
Mortalitas ayam cenderung meningkat dengan semakin meningkatnya tingkat kepadatan kandang. Sebaliknya, penaburan zeolit pada litter cenderung menurunkan mortalitas, bahkan pada taraf ka zeolit/m² luasan litter mampu menekan mortalitas dari 3,62% menjadi 0,79% walau belum mencapai angka yang signifikan (P>0,05). Ada indikasi bahwa kecenderungan penurunan mortalitas tersebut berkaitan dengan semakin membaiknya kualitas lingkungan kandang peningkatan seirina dengan taraf penaburan zeolit.
KESIMPULAN
Penaburan zeolit pada litter sebanyak 5.0 kg/m<sup>2</sup> luas lantai kandang dengan tingkat kepadatan 10, 12, dan 14 ekor ayam/m<sup>2</sup> mampu memperbaiki konversi ransum avam pedaging sampai 4.44 persen. Indikator performa avam pedaging lainnya konsumsi mencakup: ransum. vand pertambahan bobot hidup, dan mortalitas tidak dipengaruhi oleh perlakuan penaburan zeolit pada lantai litter.
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Proudfoot, F.G., Hulan, H.W. dan Romey, R.D. 1979. The effect of four stocking densities on broiler carcas grade: the insidence of breast blister and other performance traits. Poultry Sci. 58(4):791-793.
- Creswell, D. dan Hardjosworo, P.S. 1979. Bentuk kandang unggas dan kepadatan kandang untuk daerah tropis. Laporan seminar ilmu dan industri perunggasan II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak. Ciawi, Bogor.
- Mumpton, F.A. and Fishman, P.H. 1977. The application of natural zeolites in animal science and aquaculture. J. Anim. Sci. 5(45):1189-1192
- Mumpton, F.A. 1984. The role of natural zeolites in agriculture and aquaculture. International Committee on natural zeolite. Westview Press/Boulder, Colorado.
- Harjanto, S. 1987. Lempung, zeolit, dolomit dan magnesit. Direktorat Suberdaya Mineral. Departemen Pertambangan dan Energi RI.
- 6. Tsitsishvili, G.V. 1987. Perspectives of natural zeolite applications. Annual production and zeolite paper 63, FAO, Rome
- 7. Sutardi, T. 1995. Peningkatan efisiensi penggunaan pakan. Seminar
- nasional peternakan dan veteriner. P4, Cisarua, Bogor.
- 8. Kardaya, D. dan Malik B. 2001. Pengaruh penggunaan zeolit dalam litter kandang berkepadatan tinggi terhadap perbaikan kualitas lingkungan kandang ayam broiler. Proseding Seminar Nasional Agribo Expo 2001 tanggal 12-13 Nopember 2001, Hal: 68-71.
- 9. Nakauke, H.S., J.K. Koelliker, and M.L. Pierson. 1981. Study with clinoptilolite in poultry. Poultry Sci. 60: 1211-1228.
- 10. Steel, R.G.D. dan Torrie, J.H. 1993. Prinsip dan prosedur statistik (suatu pendekatan biometrik). Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
- 11. Pattiselanno, F. dan Sangle Y. Randa. 2004. Kualitas lingkungan kandang broiler yang mendapat perlakuan perbedaan frekuensi penaburan zeolit pada alas litter. Jurnal Zeolit Indonesia. Ikatan Zeolit Indonesia. 3(2): 79-84.
- 12. Pattiselanno, F. dan Hartini. 2000. Respon penambahan mineral zeolit dalam ransum terhadap kondisi lingkungan kandang ayam pedaging. Jurnal Peternakan dan Lingkungan. 6(2): 80-84.
- 13. North, M.O. 1984. Commercial Chicken Production Manual. Third ed. AVI publ. Co. Inc. Wesport, Connecticut.
- 14. Reece, F.N., Lott, B.D. dan Deaton, J.W. 1981. Low concentration of ammonia during brooding decrease broiler weight. Poultry. Sci. 60:937- 940.
- 15. Siagian, P.H. 2005. Sumber dan taraf zeolit yang berbeda dalam ransum serta pengaruhnya terhadap penampilan ternak babi. Jurnal Zeolit Indonesia. Ikatan Zeolit Indonesia. 4(1): 10-18
- 16. Rasyaf, M. 1994. Beternak ayam pedaging. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.
- 17. Kling, H.F. and Quarles, C.L. 1974. Effect of atmospheric ammonia and the stress of infectious bronchitis vaccination on Leghorn Males. Poultry Sci. 53:1161-1163.
- 18. Nesheim, M.C., Austic, R.T. and Card, L.E. 1979. Poultry Production. Lea Febiger. Philadelphia.
- 19. Wibowo, M.H. 1995. Pengaruh amoniak terhadap kesehatan hewan. Poultry Indonesia 184:14-16.
- 20. Riyanti dan Purwaningsih, N. 2004. Pengaruh penambahan zeolit dalam ransum terhadap kualitas telur Lohmann brown fase produksi II. Jurnal Zeolit Indonesia. Ikatan Zeolit Indonesia. 3(2): 49-54.
- 21. Ulupi, N. 1993. Pengaruh luas lantai kandang dan tingkat pemberian vitamin C terhadap performa ayam broiler. Media Peternakan, 16 (I):40- 47.
