PENDAHULUAN
Sejak diketahui fungsi zeolit di bidang peternakan, berbagai penelitian dilakukan guna mempelajari sejauh mana pengaruh penaburan zeolit dalam meningkatkan produksi ternak dan memelihara lingkungan kandang. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa zeolit berfungsi mengatasi polusi kandang karena sifatnya yang dapat mempertukarkan ion secara selektif serta mampu menyerap air dan mengikat gas amoniak.
Hasil penelitian Shurson et al. (1984) [1], Randa dan Pattiselanno (1997) [2] menunjukkan bahwa kesertaan zeolit dalam ransum dapat menurunkan kadar air feces dan mencegah bau tidak sedap dari kandang. Menurut Pattiselanno dan Hartini (2000) [3], penambahan zeolit ke dalam ransum ayam broiler dapat menciptakan kualitas kandang yang baik. Sedangkan Pattiselanno dan Randa (1999) [4] menjelaskan bahwa penaburan zeolit pada alas kandang nyata lebih berperan dalam memperbaiki tingkat kelembaban litter disbanding peranannya dalam menjaga temperatur kandang.
Sampai sejauh mana respon penaburan zeolit pada alas litter terhadap pertumbuhan dan efisiensi ayam pedaging belum diketahui dengan pasti. Mengacu pada hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengkaji bagaimana pertumbuhan dan efisiensi produksi ayam pedaging yang mendapat perlakuan penaburan zeolit dalam kandang
BAHAN DAN METODE
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Taman Ternak Non Ruminansia Fakultas Pertanian Universitas Negeri Papua selama satu bulan. Percobaan dirancang menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan penaburan masingmasing P0 (tanpa penaburan
zeolit/kontrol); P1 (satu kali penaburan zeolit selama periode penelitian); P3 (tiga kali penaburan zeolit atau dua minggu sekali selama periode penelitian) dan P5 (lima kali penaburan zeolit atau setiap minggu penaburan selama periode penelitian.
Masing-masing perlakuan diulang selama 6 (enam) kali dengan masing-masing satuan percobaan terdiri atas tiga ekor ayam, sehingga seluruh perlakuan menggunakan 72 (tujuh puluh dua) ekor ayam pedaging Strain Hubbard. Variabel pengamatan dalam penelitian, meliputi pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan efisiensi produksi. Data yang diperoleh dianalisa dengan ANOVA sesuai dengan Rancangan Acak Lengkap. Apabila terdapat perbedaan akibat perlakuan yang diberikan, akan dialnjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (Gasperz, 1991) [5].
Prosedur Penelitian
Sejak DOC sampai dengan umur tiga minggu, 72 ekor ayam pedaging Strain Hubbard dipelihara dalam kandang brooder berukuran (100x60x45 cm), dan diberi ransum starter produksi PT. Japfa Comfeed dan air minum. Ketika berumur tiga minggu, ayam dipindahkan ke kandang rearing dengan ukuran (60x45x30 cm) per unit per tiga ekor ayam. Setiap unit kandang diberi alas litter dengan ketebalan kurang lebih 8 cm yang terdiri atas campuran serbuk gergaji, sekam padi dan pasir. Ransum finisher produksi PT. Japfa Comfeed dan air minum diberi ad libitum.
Aspek pertumbuhan diukur melalui penimbangan bobot badan ayam setiap akhir minggu selama empat minggu periode pengamatan. Efisiensi pakan diperoleh dari perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan. Efisiensi produksi dihitung dengan cara menghitung "Income Over Feed Chick and Zeolite Cost" (IOFCZ). Artinya efisiensi produksi didapat melalui penerimaan yang diperoleh dari hasil
Journal of Indonesian Zeolites
penjualan dibagi dengan biaya variable yang dikeluarkan (bibit ayam, pakan dan zeolit).
Penaburan Zeolit
Delapan belas unit dari dua puluh empat unit kandang rearing ditetapkan secara acak untuk ditaburi zeolit. Dari 18 unit yang akan ditaburi zeolit, dipilih juga 6 unit kandang secara acak untuk perlakuan satu kali penaburan zeolit, 6 unit yang lain untuk dua kali penaburan dan 6 unit sisanya untuk empat kali perlakuan penaburan. Setiap kali penaburan, sebanyak 300 gram zeolit ditaburkan pada setiap unit kandang yang dilakukan secara merata di seluruh permukaan litter.
HASII DAN PEMBAHASAN
Pertambahan bobot badan
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penaburan P3 atau penaburan zeolit setiap minggu selama periode memberikan penelitian pertambahan bobot badan ayam paling tinggi dibanding perlakuan lainnya (Tabel 1). Meskipun rataan pertambahan bobot badan ayam yang dihasilkan bervariasi. namun dari hasil analisis ragam terlihat bahwa perbedaan perlakuan penaburan tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan bobot badan avam penelitian.
Hasil tersebut bukan berarti bahwa penaburan zeolit pada alas litter tidak bermanfaat, karena sampai berakhirnya penelitian, ternyata bahwa bobot badan ternak ayam yang dipelihara pada unit yana kandang mendapat perlakuan penaburan zeolit pada alas litter relatif lebih baik. Menurut Kususiyah (1992) [6], penggunaan litter dalam zeolit dapat memperbaiki lingkungan kandang sehingga ayam dapat mengkonsumsi pakan dengan baik dan pada akhirnya memberikan bobot badan akhir yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa penaburan zeolit.
Penelitian Nakaue et al. (1981) (lihat Kususiyah 1992) [6], menunjukkan bahwa penaburan zeolit pada alas litter avam broiler dapat menurunkan kadar amoniak kandang. Selanjutnya dikatakan semakin sering dilakukan penaburan zeolit pada alas litter, pertembahan bobot badan ayamnya semakin tinggi. Hal tersebut berarti bahwa kesertaan zeolit pada alas litter mampu menurunkan kadar amoniak pada kandang. akhirva vang mempengaruhi kemampuan konsumsi pakan ayam tersebut. Darmono (1991) [7] dalam suatu percobaan pada ayam dewasa memperoleh hasil bahwa kadar amoniak 200 ppm dapat menurunkan bobot badan ayam sebesar 170 gram selama 17 hari.
Efisiensi Pakan
Hasil vang diperoleh terhadap efisiensi menuniukkan bahwa pakan taraf penaburan zeolit pada alas litter berpengaruh nyata terhadap efisiensi Berdasarkan hasil uii laniutan. ternyata rataan efisiensi pakan pada unit kandang dengan dua kali penaburan zeolit pada alas litter lebih baik dibandingkan perlakuan tanpa penaburan zeolit. Sementara perlakuan penaburan zeolit tidak memberikan pengaruh yang nyata. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa penaburan zeolit pada alas litter ternyata mampu meningkatkan efisiensi pakan pada ternak penelitian.
Angka efisiensi pakan vang lebih besar menunjukkan penggunaan pakan yang semakin efisien untuk diubah menjadi Meningkatnya efisiensi pakan daging. pada ternak ayam yang mendapat penaburan zeolit diduga perlakuan berhubungan dengan kadar amoniak kandana. Kususivah (1992)menielaskan bahwa, konversi ransum pada kandang dengan taraf penaburan 5.0kg/m<sup>2</sup> nyata lebih baik dibandingkan taraf penaburan 2.5kg/m<sup>2</sup> dan tanpa penaburan zeolit. Sedangkan menurut Yenita (1993) [8], unit kandang dengan perlakuan penaburan zeolit meningkatkan efisiensi penggunaan pakan
dibandingkan unit kandang yang tidak mendapat perlakuan penaburan zeolit (Tabel 2).
Jika dilihat bobot badan akhir ternak penelitian, perlakuan dengan taraf empat kali penaburan cenderung lebih baik dibandingkan dengan taraf satu kali penaburan zeolit, tetapi sebaliknya
IOFCZC per ekor pada taraf satu kali penaburan justru lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan karena tambahan biaya zeolit (0.40 kg/ekor) selama periode penelitian memerlukan biaya sebesar (Rp. 500), sedangkan pada taraf satu kali penaburan dengan penggunaan zeolit sebanyak 0.10 kg/ekor memerlukan biaya sebesar Rp. 125.
Tabel 1. Rataan pertambahan bobot badan dan efisiensi pakan ternak ayam penelitian selama periode penelitian.
| Variabel Pengamatan | Perlakuan Penaburan Zeolit (kali) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| P0 | P1 | P3 | P5 | ||
| Pertambahan bobot badan (gr) | 60.78 | 63.81 | 63.17 | 65.62 | |
| Efisiensi Pakan | 0.49a | 0.50ab | 0.53b | 0.51ab | |
Keterangan: Superskrip yang berbeda menunjukkan beda nyata perlakuan (P<0.05)
Tabel 2. Perhitungan biaya Income Over Feed Chick and Zeolite Cost per ekor ayam selama periode penelitian.
| Perlakuan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Variabel Pengamatan | P0 | P1 | P3 | P5 | |
| a. Konsumsi ransum (kg/ekor) | 3.04 | 3.07 | 2.92 | 3.14 | |
| b. Total Penggunaan zeolit (kg/ekor) | 0.00 | 0.10 | 0.20 | 0.40 | |
| c. Harga zeolit (Rp/kg) | 0.00 | 1.250.00 | 1.250.00 | 1.250.00 | |
| d. Harga ransum (Rp/kg) | 1.006.00 | 1.006.00 | 1.006.00 | 1.006.00 | |
| e. Biaya ransum (Rp/ekor) (aXd) | 3.058.24 | 3.008.42 | 2.973.52 | 3.158.84 | |
| f. Biaya zeolit (Rp/kg) (bXc) | 0.00 | 125.00 | 250.00 | 500.00 | |
| g. Harga ayam umur 3 minggu | 2.969.00 | 2.969.00 | 2.969.00 | 2.969.00 | |
| h. Total biaya ransum + zeolit + ayam umur 3 minggu | 6.027.24 | 6.182.42 | 6.156.52 | 6.627.84 | |
| i. Bobot badan akhir ayam (kg/ekor) | 2.383 | 2.472 | 2.444 | 2.534 | |
| j. Harga bobot hidup (Rp/kg) | 5.900.00 | 5.900.00 | 5.900.00 | 5.900.00 | |
| k. Penerimaan (Rp/ekor) (iXj) | 14.061.66 | 14.582.83 | 14.415.66 | 14.956.50 | |
| l. Pendapatan (Rp/ekor) (k - h) | 8.034.42 | 8.400.41 | 8.259.14 | 8.328.66 | |
Keterangan:
Perlakuan P0 = litter tanpa penaburan zeolit
Perlakuan P1 = litter dengan satu kali penaburan zeolit
Perlakuan P3 = litter dengan tiga kali penaburan zeolit
Perlakuan P5 = litter dengan lima kali penaburan zeolit.
KESIMPULAN
Perlakuan penaburan zeolit pada alas litter tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan bobot badan ayam penelitian, walaupun demikian ada kecenderungan meningkatnya pertambahan bobot badan sejalan dengan semakin tinggi taraf penaburan zeolit pada alas litter. Penaburan zeolit dua kali selama periode penelitian (dua minggu sekali) lebih memberikan keefisienan terhadap penggunaan pakan (0.53). Secara ekonomi, Income Over Feed, Chick, and Zeolite Cost per ekor pada unit kandang yang mendapat perlakuan penaburan zeolit pada alas litter lebih menguntungkan dibanding unit kandang yang tidak mendapat perlakuan penaburan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih patut disampaikan kepada Proyek OPF Faperta Uncen Manokwari atas bantuan biaya penelitian, sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan. Ucapan yang sama disampaikan pula kepada Sdr. Irianto Edy Susilo, S.Pt. atas bantuannya dalam pengambilan data di lapangan selama penelitian berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
1. Shurson, G.C., P.K. Ku, E.R. Miller and M.T. Yokoyama. 1984. Effects of zeolite A or clinoptilolite in diets of growing swine. J.Anim.Sci. 59(6): 1536-1545
- 2. Randa, S.Y. dan F. Pattiselanno. 1997. Efek penambahan zeolit dalam ransum yang mengandung solid kelapa sawit terhadap pertumbuhan kelinci pasca sapih. Paper disampaikan dalam Seminar Nasional II Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak (15-16 Juli, 1997). Kerja sama Asosiasi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Indonesia dan IPB Bogor.
- 3. Pattiselanno, F. dan S. Hartini. 2000. Respon penambahan mineral zeolit dalam ransum terhadap kondisi lingkungan kandang ayam pedaging. Jurnal Peternakan dan Lingkungan 6 (2): 80-84
- 4. Pattiselanno, F. dan S.Y. Randa. 1999. Penaburan zeolit pada alas litter terhadap kualitas lingkungan kandang. Jurnal Irian Jaya Agro 6 (1):17-19
- 5. Gasperz, V. 1991. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan Jilid I. Tarsito, Bandung
- 6. Kususiyah, 1992. Pengaruh penggunaan zeolit dalam litter terhadap kualitas lingkungan kandang dan performans broiler pada kepadatan kandang berbeda. Thesis Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
- 7. Darmono, 1991. Gas amoniak dalam peternakan ayam. Poultry Indonesia (74):30
- 8. Yenita, 1993. Studi substitusi ransum komersial dengan zeolit dan penaburan zeolit dalam litter terhadap performans ayam broiler. Skripsi Sarjana Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
