PENDAHULUAN
Keuntungan mencit yang tinggi membuat hewan ini memiliki banyak fungsi diantaranya dimanfaatkan untuk hewan percobaan dalam model penelitian penyakit pada manusia, hewan peliharaan maupun pakan bagi hewan lain. Manfaat mencit yang tinggi menjadikan mencit harus selalu tersedia dalam jumlah yang banyak dengan produktivitas dan performa yang baik. Aspek perkandangan merupakan salah satu hal penting didalam manajemen pemeliharaan karena dengan menciptakan perkandangan yang baik dapat memberikan kenyamanan terhadap mencit sehingga performa menjadi meningkat. Umumnya pemeliharaan mencit di Indonesia menggunakan kandang berbentuk akuarium atau kotak dari plastik dengan alas serbuk kayu, gergaji, dan sekam padi.
Variasi yang dapat dilakukan berkaitan dengan perkandangan adalah memberikan jenis alas yang berbeda-beda, seperti sekam, pasir dan zeolit serta memberikan penyekatan alas kandang (kandang dengan sekat dan tanpa sekat alas). Alas kandang mencit biasanya digunakan sebagai tempat untuk bermain, tempat tidur dan membuang kotoran (urin serta feses). Feses dan urin yang bercampur dengan alas secara langsung akan membuat mencit menjadi kotor yang dapat mempengaruhi kesehatan mencit. Oleh karena itu, perlu dicari media dan tipe alas kandang yang tepat agar menghasilkan performa mencit yang baik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis alas kandang yang berbeda (sekam, pasir dan zeolit) dengan dan tanpa penyekatan alas terhadap performa mencit. Performa mencit tersebut diukur dari peubah konsumsi pakan dan air minum, bobot akhir, PBB, konversi pakan, mortalitas mencit dan kadar amoniak pada jenis alas kandang yang berbeda-beda.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Lab. Lapang Kandang C Bagian Non Ruminansia dan Satwa Harapan Fakultas Peternakan, IPB selama 35 hari.
Materi
Penelitian ini menggunakan 42 ekor mencit (Mus musculus) jantan putih umur 28 hari. Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang terbuat dari baki plastik berukuran 30 x 24 x 10 cm3 sebanyak 42 buah. Setengah dari jumlah kandang (21 buah) diberi penyekat alas yang terbuat dari kawat ram berukuran 0,5 cm. Jarak antara sekat alas dengan alas kandang adalah 0,5 cm, sedangkan sisanya (sebanyak 21 buah) tidak diberikan sekat alas, seperti terlihat pada Gambar 1. Alas kandang yang digunakan terdiri dari tiga macam yaitu alas sekam padi, pasir dan zeolit.
Komposisi pakan yang digunakan adalah 55% tepung jagung, 15% dedak padi, 15% bungkil kedelai, 10% tepung ikan, 4% minyak sayur dan 1% premix. Bahan-bahan tersebut diaduk hingga homogen dan dibentuk menjadi pelet.
Rancangan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dalam percobaan Faktorial 3 x 2 masing-masing dengan tujuh ulangan. Faktor pertama adalah jenis alas (sekam, pasir dan zeolit) dan faktor kedua adalah tanpa dan dengan sekat alas.
Model matematikanya menurut Gasperz (1995) adalah:
\[Y_{ijk} = \mu + \alpha_i + \beta_j + (\alpha \beta)_{ij} + \epsilon_{ijk}\]
Keterangan:
- Yijk =peubah pertumbuhan yang diamati pada ulangan ke-k dari faktor I ke-i dan faktor II ke-j.
- µ =rataan umum.
- αi =pengaruh faktor I pada jenis alas kei, i = 3: (1). Sekam Padi, (2). Pasir dan (3). Zeolit
- βj =pengaruh faktor II pada jenis penyekatan alas ke-j; j = 2: (1). Kandang Tanpa Sekat Alas dan (2). Kandang dengan Sekat Alas
- (αβ)ij =interaksi antara faktor I pada taraf ke-i dan faktor II pada taraf ke-j.
- εijk =galat percobaan pada ulangan ke-k dari faktor I ke-i serta faktor II ke-j;
Peubah yang Diamati
- 1. Konsumsi Bahan Kering Pakan (gram BK/ekor/hari).
- 2. Konsumsi Air Minum (ml/ekor/hari).
- 3. Bobot Badan (gram/ekor).
- 4. Pertambahan Bobot Badan (gram/ekor/hari).
- 5. Konversi Pakan.
- 6. Persentase Mortalitas.
- 7. Kadar Amoniak (NH3) dalam kandang
Pengukuran kadar amoniak dalam kandang dilakukan dengan menggunakan metode Nessler. Tahapan pengukuran kadar amoniak dapat dilihat pada Gambar 2. Pengukuran kadar amoniak dilakukan pada hari kedua dan keenam dengan satu kali ulangan untuk tiap perlakuan jenis alas.
Gambar 1. (a). Kandang Tanpa Sekat, (b). Kandang Bersekat dan (c). Rancangan Bangunan Kandang Mencit.
Gambar 2. Tahapan Pengukuran Kadar Amoniak
Keterangan: (a). Penampungan gas amoniak kandang yang dialirkan melalui pipa, (b). Pengaliran gas amoniak dari kandang menuju tabung uji melalui aerator, (c). Larutan yang akan diukur dengan spektofotometer dan (d). Pengukuran larutan melalui spektrofotometer
Analisa Data
Analisis ragam dilakukan untuk melihat pengaruh tiap faktor dan interaksi dari data yang didapat. Jika hasil analisis menunjukkan nyata atau sangat nyata maka dilakukan uji perbandingan nilai tengah menggunakan uji Tukey. Jika data yang diperoleh tidak memenuhi asumsi untuk diuji parametrik, maka data yang diperoleh diuji secara non parametrik dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Data dikelompokkan menjadi enam taraf perlakuan, vaitu tanpa sekat dengan sekam (TSS), sekam dengan sekat (DSS), tanpa sekat dengan pasir (TSP), pasir dengan sekat (DSP), tanpa sekat dengan zeolit (TSZ) dan zeolit dengan sekat (DSZ). Rumus dari Kruskal-Wallis menurut Gasperz (1995), vaitu:
\[H = \frac{1}{s^2} \left[ \sum_i \frac{R_i^2}{\eta} - \frac{N(N+1)^2}{4} \right]\]
Keterangan:
H = statistik uji Kruskal-Wallis
\(S^2\) = ragam
R<sub>i.</sub><sup>2</sup> = jumlah pangkat dari perlakuan ke-i r<sub>i</sub> = jumlah ulangan pada perlakuan ke-i N = jumlah pengamatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Penelitian
Rataan suhu dan kelembaban selama masing-masing 26.56±1,46°C dan 82,86±7,08%. Hasil suhu yang diamati selama penelitian merupakan suhu yang nyaman bagi mencit.
Rataan Kandungan protein kasar (PK) yang terdapat dalam pakan (15,79%) telah memenuhi kebutuhan nutrisi mencit. Kadar dapat berpengaruh pertumbuhan, kadar amoniak urin, dan feses. Semakin tinggi kadar protein yang digunakan maka pertumbuhan mencit akan semakin baik (Sudono, 1981), namun kadar nitrogen yang dihasilkan dalam urin serta feses pun akan semakin tinggi (Parakkasi, 1995; Pilliang dan Djojosoebagio, 2006). Jika kadar protein yang dicerna dalam tubuh semakin tinggi, maka kadar urea yang berbahaya didalam tubuh akan semakin tinggi pula. Oleh karena itu, untuk mengurangi kadar urea yang tinggi
maka mencit akan mengencerkan dan mengeluarkan urea dari dalam tubuh dengan cara konsumsi air minum yang banyak.
Konsumsi air minum yang banyak menyebabkan urin yang terbuang dengan kandungan nitrogen dan urea Kelembaban kandang yang tinggi (82,86%) menyebabkan uap air dalam tubuh yang membawa panas tubuh tidak dapat diserap udara melalui keringat. Oleh karena itu, mencit akan mengeluarkan panas dalam tubuhnya melalui saluran pencernaan yaitu urin dan feses. Sejumlah air yang hilang dalam tubuh harus diganti dengan cara mengkonsumsi air minum dalam iumlah yang banyak, sehingga jumlah urin semakin tinggi.
Kondisi kelembaban kandang yang tinggi ditambah dengan kondisi kandang yang becek akan memberi kesempatan bakteri urease untuk merubah urea menjadi amoniak sehingga kadar amoniak menjadi tinggi dan tidak menguap. Oleh karena itu, pengaruh pakan diusahakan seminimal munakin dengan cara memberikan kadar PK pada taraf yang rendah tanpa mengganggu pertumbuhan mencit, sehingga tujuan dari penelitian ini, yaitu melihat pengaruh perlakuan (jenis alas dan penyekatan alas) terhadap pertumbuhan mencit dan kadar amoniak dapat terlihat.
Konsumsi Bahan Kering Pakan dan Air Minum Mencit
Rataan konsumsi bahan kering (BK) pakan mencit adalah 3,89 g BK/e/h seperti yang disaiikan dalam Tabel 1.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa konsumsi pakan mencit sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh jenis alas. Konsumsi pakan pada alas S, P dan Z berturut-turut adalah 4,21; 3,90 dan 3,55 g BK/e/h ketiganya berbeda sangat nyata (P<0.01) satu sama lain yang tampak diakibatkan oleh perbedaan tingkah laku mencit pada ketiga alas tersebut. Mencit pada alas kandang P dan Z lebih sering menggaruk badan bila dibandingkan dengan alas sekam. Keadaan ini mengurangi aktivitas makan. karena mencit lebih sering menggaruk badannya yang gatal (bahkan sampai bulu dibagian yang gatal rontok).
Tabel 1. Rataan Konsumsi Bahan Kering Pakan dan Air Minum Mencit pada Kandang Tanpa Sekat dan Bersekat dengan Alas yang Berbeda
| Penyeka | - Rataan | KK | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Davikalı | lania Alaa | Tanpa Sekat (TS) | Dengan Sekat (DS) | ||||
| Peubah | Jenis Alas | Rataan | KK | Rataan | KK | - | |
| (g BK/e/h) | (%) | (g BK/e/h) | (%) | (g BK/e/h) | (%) | ||
| Sekam (S) | 4,33 | 2,17 | 4,08 | 3,51 | 4,21A | 4,21 | |
| Konsumsi | Pasir (P) | 3,99 | 3,08 | 3,81 | 0,92 | 3,90B | 3,27 |
| Bahan Kering | Zeolit (Z) | 3,59 | 1,31 | 3,52 | 1,37 | 3,55C | 1,64 |
| • | Rataan | 3,97P | 8,18 | 3,80Q | 6,54 | 3,89 | 7,67 |
| (ml/e/h) | (%) | (ml/e/h) | % | (ml/e/h) | (%) | ||
| Sekam (S) | 4,73 | 19,48 | 5,30 | 15,52 | 5,02 | 17,72 | |
| Konsumsi Air | Pasir (P) | 4,05 | 31,67 | 5,05 | 27,62 | 4,55 | 30,50 |
| Minum | Zeolit (Z) | 4,06 | 30,07 | 5,09 | 11,14 | 4,57 | 23,16 |
| Rataan | 4.28b | 26.67 | 5.14a | 18.39 | 4.71 | 23.86 | |
Keterangan:
KK
= Koefisien Keragamar
P,Q = Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menyatakan konsumsi berbeda pada tingkat kepercayaan 99%.
A,B,C = Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan konsumsi berbeda pada tingkat kepercayaan 99%.
a,b = Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menyatakan konsumsi berbeda pada tingkat kepercayaan 95%.
Konsumsi pakan mencit juga sangat nyata (P<0,01) dipengaruhi oleh penyekatan alas. Konsumsi pakan pada kandang TS (3,97 g BK/e/h) sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsumsi pakan pada kandang DS (3,80 g BK/e/h).
Konsumsi yang rendah ini disebabkan pada kandang DS, pakan yang jatuh ketika dimakan tidak dapat diambil kembali oleh mencit. Selain itu, konsumsi pakan yang rendah pada kandang DS disebabkan mencit lebih senang bermain. Aktivitas untuk bermain, berlari dan memanjat lebih banyak bila dibandingkan dengan aktivitas untuk makan.
Konsumsi pakan pada setiap minggu mengalami kenaikan hingga minggu ketiga, kemudian mengalami penurunan pada minggu keempat dan kelima. Penurunan konsumsi ini disebabkan pakan berbau tengik akibat penyimpanan pakan yang terlalu lama sehingga palatabilitas pakan menjadi rendah. Secara umum, konsumsi pakan pada kandang dengan alas sekam selalu lebih tinggi daripada alas pasir dan zeolit (Gambar 3a). Begitu pula dengan konsumsi pakan pada kandang tanpa sekat selalu lebih tinggi daripada kandang bersekat pada semua minggu pengamatan (Gambar 3b).
Faktor faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain suhu dan kelembaban kandang, kesehatan, kadar air dalam makanan (Malole dan Pramono, 1989) dan perbedaan fisiologis mencit dalam siklus kehidupan seperti pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain (NRC, 1995).
Rataan konsumsi air minum mencit adalah 4,71 ml/e/h seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Konsumsi air minum mencit nyata (P<0.05) dipengaruhi oleh penyekatan alas. Konsumsi air minum pada kandang DS (5.14) ml/e/h) nyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsumsi air minum pada kandang TS (4.28 ml/e/h). Konsumsi air minum vang tinggi ini disebabkan mencit pada kandang bersekat lebih agresif dan aktif bila dibandingkan dengan mencit pada kandang tidak bersekat. Mencit yang semakin aktif, artinya mencit akan semakin banyak bergerak sehingga cairan didalam tubuhnya akan berkurang pula. Oleh karena itu, untuk mengganti cairan tubuh yang hilang tersebut, maka mencit banyak mengkonsumsi air minum sehingga mengurangi konsumsi pakan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Gambar 3a. Konsumsi Pakan Mencit (gram BK/ekor/hari) pada Kandang dengan Alas Sekam, Pasir, dan Zeolit

Gambar 3b. Konsumsi Pakan Mencit (gram BK/ekor/hari) pada Kandang dengan atau Tanpa Sekat

Gambar 4. Konsumsi Air Minum Mencit (ml/ekor/hari) pada (a) Kandang dengan Alas Sekam, Pasir dan Zeolit serta (b) Kandang dengan atau Tanpa Sekat
Secara umum, konsumsi air minum mencit meningkat seiring dengan bertambahnya umur, namun penurunan konsumsi air minum terjadi pada minggu ketiga, kemudian meningkat kembali hingga minggu terakhir (Gambar 4). Hal ini mungkin disebabkan suhu dan kelembaban kandang yang tinggi. Suhu lingkungan yang tinggi (26,830C) seyogyanya meningkatkan konsumsi air minum, namun kelembaban kandang pada waktu yang sama sangat tinggi (86,33%), sehingga mencit mengurangi konsumsi air minum.
Amrullah (2003) menyatakan bahwa kelembaban yang tinggi menyebabkan uap air tubuh tidak dapat diserap oleh udara sekitar. Air dalam tubuh memiliki fungsi sebagai pengatur suhu tubuh, karena air dapat menyerap panas yang dihasilkan dari metabolisme tubuh. Untuk mengeluarkan panas tubuh tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pembuangan air melalui saluran pencernaan, melalui kulit serta melalui pernapasan. Untuk mengatasi hal ini maka mencit mengurangi konsumsi air minum dan mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang cukup (sedikit naik, tetapi masih termasuk kedalam konsumsi pakan yang normal) sehingga pembuangan air dapat dilakukan melalui saluran pencernaan. Sejumlah air yang hilang tersebut harus diganti dengan cara mengkonsumsi air minum (Tillman et al., 1989; Piliang dan Djojosoebagio, 2006). Faktor yang mempengaruhi konsumsi air minum adalah suhu dan kelembaban kandang, (NRC, 1995), lingkungan dan aktivitasnya (Inglis, 1980).
Bobot Badan dan Pertambahan Bobot Badan Mencit
Rataan total bobot badan awal mencit sebesar 15,38 g/e dengan koefisien keragaman 16,56% seperti yang tampak pada Tabel 2. Pertambahan bobot badan (PBB) merupakan laju pertumbuhan absolut dari mencit. Rataan PBB mencit selama penelitian berkisar antara 0,22-0,41 g/e/h dengan rataannya adalah 0,35 g/e/h (Tabel 2). Jenis alas dan penyekatan alas saling berinteraksi nyata (P<0,05) mempengaruhi PBB mencit. Hasil uji Tukey menunjukkan bahwa PBB mencit yang terbaik terlihat pada perlakuan DSS (0,41 g/e/h), DSP (0,39 g/e/h) dan TSZ (0,38 g/e/h).
Rataan PBB mencit terendah terlihat pada perlakuan TSP (0,28 g/e/h). Rataan PBB yang rendah ini disebabkan kondisi kandang dengan pasir yang tidak memberikan kenyamanan, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Nutrisi pakan yang dikonsumsi oleh mencit tidak digunakan untuk pertambahan bobot badannya, tetapi digunakan untuk energi menggaruk-garuk badannya serta pertumbuhan bulu yang rontok tersebut.
Mencit pada kandang DSS dan DSP memiliki PBB yang tinggi masing-masing 0,41 dan 0,39 g/e/h. Rataan PBB yang tinggi ini disebabkan mencit merasa nyaman dengan perlakuan tersebut. Pada kandang ini, mencit dapat bermain-main dan memiliki penampilan yang lebih baik serta bersih. Selain itu, mencit tidak perlu terganggu oleh kutu yang menyebabkan rasa gatal. Pakan yang dikonsumsi oleh mencit pada jenis kandang ini juga tidak terkontaminasi oleh jamur (bersih dan tidak bercampur dengan urin dan feses), sehingga pakan yang dikonsumsi benar-benar digunakan untuk pertambahan bobot badan, bukan untuk menggaruk-garuk badan atau menumbuhkan kembali bulu yang rontok.
Mencit pada kandang TSZ pun memiliki PBB yang tinggi (0,38 g/e/h). Rataan PBB yang tinggi ini kemungkinan disebabkan adanya zeolit yang ikut terkonsumsi. Zeolit memiliki kemampuan untuk menyerap zat makanan sehingga hanya sedikit saja yang terbuang dalam saluran pencernaan dan memperlambat laju digesta dalam saluran pencernaan yang memberikan kesan kenyang lebih lama dan daya serap makanan menjadi tinggi.
Rataan bobot badan akhir mencit (umur 63 hari) adalah 27,63 g/e. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa bobot badan akhir mencit nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh jenis alas. Bobot yang tinggi pada S dapat disebabkan konsumsi pakan pada alas sekam lebih tinggi bila dibandingkan dengan alas pasir dan zeolit. Selain itu, mencit pada alas ini memiliki aktivitas normal tetapi tidak agresif, sehingga aktivitas makan menjadi intensif.
Tabel 2. Rataan Bobot Badan Awal dan Akhir serta Pertambahan Bobot Badan Mencit pada Kandang Tanpa Sekat dan Bersekat dengan Alas yang Berbeda
| Penyekatan Alas | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Peubah | Jenis Alas | Tanpa Sekat (TS) | Dengan Sekat (DS) | Rataan | KK | ||
| reuban | Rataan (g/e) | KK (%) | Rataan (g/e) | KK (%) | (g/e) | (%) | |
| Sekam (S) | 16,78 | 15,13 | 15,60 | 13,40 | 16,19 | 14,31 | |
| Bobot Awal | Pasir (P) | 15,79 | 17,52 | 14,04 | 24,93 | 14,92 | 21,22 |
| Zeolit (Z) | 14,74 | 11,68 | 15,31 | 15,32 | 15,03 | 13,31 | |
| Rataan | 15,77 | 15,34 | 14,99 | 17,81 | 15,38 | 16,56 | |
| Pertambahan Bobot Badan | Sekam (S) | 0,33abq | 18,48 | 0,41ap | 19,65 | 0,37 | 22,04 |
| Pasir (P) | 0,28bq | 21,85 | 0,39ap | 24,74 | 0,34 | 28,15 | |
| Zeolit (Z) | 0,38ap | 11,79 | 0,30aq | 25,34 | 0,34 | 21,17 | |
| Rataan | 0,33 | 20,28 | 0,37 | 25,43 | 0,35 | 23,64 | |
| Bobot Akhir | Sekam (S) | 28,26 | 12,00 | 30,04 | 7,73 | 29,15a | 10,09 |
| Pasir (P) | 25,76 | 5,64 | 27,66 | 9,02 | 26,71b | 8,22 | |
| Zeolit (Z) | 28,09 | 7,43 | 25,98 | 11,74 | 27,03ab | 10,14 | |
| Rataan | 27,37 | 9,50 | 27,89 | 10,87 | 27,63 | 10,14 | |
Konsumsi pakan pada alas Z lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis alas lainnya, namun memiliki bobot akhir yang tidak berbeda dengan alas sekam. kemungkinan zeolit sebagai alas kandang terikut dimakan oleh mencit. Zeolit memiliki kandungan mineral yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan sekam dan pasir. Kandungan mineral pakan dalam penelitian ini (7,03%) telah sesuai dengan yang direkomendasikan oleh Smith dan Mangkoewidjojo (1988) yaitu sebesar 5-6%, namun terdapat kemungkinan mencit membutuhkan mineral lain yang tidak terdapat di dalam pakan akan tetapi ada di dalam zeolit.
Oktaviana (2007) dan Panda (2007) didalam penelitiannya mendapatkan bahwa mencit yang diberikan zeolit dalam pakannya memiliki bobot badan akhir yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Zeolit dapat memperlambat laju digesta dalam saluran pencernaan sehingga memberikan kesan kenyang lebih lama dan daya serap makanan menjadi tinggi. Daya serap makanan meniadi tinggi terutama disebabkan zeolit memiliki rongga dengan ukuran antara 2-10 Å (Angstrom) sehingga zat-zat makanan seperti protein vang telah dipecah menjadi lebih kecil dalam bentuk rantai asam amino, yang ukuran molekulnya lebih kecil dengan jarak rongga dalam pilinan α-heliks berukuran maksimal 5,4 Å, dapat masuk kedalam
rongga zeolit dan mudah ditukarkan atau dilepaskan bila diperlukan (Oktaviana, 2007). Sifat ini dinamakan dengan slow release. Walaupun kondisi kandang alas zeolit yang agak lembab dan becek serta ada gangguan dari kutu dan belatung karena kelembaban sekitar kandang yang tinggi, mencit masih memiliki bobot akhir yang lebih baik karena pengaruh zeolit yang sedikit termakan.
Titik infleksi, yang merupakan suatu tahapan dimana hewan telah mencapai dewasa kelamin dan mengalami perlambatan laju pertumbuhan, pada faktor perlakuan jenis alas maupun penyekatan alas dicapai antara awal penelitian sampai dengan minggu pertama yaitu pada saat mencit berumur antara 28-35 hari. Dewasa tubuh mencit pada penelitian kemungkinan dicapai minggu keempat dan kelima (mencit berumur 56-63 hari) seperti ditunjukkan oleh grafik pada Gambar 6.
Konversi Pakan Mortalitas dan Kadar Amoniak dalam Kandang Mencit
Konversi pakan mencit tidak memenuhi asumsi untuk diuji secara parametrik, sehingga dilakukan uji non parametrik dengan menggunakan uii Kruskal-Wallis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa konversi pakan tidak dipengaruhi oleh perlakuan. Rataan umum konversi pakan mencit selama lima minggu penelitian (umur 28-63 hari)
Keterangan: KK = Koefisien Keragaman a,b = Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan bobot akhir dan PBB berbeda pada tingkat kepercayaan 95%.
p,q = Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menyatakan PBB berbeda pada tingkat kepercayaan 95% adalah 36,04 (Tabel 3). Rataan PBB yang rendah pada minggu keempat dan kelima (hampir mencapai konstan) dengan konsumsi yang relatif stabil menyebabkan nilai konversinya menjadi tinggi. Rataan PBB yang hampir konstan mengindikasikan bahwa mencit sudah mencapai dewasa tubuh, sehingga pakan yang dikonsumsi tidak dikonversi untuk pertumbuhan otot, jaringan dan tulang tetapi digunakan untuk pertumbuhan lemak dan organ-organ reproduksi. Selain itu, pada minggu keempat dan kelima ini, mencit mengkonsumsi air
minum dalam jumlah yang tinggi sehingga daya serap.
Seharusnya nilai konversi pakan mencit dalam penelitian sebesar 11,11. Nilai konversi ini pun masih lebih tinggi dari normal. Sudono (1981) menyatakan bahwa mencit memiliki konversi pakan yang tinggi karena sering makan dan minum sehingga sering melakukan urinasi dan defekasi yang mengakibatkan tingkat penyerapan nutrisinya menjadi rendah.

Gambar 6. Bobot Badan Mencit pada (a) Kandang dengan Alas Sekam, Pasir dan Zeolit serta (b) Kandang dengan atau Tanpa Sekat
Tabel 3. Rataan Konversi Pakan Mencit Selama Lima Minggu, Mortalitas dan Kadar Amoniak pada Kandang Tanpa Sekat dan Bersekat dengan Alas yang Berbeda
| Peubah | Penyekatan Alas | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jenis Alas | Tanpa Sekat (TS) | Dengan Sekat (DS) | Rataan | KK | |||
| Jenis Alas | Rataan | KK | Rataan | KK | Kalaali | ||
| (%) | (%) | (%) | |||||
| Konversi Pakan | Sekam (S) | 72,60 | 126,01 | 27,49 | 67,32 | 50,00 | 135,07 |
| Pasir (P) | 28,47 | 29,36 | 21,68 | 54,95 | 25,07 | 41,86 | |
| Zeolit (Z) | 15,78 | 56,14 | 50,20 | 96,49 | 33,00 | 114,95 | |
| Rataan | 38,90 | 144,73 | 33,12 | 95,87 | 36,04 | 125,66 | |
| Mortalitas | Sekam (S) | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| Pasir (P) | 1 | 14,29 | 0 | 0 | 0,07 | 7,14 | |
| Zeolit (Z) | 0 | 0 | 1 | 14,29 | 0,07 | 7,14 | |
| Rataan | 0,05 | 4,76 | 0,05 | 4,76 | 0,048 | 4,76 | |
| Jenis Alas | Hari ke-2 | Hari ke-6 | Rataan | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (µg/m³) | (ppm) | (µg/m³) | (ppm) | (µg/m³) | (ppm) | ||
| Kadar Amoniak | Sekam (S) | 23,05 | 0,0304 | 28,25 | 0,0372 | 25,65 | 0,0338 |
| Pasir (P) | 9,56 | 0,0126 | 8,19 | 0,0108 | 8,87 | 0,0117 | |
| Zeolit (Z) | 5,03 | 0,0066 | 4,34 | 0,0057 | 4,69 | 0,0062 | |
| Rataan | 12,58 | 0,0165 | 13,59 | 0,0179 | 13,07 | 0,0172 | |
Keterangan: Hasil Analisis NBC di Laboratorium Analisis Kimia dan Bioaktif, Pusat Penelitian Sumberdaya Hasil Analisis NBC di Laboratorium Analisis Kimia dan Bioaktif, Pusat Penelitian Sumberdaya Hasil Analisis NBC di Laboratorium Analisis Kimia dan Bioaktif, Pusat Penelitian Sumberdaya Hasil Analisis NBC di Laboratorium Analisis Kimia dan Bioaktif, Pusat Penelitian Sumberdaya Hasil Analisis NBC di Laboratorium Analisis Kimia dan Bioaktif, Pusat Penelitian Sumberdaya
Hayati dan

Gambar 7. Konversi Pakan Mencit pada (a) Kandang dengan Alas Sekam, Pasir dan Zeolit serta (b) Kandang dengan atau Tanpa Sekat
Rataan dan persentase kematian mencit yang terjadi selama penelitian disajikan pada Tabel 3. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa mortalitas mencit selama penelitian tidak dipengaruhi oleh jenis alas, penyekatan alas maupun interaksi antara keduanya. Kematian yang terjadi selama penelitian adalah 0,048 ekor atau 4,76%.
Kematian mencit pada penelitian ini hanya terjadi pada perlakuan kandang TSP dan DSZ masing-masing satu ekor atau 14,29%. Kedua mencit yang mati pada perlakuan ini kemungkinan disebabkan mencit tersebut sakit. Gejala yang muncul, yaitu tidak aktif (hanya diam pada salah satu tempat saja), jarang makan dan minum, bulunya kusam dan memiliki kerontokan bulu yang lebih parah. Mencit ini menjadi lemas dan gemetaran serta mengalami penurunan dalam bobot badan dan pada akhirnya mencit menjadi mati.
Rataan kadar amoniak dalam kandang mencit mencapai 13,07 µg/m³ atau 0,0172 ppm seperti yang tampak pada Tabel 3. Kadar amoniak dalam kandang pada penelitian ini jauh lebih rendah daripada hasil penelitian Memarzadeh et al. (2004) yang mendapatkan rataan kadar amoniak dalam kandang mencit adalah 9,56 ppm. Perbedaan ini disebabkan perbedaan cara pengukuran sampel amoniak dalam kandang.
Victorian Government Department of Primary Industries (2007) menyatakan bahwa kadar amoniak yang boleh ada di dalam kandang mencit tidak boleh melebihi 25 ppm dalam kurun waktu lebih dari delapan jam karena dapat membuat iritasi saluran pernapasan dan dapat mengakibatkan penyakit pernapasan akut. Amoniak baru dapat dideteksi, jika kadarnya telah mencapai satu ppm. Berdasarkan analisis kadar amoniak, jumlah mencit yang dapat ditampung dalam sebuah bangunan, jika kadar amoniak
maksimum adalah 25 ppm, yaitu sebesar 1453,48 ekor atau 1454 ekor dengan syarat alas kandang yang digunakan harus diganti setiap hari.
Secara umum, alas S memiliki kadar amoniak yang lebih tinggi (25,65 \(\mu\)g/m³ atau 0,0338 ppm) kemudian P (8,87 \(\mu\)g/m³ atau 0,0117 ppm) dan Z (4,69 \(\mu\)g/m³ atau 0,0062 ppm). Alas sekam memiliki kadar amoniak yang tinggi karena kemampuannya menyerap (absorbsi) urin dan amoniak. Sekam memiliki pori-pori yang dapat mengikat urin dan amoniak. Selain itu, pada alas ini mencit mengkonsumsi (4,65)gram pakan BK/ekor/hari) yang tinggi sehingga metabolisme mencit tinggi. Metabolisme yang tinggi membutuhkan membutuhkan air minum untuk mengencerkan nitrogen (urea) yang dapat berbahaya bagi tubuh dan akan dikeluarkan melalui urin. Pada urin sudah terkandung amoniak dan beberapa bakteri urease yang dapat memecah protein pada urin ataupun pakan yang telah terjatuh untuk di ubah menjadi amoniak.
Berbeda dengan sekam. pasir tidak mempunyai kapasitas tukar kation (adsorbansi), ataupun kemampuan menyerap urin (absorbansi). Dengan sifat ini, pasir tidak mampu menyerap urin atau mengikat amoniak yang dihasilkan dengan baik, sehingga amoniak dengan mudah akan menguap ke udara dan kadar amoniaknya lebih rendah daripada sekam. Pasir memiliki ukuran yang kecil dan dalam jumlah yang padat, oleh karena itu aliran urin masih dapat tertampung di bagian tengah lapisan pasir. Urin yang tertampung ini masih terdapat kandungan protein dan bakteri urease yang dapat memecah protein tersebut menjadi amoniak. Hal ini menyebabkan pasir memiliki kandungan amoniak yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan alas zeolit. Selain itu metabolisme di dalam tubuh mencit masih
lebih rendah bila dibandingkan dengan alas sekam.
Kadar amoniak pada alas zeolit lebih rendah bila dibandingkan dengan alas sekam dan pasir, hal ini disebabkan zeolit memiliki kemampuan untuk menyerap urin dan amoniak yang dihasilkan oleh mencit. Zeolit memiliki struktur pori dan memiliki muatan negatif yang mampu mengikat amoniak dengan kuat. Zeolit pun memiliki ukuran yang agak besar bila dibandingkan dengan pasir, sehingga urin dapat dengan mudah menerobos ke lapisan dasar kandang. Metabolisme tubuh mencit pun rendah karena konsumsi pakan dan air minum mencit vang lebih rendah, akibatnya urin dan feses yang dihasilkan pun akan lebih sedikit.
Keadaan kadar amoniak pada alas sekam cenderung meningkat setiap harinya, sedangkan pada alas pasir dan zeolit tidak naik bahkan cenderung menurun seperti yang tampak pada Gambar 8.
Pada alas sekam, metabolisme mencit meningkat setiap minggu seperti yang terlihat dari peningkatan konsumsi pakan dan air minum pada Gambar 3 dan 4. Jumlah urin dan bakteri urease yang dikeluarkan oleh mencit setiap harinya menjadi bertambah dan terus diserap oleh sekam. sehingga konsentrasinva meniadi ienuh. Berbeda dengan pasir dan zeolit yang mampu melepaskan amoniak ke dalam udara bebas. sehingga kadar amoniak dalam kandang pun konstan bahkan cenderung menurun.

Gambar 8. Rataan Kadar Amoniak Kandang Mencit pada Hari Kedua dan Keenam dalam Setiap Minggu
Perlakuan Terbaik
Perlakuan jenis alas dan penyekatan yang terbaik dapat menjadi alternatif pilihan bagi peternak mencit untuk dimanfaatkan dalam budidaya mencit. Perlakuan yang terbaik ini dipilih berdasarkan peubah-peubah yang diamati dalam penelitian ini dan disajikan pada Tabel 4.
Dari Tabel 4 memperlihatkan bahwa kandang sekat dengan berbagai jenis alas merupakan pilihan yang terbaik karena memiliki nilai yang tinggi bila dibandingkan dengan kandang tanpa penyekatan. Hal ini disebabkan karena mencit tidak perlu bersentuhan dengan alas yang kotor, urin, feses maupun memakan pakan yang telah terkontaminasi oleh jamur. Selain itu pada kandang bersekat, mencit tampak lebih senang bermain, aktif, memiliki bulu yang halus dan cerah.
Tabel 4. Perlakuan Alas yang Terbaik Berdasarkan Peubah yang Diamati
| Perlakuan | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Peubah | Sekan | 1 | Pas | ir | Zeolit | |||
| reuban | Tanpa Sekat | Sekat | Tanpa Sekat | Sekat | Tanpa Sekat | Sekat | ||
| Konsumsi Pakan | ٧ | ٧ | V | - | - | - | ||
| Konsumsi Minum | - | V | - | V | - | V | ||
| Bobot Akhir | V | V | - | - | V | - | ||
| PBB | - | V | - | V | V | ٧ | ||
| Konversi Pakan | - | V | - | V | V | V | ||
| Mortalitas | V | V | - | V | V | V | ||
| Kadar Amoniak | - | - | - | - | V | V | ||
| Total | 3 | 6 | 1 | 4 | 5 | 5 | ||
Keterangan: v = perlakuan terbaik - = kurang baik
Journal of Indonesia Zeolites
Penampilan mencit pun lebih baik bila dibandingkan dengan mencit pada kandang tanpa sekat (terlihat dari PBB yang tinggi dan konversi pakan yang efisien). Kelemahan yang muncul pada kandang bersekat ini adalah pakan lebih sering jatuh dan tidak dapat langsung diambil oleh mencit kembali. Sehingga, diusahakan untuk memberikan sekat dengan ukuran yang lebih rapat agar pakan dapat diambil kembali oleh mencit dan tidak terjatuh ke alas.
Kandang DSS dan DSZ serta TSZ memiliki nilai yang lebih baik bila dibandingkan dengan alas pasir. Hal ini dapat menjadi alternatif yang dapat digunakan oleh peternak mencit dalam membudidayakan mencit atau tikus. Pada alas sekam, mencit memiliki bobot akhir yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan alas zeolit. Kelemahannya adalah kadar amoniak yang tinggi sehingga alas sekam harus lebih sering diganti bila dibandingkan dengan zeolit. Hal ini tentu memerlukan tambahan tenaga kerja dan biaya. Berbeda dengan zeolit yang dapat dicuci dan digunakan kembali sehingga dapat menghemat tenaga kerja dan biaya yang dikeluarkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Perlakuan terbaik yang dapat diterapkan dalam bidang pembudidayaan mencit adalah kandang dengan alas zeolit baik bersekat maupun tidak. Karena pada kandang ini mencit memiliki pertambahan bobot badan, konversi pakan, konsumsi minum, bobot akhir dan mortalitas yang lebih baik. Kadar amoniak dalam kandang pun lebih rendah bila dibandingkan dengan kandang lainnya.
Saran
Cara pengukuran konsumsi pakan sebaiknya dilakukan dengan cara menimbang bobot alas sebelum digunakan, kemudian alas yang telah digunakan dijemur, dipisahkan dengan feses dan ditimbang bobotnya. Bobot alas setelah dipisahkan dan dijemur dikurangi dengan bobot alas sebelum digunakan merupakan konsumsi pakan mencit.
Sekam dan zeolit masing-masing dapat memberikan performa yang baik bagi mencit. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap komposisi campuran sekam dan zeolit yang mampu memberikan performa mencit terbaik.
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Gasperz, V. 1995. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Jilid Pertama. Cetakan Ketiga. Tarsito, Bandung.
- 2. Sudono, A. 1981. Pengaruh interaksi antara genotip dan lingkungan terhadap pertumbuhan, keefisienan makanan, daya reproduksi, dan produksi susu mencit. Disertasi. Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
- 3. Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
- 4. Piliang, W. G. dan S. Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi. Volume I. IPB Press, Bogor.
- 5. Malole, M. B. M. dan U. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan Percobaan di Laboratorium. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
- 6. National Research Council. 1995. Nutrient Requirement of Laboratory Animals. Fourth Ed. National Academy Press, Washington.
- 7. Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan Kedua. Lembaga Satu Gunung Budi, Bogor.
- 8. Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
- 9. Inglis, J. K. 1980. Introduction to Laboratory Animal Science and Technology. Pergamon Press, Oxford, British.
- 10. Smith, J.B. dan S. Mangkoewidjojo. 1988. Pemeliharaan Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
- 11. Oktaviana, U. D. 2007. Pengaruh taraf penambahan zeolit dalam ransum terhadap performa mencit (Mus musculus) hasil induk litter size kedua. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
- 12. Panda, R. 2007. Pengaruh taraf penambahan zeolit dalam ransum terhadap performa produksi mencit (Mus musculus) lepas sapih hasil litter size pertama. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
- 13. Memarzadeh, F., P. C. Harrison, G. L. Riskowski dan T. Henze. 2004. Comparison of environment and mice in static and mechanically ventilated isolator cages with different air velocities and ventilation designs. J. Contempory Topics 43 (1): 14-20.
- 14. Victorian Government Department of Primary Industries. 2007. Code of practice for the housing and care of laboratory mice, rats, guinea pigs and rabbits.http://www.dpi.vic.gov.au/animal welfare [10 November 2007].
