1. Home
  2. Archives
  3. Vol 9 (2010) Issue 1
  4. Articles

Synthesis Material of Zeolite Nanoporous (zsm-5) from Coal Fly Ash

Abstract

Coal fly ash (CFA) is the waste of coal usage that requires serious attention on handling because it is have the large quantity and containing a dangerous substances for environmental. The interesting method of waste processing of CFA is using CFA as zeolite raw material because CFA have a rich silicate and alumina. In this study, CFA is used as a raw material for zeolite synthesis nanoporous (ZSM-5) so that expected could be a solution for waste processing of CFA and also could be deliver a valuable materials that needed on many applications. Based on the result of characterization XRD and SEM, was known that structure of ZSM-5 and other zeolites (Na12Al12Si12O48.27H2O and Na0,3Al2,564Si100O203,996) have been successfully synthesized on hydrothermal processing at temperature of 97°C and the pressure of 1,3 bar.

PENDAHULUAN

Harga yang relatif murah dan ketersediaan cadangan yang masih melimpah menjadikan batubara sebagai salah satu primadona sumber energi di dunia. Hal ini dapat terlihat dari pemenuhan 50% sumber energi amerika serikat yang berasal dari batu bara (EIA-Official Energy Statistics from the U.S. Government, 2008) [1]. Akan tetapi, konsumsi batu bara melalui pembakaran akan menghasilkan limbah berupa coal fly ash (CFA) dan coal bottom ash dalam jumlah yang sangat besar. Jumlah CFA yang dihasilkan beberapa negara dunia dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Sampai sejauh ini pemanfaatan terbesar CFA adalah dalam bidang konstruksi yaitu sebagai bahan baku semen, beton, aspal dan batu bata. Namun pemanfaatan tersebut hanya sekitar 15% dari total fly ash yang dihasilkan, sedangkan 85% sisa CFA masih dibuang begitu saja ke laut ataupun ditimbun (Prashant Kumar et al., 2001) [2]. Penimbunan ataupun pembuangan langsung akan menimbulkan permasalahan serius terhadap lingkungan karena CFA mengandung substansi berbahaya seperti arsenic (As), cadmium (Cd), copper (Cu), lead (Pb), zinc (Zn), selenium (Se) and mercury (Hg) serta zat radioaktif seperti uranium (U), thorium (Th), radium (Ra), dan radon (Rn) (Baba and Gurdal, 2006) [3].

Selain sebagai bahan baku konstruksi, CFA memiliki potensi lain yang belum banyak digali, yaitu sebagai sumber logam berharga, sebagai bahan baku dalam proses sintesis zeolit, dan sebagai bahan baku dalam berbagai aplikasi keramik lainnya seperti untuk fireproofing material (Vinay Kumar et al., 2006) [4].

Tabel 1. Jumlah limbah CFA dunia di ambil dari beberapa negara [1] .

Limbah CFA (juta ton)
Negara200520062007
Cina2.3332.5842.893
Amerika1.1251.1121.128
India506551579
Jepang196197206
Australia156156146
Indonesia252450

Dalam penelitian ini, kami memanfaatkan CFA sebagai bahan baku sintesis ZSM-5 karena ZSM-5 adalah salah satu nanoporous material yang berharga dengan aplikasi sebagai katalis selektif dalam industri minyak, filter, absorben dan biomaterial (Vinay Kumar et al., 2006). Diharapkan dengan adanya studi pendahuluan ini, limbah CFA dapat dimanfaatkan menjadi nanoporous material yang berharga sekaligus menjadi salah satu solusi penanganan limbah CFA.

METODOLOGI PENELITIAN

Sintesis zeolit dari CFA

Sebelum digunakan sebagai bahan baku pembuatan zeolit, CFA di-leaching terlebih dahulu dengan menggunakan HCl 10 M untuk menghilangkan pengotor yang tidak diinginkan. Selanjutnya CFA tersebut dicampurkan dengan NaOH padatan dengan perbandingan berat 1 : 1,2 dan dipanaskan pada temperatur 550°C selama 1 jam. Campuran yang dihasilkan kemudian didinginkan pada temperatur kamar dan dihaluskan dengan ball milling selama 24 jam dengan bola alumina hingga didapatkan masa fusi. Kemudian ditambahkan aqua dm dengan perbandingan berat 1:4 untuk selanjutnya disaring sehingga didapatkan larutan supernatant,

Sebanyak 57 ml larutan supernatant ditambahkan kedalam 22,5 ml larutan Sodium dodecyl sulphate (SDS) 0,21 M dan NH4OH hingga pH 9,5-10. Kemudian campuran ini dihidrotermal selama 5 hari pada temperatur 97°C dan tekanan 1,3 bar dan di- aging selama 3 hari. Selanjutnya sampel dipanaskan pada temperatur 550°C selama 5 hari dan didinginkan pada temperatur kamar hingga didapatkan produk akhir.

Karakaterisasi

Untuk mengetahui kandungan di dalam sampel CFA sebelum dan sesudah leaching, dan larutan supernatant yang dihasilkan, dilakukan karakterisasi dengan menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Struktur kristal dari sampel yang dihasilkan dianalisis dengan menggunakan metoda X-Ray Diffraction (XRD) (Philips Analytical X-Ray B.V, dengan CuKα, λ = 1,54 Å). Morfologi dan kandungan unsur dari sampel yang dihasilkan dikarakterisasi dengan menggunakan metoda Scanning Electron Microscopy dan Energy Disperse Xray Spectroscopy (SEM-EDS) (JSM – 35 C). Sedangkan untuk mengetahui berbagai gugus fungsi dan ikatan yang terbentuk, digunakan metoda Fourier Transform Infra Red (FTIR).

HASIL DAN ANALISIS

Perlakuan Awal CFA

Sifat kimia CFA banyak dipengaruhi oleh karakteristik batu bara yang dibakar dan teknik yang digunakan selama pengelolaan dan penyimpanannya. Tabel 2 menunjukkan kisaran normal komposisi kimia dari tiga jenis CFA yang diperoleh dari tiga jenis batu bara yaitu bitumious, subbitumious dan lignite.

Oleh karena itu, sebelum digunakan sebagai bahan baku sintesis zeolit, kandungan senyawa didalam CFA karakterisasi terlebih dahulu dengan menggunakan metoda AAS. Selain itu, pengukuran AAS juga dilakukan terhadap CFA setelah proses leaching dan larutan supernatant untuk mengetahui kandungan senyawa didalamnya. Hasil pengukuran AAS tersebut dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.

Dari hasil pengukuran, diketahui bahwa CFA yang menjadi bahan baku dalam percobaan ini tergolong CFA yang berasal dari batubara jenis bituminous. Seperti terlihat pada tabel 3,

Journal of Indonesia Zeolites

diketahui bahwa didalam CFA telah mengandung bahan baku awal pembuatan zeolit ZSM-5 yaitu silika (31,66%), alumina (21,96%) dan Na<sub>2</sub>O (0,49%). Akan tetapi didalam CFA juga masih mengandung Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub> dan CaO yang merupakan pengotor yang tidak diinginkan dalam sintesis ZSM-5. Oleh karena itu, sebelum digunakan, CFA dileaching terlebih dahulu dengan HCl 10 M untuk menghilangkan pengotor yang tidak diinginkan. Dari hasil karakterisasi AAS diketahui bahwa jumlah pengotor didalam CFA telah berkurang sebanyak 90% setelah proses leaching.

Proses selanjutnya adalah penambahan NaOH berlebih terhadap CFA yang telah mengalami proses leaching. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah Na didalam supernatant, meningkatkan kelarutan silika dan alumina serta mengurangi kelarutan Fe<sup>3+</sup> dan Ca<sup>2+</sup> yang tidak diinginkan dalam proses sintesis ZSM-5. Kandungan utama dalam supernatant dapat dilihat pada tabel 2.

Hasil XRD

Hasil XRD sampel dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini. Dari pola tersebut, dapat terlihat bahwa terdapat puncak pada \(2\theta = 8,935^{\circ}\)yang berdasarkan literatur merupakan puncak

spesifik dari ZSM-5 (Si<sub>11,96</sub>Al<sub>0.04</sub>O<sub>24</sub>) (PDF #800922). Selain ZSM-5 yang terbentuk, didalam sampel terdapat pula zeolit tipe lain yaitu Na<sub>12</sub>Al<sub>12</sub>Si<sub>12</sub>O<sub>48</sub>.27 H<sub>2</sub>O (PDF #470162) dan \(Na_{0.3}AI_{2.564}Si_{100}O_{203.996}\) (PDF #430040). ZSM-5 yang masih sedikit pada sampel dipengaruhi oleh adanya kandungan senyawa lain (pengotor) yang dapat menghambat pembentukan struktur ZSM-5.

Spektrum FTIR

Berbagai ikatan yang terbentuk dapat dibuktikan dengan menggunakan metoda FTIR vang hasilnya dapat dilihat pada gambar 2. Munculnya puncak pada daerah sekitar 1100 cm 1 menunjukkan adanya gugus Si-O-Si didalam sampel. Sedangkan puncak daerah 800 cm<sup>-1</sup> menuniukkan terbentuknya gugus Si-OH selain gugus Si-O-Si. Hal ini diperkuat dengan adanya puncak pada daerah 3300 cm<sup>-1</sup> yang merupakan indikasi adanya gugus OH (Silverstein et al., 1991) [5]. Semua puncak menunjukkan adanya gugus silicate didalam sampel. Sedangkan keberadaan gugus Al-O-Al dapat diketahui dari munculnya puncak pada daerah 593 cm<sup>-1</sup> (Kazuo Nakamoto, 1986) [6].

Tabel 2.. Komposisi kimia CFA dihasilkan dari jenis batubara yang berbeda [4].

ComponentComposition / mass%
ComponentBituminousSubbituminousLignite
\(SiO_2\)20-60406015-45
\(Al_2O_3\)5-3520-3010-25
\(Fe_2O_3\)10-404–104-15
CaO1–125-3015-40
MgO0-51–63-10
\(SO_3\)0-40–20-10
Na2O0–40–20-6
\(K_2O\)0-30-40-4
LOI0-150-30-5

Tabel 3. Data kuantitatif hasil AAS

KomponenCFA awal
(%)
CFA akhir
(%)
Supernatant (ppm)
SiO231,66tk10100
\(Al_2O_3\)21,96tk600
\(Fe_2O_3\)13,961,72tk
CaO9,060,4460
MgO4,26tktk
K2O0,68tktk
Na₂O0,49tk31800
HP6,92tktk

Keterangan, tk= tidak dilakukan karakterisasi pada unsur tersebut

1

Gambar 1. Spektrum XRD Sampel

3 4

Gambar 2. Spektrum FTIR sampel

Selain gugus silikat tersebut, adanya puncak pada daerah 2900 cm-1 dan 1400 cm-1 yang mengindikasikan masih adanya pengotor karbon[5] yang berasal dari proses penghilangan SDS yang tidak sempurna.

Hasil SEM-EDS

Untuk mengetahui morfologi sampel yang terbentuk, dilakukan karakterisasi SEM yang hasilnya dapat dilihat pada gambar 3 berikut

ini. Sebagaimana terlihat pada gambar 3, morfologi sampel terlihat memanjang beraturan seperti fiber. Morfologi memanjang ini sesuai dengan model struktur ZSM-5 yang berasal pada literature (University of Limerick, 2005) [7]. Hasil SEM ini memperkuat hasil XRD yang menunjukkan struktur ZSM-5 sudah terbentuk dalam sampel.

Gambar 3. Gambar (a) dan (b) SEM sampel , dan (c) model struktur ZSM-5[7]

Untuk mengidentifikasi kandungan unsurunsur didalam sampel, dilakukan karakterisasi dengan metoda EDS. Dari hasil EDS (tabel 4) diketahui bahwa kandungan unsur-unsur terbesar adalah oksigen (O), sodium (Na), silikon (Si) dan aluminum (Al). Kandungan unsur-unsur ini mendukung ke arah pembentukan zeolit ZSM-5. Namun pada sampel juga masih terkandung pengotor yang tidak diinginkan yaitu karbon dan kalsium. Pengotor karbon berasal dari proses penghilangan SDS yang tidak sempurna, sedangkan kalsium berasal dari CFA yang masih tersisa. Adanya pengotor ini dapat penghambat proses pembentukan struktur berpori ZSM-5.

Tabel 4. Data kuantitatif hasil EDS pada sampel

UnsurMassa (%)
C11,27
O52,93
Na32,73
Al0,23
Si2,80
S-
Ca0,03

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil AAS, diketahui bahwa CFA yang digunakan dalam percobaan ini berasal dari batubara jenis bituminous. Selain itu, proses leaching telah berhasil menghilangkan pengotor Ca2+ dan Fe3+ dari CFA sebanyak 90%. Berdasarkan data XRD dan SEM, diketahui bahwa Zeolit ZSM-5 telah berhasil disintesis dengan bahan baku CFA dengan menggunakan metoda hidrotermal pada tekanan 1,3 bar dan temperatur 97oC. Meskipun begitu, zeolit yang dihasilkan masih berupa campuran dengan zeolit lain yaitu dengan Na12Al12Si12O48.27 H2O dan Na0,3Al2,564Si100O203,996.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Energy Information Administration (EIA)- Official Energy Statistics from the U.S. Government. 2008. "International Energy Annual Report 2006", Energy Information Administration, December.
  • 2. Prashant Kumar, N Mal, Y Oumi, K Yaman, T Sano. 2001. "Mesoporous Materials Prepared Using Coal Fly Ash as Silicon and Aluminium Source", Journal of Materials Chemistry, 11, 3285-3290.
  • 3. Baba, A., Gurdal, G., 2006, "Concentrations of heavy metals in fly ash from CAN coal combustion thermal power

  • plant (Canakkale-Turkey)-II", Chinese Journal Geochemistry, Vol. 25 (Suppl.)
  • 4. Vinay Kumar JHA, M Matsuda, M Miyake. 2006. "Resource Recovery from Coal Fly Ash Waste: an Overview Study", Journal of Ceramic Society of Japan 116 [2] 167- 175.
  • 5. Silverstein, R.M., Bassler, G.C., Morril, T.C., 1991. "Spectrometric Identification
  • of Organic Compounds", John Wiley & Sons, 5th edition.
  • 6. Kazuo Nakamoto, 1986, "Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination Compounds", John Wiley & Sons, 4th edition.
  • 7. University of Limerick. 2005. "Zeolits", Summer School in Energy and Environmental Catalysis. July.