PENDAHULUAN
Zeolit adalah mineral yang mempunyai struktur kristal yang sangat unik yaitu mudah diatur, sehingga sifat zeolit dapat dimodifikasi sesuai dengan keperluan pemakai. Karena keistimewaan tersebut maka zeolit dapat dipakai dalam berbagai bidang kegiatan seperti bidang peternakan, pertanian. kedokteran/kesehatan, lingkungan, industri bahan bangunan dan lain-lain. Sebelum digunakan umumnya zeolit alam harus ditingkatkan dulu mutunya. Untuk meningkatkan mutu zeolit alam Indonesia dalam upaya memperoleh nilai tambah yang lebih besar maka dilakukan pemurnian, aktivasi dan modifikasi. Peningkatan mutu ini dimaksudkan untuk memperbesar kemampuan zeolit baik dari segi daya pertukaran ion, daya katalisnya, daya absorpsi, maupun daya saring molekulnya. Zeolit-H adalah zeolit alam yang telah dimodifikasi sehingga mempunyai situs asam. Zeolit-H ini dibuat agar mudah disubstitusi oleh logam. dilakukan Pembuatan zeolit-H melalui pemurnian zeolit alam yang dilanjutkan dengan pembuatan zeolit- NH<sub>4</sub> seperti reaksi dibawah ini:
\[\begin{split} & Zeo\text{-M}_{(s)} \ + \text{NH}_4\text{Oac}_{(l)} \ \rightarrow Zeo\text{-NH}_{4(S)} + \\ & \text{MOAc}_{(l)}, \\ & Zeo\text{-NH}_{4~(i)} + \text{HCI}_{(i)} \rightarrow Zeo\text{-H}_{(s)} + \text{NH}_4\text{CI}_{(l),.} \end{split}\]
Dewasa ini penggunaan antiseptik dalam rumah tangga dinilai sudah berlebihan. karena selain membunuh bakteri juga membunuh semua mikro organisme vang diperlukan sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu diperlukan suatu bahan antiseptik yang ramah lingkungan. Dalam kontek ini, bahan antiseptik tersebut didefinisikan sebagai bahan antiseptik yang dapat menekan secara selektif pertumbuhan mikroba perusak atau jamur yang dinilai merugikan. Secara teknis bahan antiseptik tersebut dibuat melalui metode impregnasi, dengan cara aliran kontinyu, yaitu memasukkan senyawa atau unsur logam kedalam struktur kristal tanpa merubah struktur kristal tersebut.Beberapa jenis logam inhibitor yang dapat digunakan dalam impregnasi, antara lain Ag. Cu. Zn. Hg. Sn, Pb, Bi, Cd, Cr, dan Ti, karena logamlogam tersebut mempunyai spektrum yang luas sebagai anti mikroba. Logam inhibitor vang dimpregnasikan di dalam zeolit, iika dikontakkan ke dalam sistim sel mikroba dapat merusak sistem enzim dan plasma sel. sehingga dapat berfungsi sebagai bahan pencegah secara selektif pertumbuhan
mikroba perusak atau jamur yang dinilai merugikan. Untuk menguji bahan antiseptik tersebut terhadap bakteri dan jamur maka dilakukan uji daya serap dan uji daya pertumbuhan bakteri. Kebutuhan bahan baku industri farmasi maupun industri kosmetik di Indonesia hingga kini masih bergantung kepada bahan baku impor, yang berdampak terhadap cadangan devisa negara. Pemanfaatan mineral zeolit alam sebagai bahan antiseptik diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi ketergantungan bahan baku farmasi impor, oleh karena itu penelitian ke arah tersebut menjadi penting (urgent) untuk dilakukan.
Tujuan penelitian disini adalah memperoleh teknologi proses pembuatan material antiseptik berbasis zeolit dengan logam inhibitor Cu serta mengetahui efek toksik dari zeolit-Cu terhadap mikroba patogen (E-Coli dan Candida albican).
TINJAUAN PUSTAKA
Kristal zeolit, dibentuk oleh oleh tetrahedral \([SiO_4]^{4-}\) dan \([AIO_4]^{5-}\) melalui jembatan oksigen (-Si-O-Al-). Substitusi Si (IV) oleh Al (III) dalam tetrahedral mengakibatkan muatan negatif dalam struktur. Tetrahedron tersebut membentuk kerangka tiga dimensi yang membentuk banyak ruang terbuka membentuk lorong yang saling terkoneksi, rongga tersebut biasanva diisi oleh molekul air dan kation vang menempel pada posisi negative charge dari struktur tetrahedral. Kation penetral di dalam struktur zeolit alam terdiri dari gol I dan II (K, Na, Ca, Ba dan Mg). Menurut konsep Lewis-Bronsted, tetrahedral merupakan molekul dengan situs basa karena dapat berfungsi sebagai donor pasangan elektron atau akseptor proton. Sedangkan gugus penetral dari golongan alkali tanah bersifat sebagai situs asam atau donor proton. Dalam kondisi netral (kristal situs asam dari kation penetral, zeolit) posisinya tidak mudah disubstitusi oleh kation Cu karena logam inhibitor Cu termasuk asam lunak (Hard and Soft Acid Bases dari Pearson, 1963) [2]. Akibatnya situs asam dari rangka zeolit perlu diubah menjadi situs asam lunak melalui pembentukan H-zeolit untuk mempermudah proses substitusi oleh logam-logam inhibitor. Konsep zeolit sebagai antiseptic carrier berangkat dari sifat cation reversible, hal tersebut dapat dilihat dari zeolit yang dibentuk oleh kristal aluminium silikat, dengan kation gol. I dan II. Rumus empiris: M<sub>2/n</sub>O·Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub>·y SiO<sub>2</sub>·wH<sub>2</sub>O. Dimana M sebagai
sumber kation yang dapat dipertukarkan (CEC). Kristal zeolit alam, biasa bercampur dengan mineral lain (al : montmorilonit, apatit, kuarsa) dan oksida bebas dari jenis Al, Si maupun Fe. Dengan adanya SiO2 bebas maka dalam memurnikan zeolit alam perlu dilakukan proses pelarutan oksida tersebut dengan asam fluorida atau substitusi asam mineral lain pada konsentrasi tertentu yang bertujuan hanya melarutkan oksida-oksida pengotor termasuk silika, alumina bebas maupun besi oksida. Karakter fluorida perlu diperhitungkan agar tidak merusak kristal yang dibentuk oleh senyawa silikat. Struktur tetrahedral zeolit di alam di Indonesia, biasanya diikuti oleh kation-kation penetral dari jenis K, Na, Ca, Ba dan Mg. Kation penetral, bukan merupakan bagian kerangka zeolit dan terdistribusi di dalam saluran rongga-rongga rangka. Kation tersebut bersifat mudah bergerak, tetapi tidak mudah meninggalkan kristal, karena untuk mempertahankan kenetralan kristal. Berdasarkan sifat tersebut, maka dipilih teknik soaking impregnation (wet impregnation) terhadap struktur H-zeolit oleh logam inhibitor Cu. Pemilihan inhibitor berdasarkan sifat oligodinamik yang spesifik dari logam tersebut terhadap mikroba patogen. Dengan memahami karakter, kondisi yang diperlukan untuk proses teknik impregnasi logam inhibitor pada struktur zeolit, maka tetrahedral akan berfungsi sebagai antiseptic carrier.
Penelitian terdahulu memperlihatkan, bahwa zeolit alam Indonesia didominasi oleh jenis mordenit dengan formula kimia Ca,K2,Na2)Al2Si12O24 7H20, pada pemanasan suhu yang tinggi (>800oC), akan mengakibatkan zeolit collaps dan kristal akan berubah menjadi bentuk amorf, pada kondisi demikian fungsi alamiah dari kristal menjadi hilang (Lenny M.Estiaty, Yoshiaki Gotto,Dewi Fatimah et.al, 2002) [3]. Sedangkan untuk jenis klinoptilolit tidak boleh lebih dari 500oC. Sehingga temperatur kalsinasi perlu dikontrol dengan baik agar sifat zeolit sebagai antiseptic carrier dapat dicapai.
Penanaman/pemasukan logam pada struktur zeolit dapat menyebabkan perubahan beberapa sifat zeolit seperti stabilitas terhadap panas, lebih tahan terhadap perubahan pH, maupun sifat adsorpsinya, sehingga akan memperbaiki sifat zeolit alam. Dengan didapatkannya metode optimum pembuatan material antiseptik berbasis zeolit alam dengan logam inhibitor tersebut diharapkan membuka peluang baru dalam pemanfaatan mineral silikat alam khususnya
zeolit sebagai antiseptic carrier, sehingga akan menaikkan nilai ekonomi dari zeolit (golongan C), serta akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri farmasi maupun industri kosmetika.
METODA PENELITIAN
Penelitian terbagi dalam 3 (tiga) bagian, secara garis besar terbagi dalam bagian yang saling terkait, yaitu: Preparasi sampel zeolit, proses impregnasi dan uji produk terhadap mikroba patogen.
1) Preparasi sampel zeolit yang sesuai
Zeolit yang diambil dari alam diseleksi melalui pembersihan dari pengotor non-zeolit seperti tanah, ranting ataupun pelapuk organik melalui pencucian dengan air. Kemudian dilakukan pengeringan pada suhu sekitar 105oC, selanjutnya dilakukan proses pengecilan ukuran, ukuran yang dipilih adalah -8 +16 mesh.
2) Proses impregnasi, melalui proses aktivasi dan modifikasi
Sebelum dilakukan proses impregnasi, zeolit akan diaktivasi melalui perendaman dengan asam fluorida 0.1 N, dilanjutkan dengan HCl pada variasi konsentrasi 0.5N -2N. Dilakukan pula pencucian dengan aquades untuk menghilangkan kelebihan asam, kemudian dilakukan kalsinasi pada suhu 200oC-300oC. Selanjutnya dilakukan modifikasi dengan cara pengubahan zeolit menjadi bentuk ammonium. Kemudian dilakukan modifikasi dengan asam khlorida untuk menjadikan zeolit-H. Setelah itudilakukan proses impregnasi, metode yang digunakan teknik soaking impregnation (wet impregnation) dengan inhibitor Cu. Proses-proses tersebut diatas dilakukan dengan metoda aliran kontinyu.
3) Uji produk terhadap mikroba patogen spesies E-Coli dan C.Albicans dengan analisis mikrobiologi antara lain mencari daya hambat pertumbuhan dan daya serap. Secara garis besar, tahapan penelitian yang akan dilakukan digambarkan dalam diagram alir dibawah ini.
HASIL DAN DISKUSI
Analisis kimia dilakukan dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometer), yang tertera hasilnya pada tabel 1. Komposisi utama dari zeolit didominasi pertama oleh silikon dan kedua oleh alumunium, sebagaimana rangka utama pembentuk zeolit. Berdasarkan hasil analisis diatas , kadar natrium cukup besar karena selain dari zeolit, natrium tersebut juga merupakan komponen dari mineral albite. Selain natrium dari hasil analisa kimia terdapat juga unsur kalium, kalsium dan magnesium, unsur-unsur tersebut selain sebagai pengotor juga yang tinggal di dalam kerangka zeolit sebagai penetral muatan. Kation tersebut bergerak bebas dan dapat dipertukarkan. Pengotor lainnya adalah besi. Pemurnian zeolit dengan asam, dalam hal ini HF dan HCI bertujuan untuk melarutkan
unsur-unsur pengotor yang ada pada zeolit sehingga permukaan pori-pori zeolit menjadi bersih. Proses pemurnian ini akan melarutkan silikat, alumunium, titanium dan senyawa besi, senyawa-senyawa tersebut berasal dari pengotor-pengotor oksida atau dari mineral lain dalam hal ini albite seperti yang tertera pada gambar 1 yang berada bersama zeolit.dan beberapa logam seperti Na<sup>+</sup>, K<sup>+</sup>, Mg<sup>2+</sup> dan Ca<sup>2+</sup> yang berada pada rongga zeolit dan menutupi sebagian rongga pori dan menggantikannya dengan H<sup>+</sup> dalam ruang intramellar, sehingga menjadikan zeolit lebih poros dan permukaannya lebih aktif.

Gambar 1. Diagram alir proses impregnasi zeolit alam dengan Cu
| Tabel 1. Komposisi | Kimia | Zeolit | Raw, | Hasil | Pemurnian | dan | % | Penurunan | Unsur | Setelah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pemurnian |
| No. | Unsur (%) | Zeolit Raw | Zeolit Hasil Pemurnian | % Penurunan Unsur Setelah Pemurnian |
|---|---|---|---|---|
| 1. | SiO2 | 68.49 | 68.29 | 0.29 |
| 2. | TiO2 | 0.44 | 0.42 | 4.55 |
| 3. | \(Al_2O_3\) | 12.10 | 11.96 | 1.16 |
| 4. | Fe2O3 | 0.78 | 0.77 | 1.28 |
| 5. | MnO | 0.0005 | 0.0005 | 0 |
| 6. | MgO | 0.10 | 0.11 | - |
| 7. | CaO | 0.12 | 0.11 | 8.33 |
| 8. | K2O | 1.24 | 1.54 | - |
| 9. | Na₂O | 1.50 | 1.50 | 0 |
| 10. | \(P_2O_5\) | 0.52 | 0.59 | - |
| 13. | LOI | 14.31 | 14.89 |
Pada tabel 1 terlihat hasilnya bahwa pada hasil pemurnian terjadi pengurangan kadar silikat dan alumunium ,diharapkan bukan dari kerangka zeolit, tetapi dari pengotor (mineral ikutan). Agar hal ini tidak terjadi konsentrasi fluorida perlu diperhatikan agar tidak merusak struktur kristal yang dibentuk oleh senyawa silikat.
Salah satu indikator yang umum dipakai untuk mengetahui mutu zeolit hasil pemurnian adalah dengan mengukur nilai KTK nya, apakah ada peningkatan. Kapasitas tukar kation dari zeolit Cikancra, Tasikmalaya sebelum pemurnian (tabel 2) adalah 126.26 mek/100gr. Ini adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan oleh zeolit tanpa diaktifasi. Dari tabel 2 terlihat pula bahwa KTK dari zeolit hasil pemurnian adalah 140.17 mek/100gr, artinya pemurnian zeolit alam dapat meningkatkan daya tukar kation. Hal ini terjadi karena pemurnian telah membersihkan rongga pori, rongga pori terbuka kemudian luas permukaan menjadi bertambah yang menyebabkan proses tukar kation menjadi maksimal. Dalam keadaan normal ruang hampa dalam kristal zeolit terisi oleh molekul air bebas yang berada disekitar kation. Bila zeolit dipanaskan pada suhu
sekitar 300°C maka air tersebut akan keluar yang menyebabkan medan listrik meluas ke dalam rongga utama dan akan efektif terinteraksi dengan molekul yang akan diadsorpsi. Sehingga daya serap dan daya tukar kation akan meningkat.
Situs dari rangka zeolit perlu diubah menjadi situs yang mudah disubstitusi oleh logam yaitu menjadi zeolit-H. Proses untuk pembuatan zeolit-H, adalah melalui proses tukar kation pada zeolit hasil pemurnian dengan larutan amonium acetat dengan reaksi : \(Zeo-M_{(s)} + NH_4OAc_{(l)} ------------------------------------\)
Dari Tabel 3, terlihat bahwa adanya penurunan kadar Na, K, Ca, Mg pada zeolit-H bila dibandingkan dengan kadar Na, K, Ca, Mg dari zeolit hasil pemurnian. Proses tukar kation terjadi pada rongga zeolit, sebagai indikator adalah turunnya kation-kation yang berada pada rongga zeolit dan tidak terjadi degradasi pada rangka zeolit yang ditandakan tidak ada penurunan kadar Si dan Al.
Tabel 2. Kapasitas Tukar Kation dari Zeolit Alam Zeolit Hasil Pemurnian
| Zeolit Alam | Zeolit Hasil Pemurnian |
|---|---|
| (mek/100gr) | (mek/100gr) |
| 126.26 | 140.17 |
Tabel 3. Hasil Analisa Kimia Zeolit Raw, Zeolit Hasil Pemurnian dan Zeolit-H dan % Penurunan Unsur Setelah Pada Zeolit-H
| No. | Unsur (%) | Zeolit Raw | Zeolit Hasil Pemurnian | Zeolit –H | Penurunan Unsur Pada Zeolit-H |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | SiO2 | 68.49 | 68.29 | 68.52 | |
| 2. | TiO2 | 0.44 | 0.42 | 0.37 | |
| 3. | \(Al_2O_3\) | 12.10 | 11.96 | 12.06 | |
| 4. | \(Fe_2O_3\) | 0.78 | 0.77 | 0.83 | |
| 5. | MnO | 0.0005 | 0.0005 | 0.0003 | |
| 6. | MgO | 0.10 | 0.11 | 0.07 | 36.36 |
| 7. | CaO | 0.12 | 0.11 | 0.016 | 85.45 |
| 8. | \(K_2O\) | 1.24 | 1.54 | 0.32 | 79.22 |
| 9. | Na₂O | 1.50 | 1.50 | 0.042 | 97.2 |
| 10. | \(P_2O_5\) | 0.52 | 0.59 | 0.52 | |
| 13. | LOI | 14.31 | 14.89 | 16.74 |
Ini berarti konsentrasi HCI yang dipakai menukar kation \(\mathrm{NH_4}^+\) sudah cukup. Pada tabel 3, tertera persentase penurunan kadar Na, K, Ca, Mg. Pada zeolit-H walaupun penurunan kadar Na, K, Ca, Mg cukup besar tapi penurunan kadar-kadar tersebut belum mencapai 100%, ini berarti zeolit-H tersebut belum sempurna. Walaupun demikian situs dari zeolit sudah berubah ke arah situs asam, sehingga zeolit-H ini diharapkan sudah dapat disubstitusi oleh ion logam, untuk kebutuhan tertentu.
Setelah mendapatkan zeolit-H proses impregnasi dimulai dengan mengelusi zeolit oleh larutan Cu(NO3)<sub>2</sub>. Pada tabel 5 tertera hasil analisa konsentrasi larutan Cu yang dielusikan, konsentrasi larutan Cu sisa dan larutan Cu yang diserap. Cu yang terserap oleh zeolit-H sebanyak 631,2 ppm . Zeolit-Cu yang terbentuk dianalisis kimia untuk komposisi mengetahui kimianya dibandingkan dengan komposisi kimia dari zeolit-H dan zeolit asal (raw). Disini terlihat bahwa logam Cu telah tertanam sebanyak 0.41 %. Impregnasi logam Cu telah berhasil dilakukan walaupun belum sempurna, ha lini didukung dengan data EDX dari zeolit alam dan zeolit-Cu.
Tabel 4. Hasil Analisa Kimia Zeolit Alam, Zeolit Hasil Pemurnian dan Zeolit Hasil Impregnasi
| No. | Unsur (%) | Zeolit Raw | Zeolit Hasil Pemurnian | Zeolit Hasil Impregnasi Cu |
|---|---|---|---|---|
| 1. | SiO2 | 68.49 | 68.29 | 68.52 |
| 2. | TiO2 | 0.44 | 0.42 | 0.37 |
| 3. | \(Al_2O_3\) | 12.10 | 11.96 | 12.06 |
| 4. | Fe2O3 | 0.78 | 0.77 | 0.83 |
| 5. | MnO | 0.0005 | 0.0005 | 0.0003 |
| 6. | MgO | 0.10 | 0.11 | 0.07 |
| 7. | CaO | 0.12 | 0.11 | 0.016 |
| 8. | \(K_2O\) | 1.24 | 1.54 | 0.32 |
| 9. | Na₂O | 1.50 | 1.50 | 0.042 |
| 10. | \(P_2O_5\) | 0.52 | 0.59 | 0.52 |
| 11. | \(H_2O^{\frac{1}{2}}\) | 1.69 | 1.56 | 1.85 |
| 12. | \(H_2O^+\) | 3.72 | 3.89 | 6.84 |
| 13. | LOI | 14.31 | 14.89 | 16.74 |
| 14. | Cu | 0.003 | 0.008 | 0.41 |
Tabel 5. Hasil Analisa Larutan Cu
| Proses | Filtrat Awal (ppm) | Filtrat Akhir (ppm) | Cu yang Terserap (ppm) |
|---|---|---|---|
| Impregnasi Cu | 1622.9 | 991.7 | 631.2 |
Pada gambar 1 hasil analisa EDX untuk zeolit alam logam Cu tidak terdeteksi, setelah proses impregnasi hasil EDX dari zeolit-Cu tertera kadar logam Cu sebanyak 1.51%, ini menunjukkan bahwa proses impregnasi logam Cu tercapai.
Setelah perlakuan pemurnian, modifikasi dan impregnasi, perlu dilihat apakah ada kerusakan pada kristal zeolit. Hal ini dapat dilihat dengan SEM yang tertera pada gambar 3 dan 4. Gambar 3, adalah gambar bentuk kristal zeolit alam (sebelum diproses), disini terlihat kristal mordenit berbentuk kristal jarum. Gambar 4, adalah gambar zeolit setelah mengalami proses pemurnian, modifikasi dan impregnasi logam Cu. Pada gambar 4 masih terlihat bentuk kristal jarum dari mordenit. Ini artinya bahwa prosesproses yang telah dilakukan tidak merubah bentuk kristal zeolit, sehingga diharapkan sifat alamiah dari zeolit tidak berubah.
Pada gambar 5 dan 6 tertera diffraktogram XRD dari zeolit alam dan zeolit –Cu, disini
terlihat tidak terjadi degradasi pada puncakpuncak mordenit, sehingga diharapkan sifat alamiah dari zeolit tidak berubah.
Zeolit-Cu yang dihasilkan diuji daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri maupun jamur hasilnya dibandingkan dengan zeolit alam. Pada tabel 7, terlihat bahwa pertumbuhan jamur Candida albicans terlihat lebih besar pada media yang didalamnya terdapat zeolit alam bila dibandingkan dengan media yang didalamnya terdapat zeolit-Cu. Selain itu pada tabel 8, terlihat bahwa pertumbuhan Eschericha coli terlihat lebih besar pada media yang didalamnya terdapat zeolit alam bila dibandingkan dengan media yang didalamnya terdapat zeolit-Cu, hal ini sesuai dengan yang diharapkan bahwa zeolit-Cu dapat menghambat pertumbuhan baik jamur maupun bakteri. Semakin banyak konsentrasi zeolit-Cu yang diberikan, pertumbuhan bakteri maupun jamur semakin terhambat.

Gambar 1. Data EDX (Energy dispersive X-Ray Spectrometer ) dari Zeolit Alam

Gambar 2. Data EDX (Energy Dispersive X-Ray Spectrometer) dari Zeolit-Cu
Gambar 3. SEM (5000 X) Zeolit Alam
Gambar 4. SEM (5000 X) Zeolit -Cu

Gambar 5. Diffraktogram XRD Zeolit

Gambar 6. Diffraktogram XRD Zeolit-Cu
Tabel 6. Hasil Uji Mineralogi Diffraksi Sinar X
| No. | Jenis | Mineral Terperi | Kadar (%) |
|---|---|---|---|
| 1. | Zeolit alam | Mordenit | 57.6 |
| Albite | 42.4 | ||
| 2. | Zeolit-Cu | Mordenit | 62.7 |
| Albite | 37.3 |
Tabel 7. Pertumbuhan Jamur Candida Albicans
| Sampel | Pertumbuhan C. albicans pada berbagai konsentrasi sampel | ||
|---|---|---|---|
| 10% | 20% | 30% | |
| Zeolit- Cu | 104 x 107 | 50 x 107 | 33 x 107 |
| Zeolit Alam | 110 x 107 | 75 x 107 | 53 x 107 |
Tabel 8. Pertumbuhan Jamur Escherichia coli
| Sampel | Pertumbuhan E. coli pada berbagai konsentrasi sampel | |||
|---|---|---|---|---|
| 10% | 20% | 30% | ||
| Zeolit-Cu | 111 x 107 | 60 x 107 | 37 x 107 | |
| Zeolit Alam | \(122 \times 10^7\) | \(100 \times 10^7\) | \(70 \times 10^7\) | |
KESIMPULAN
Pemurnian zeolit alam dapat melarutkan silikat, alumunium, titanium dan senyawa besi, senyawa-senyawa tersebut berasal dari pengotor-pengotor oksida yang berada bersama zeolit.dan beberapa logam seperti K<sup>†</sup>, Mg<sup>2†</sup> dan Ca<sup>2†</sup> yang berada pada rongga zeolit dan menutupi sebagian rongga pori dan menggantikannya dengan H<sup>†</sup>dalam ruang intramellar, sehingga menjadikan zeolit lebih poros dan permukaannya lebih aktif. Sehingga daya serap dan daya tukar kation akan meningkat.
Modifikasi zeolit alam menjadi zeolit-H dapat dilakukan melalui pemurnian zeolit alam dan dilanjutkan dengan proses tukar kation dengan larutan amonium acetat. Proses tukar kation terjadi pada rongga zeolit, sebagai indikator adalah turunnya kation-kation yang berada pada rongga zeolit dan tidak terjadi degradasi pada rangka zeolit yang ditandakan tidak ada penurunan kadar Si dan Al.
Impregnasi logam Cu tejadi, semakin banyak logam K, Na, Ca, Mg yang keluar, pembuatan zeolit-H semakin sempurna sehingga penanaman logam Cu menjadi maksimal Proses pemurnian, modifikasi dan impregnasi tidak merubah bentuk kristal zeolit. Dan tidak
terjadi degradasi pada puncak-puncak mordenit, sehingga diharapkan sifat alamiah dari zeolit tidak berubah. Sehingga mampu berfungsi sebagai antiseptic carrier.
Zeolit-Cu yang dihasilkan diuji daya hambatnya terhadap pertumbuhan bakteri maupun jamur hasilnya terlihat bahwa pertumbuhan jamur Candida albicans lebih besar pada media yang didalamnya terdapat zeolit alam bila dibandingkan dengan media yang didalamnya terdapat zeolit-Cu. Selain itu terlihat bahwa pertumbuhan Eschericha coli lebih besar pada media yang didalamnya terdapat zeolit alam bila dibandingkan dengan media yang didalamnya terdapat zeolit-Cu, hal ini sesuai dengan yang diharapkan bahwa zeolit-Cu dapat menghambat pertumbuhan baik jamur maupun bakteri. Semakin banyak konsentrasi zeolit-Cu yang diberikan, pertumbuhan bakteri maupun iamur semakin terhambat.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi Fatimah, 2001, Karakterisasi Sifat Fisiko-Kimia Mineral Zeolit Alam, Malang Jawa Timur, Jurnal Nusantara Kimia (JNK) Vol.VIII, No.1, Januari 2001, ISSN 0854-6541.
- 2. Pearson,RG. 1963. Hard and Soft Acids dan Bases. J. Am. Soc. 85: 3533-3539
- 3. Lenny M.Estiaty, Yoshiaki Gotto,Dewi Fatimah et.al., Zeolite From Cikancra Tasikmalaya, West Java: A Review of Its Properties, Seminar Iptek Nuklir dan Pengelolaan Sumberdaya Tambang, Pusat Pengembangan Bahan Galian dan Geologi Nuklir, BATAN, Jakarta 2 Mei 2002 ISBN 979-8769-11-2.
- 4. Amun Amri, Supranto, M.Fahrurozi. 2004. Kesetimbangan Adsorpsi Optional Campuran Biner Cd (II) dan Cr(III) dengan Zeolit Alam Terimpregnasi 2 merkaptobenzotiazol, Jurnal Natur Indonesia 6(2): 111-117 (2004) ISSN 1410-9379
- 5. Bowen Li, Shuhui Yu, Jim Y Hwang, Shangzhao Shi. 2002. Antibacterial Vermiculite Nano -Material 1 Michigan Technological University, Houghton, 49931, USA Journal of Minerals and Materials Characterization & Engineering vol.1 No.1 pp.61-68, 2002. printed in the USA All Rights Reserve.
- 6. Dietrich H.Nies,.Microbial heavy metal resistance: Molecular biology and utilisation for biotechnological processes, Institut fur Mikrobiologie, Martin-Luther-Universitat Halle-Wittenberg.
- 7. Dewi Fatimah, Zeolit Cikalong, Tasikmalaya, Jawa barat, menurunkan Konsentrasi Mangan dan Besi di dalam Air tanah, Berita Puslitbang Geoteknologi – LIPI, No. 1, Tahun X IV, Januari 2001. ISSN 0215-272Surdia T. dan Saito S. 1995. Pengetahuan Bahan Teknik, Cetakan ke-3, PT Pradnya Paramita, Jakarta
- 8. D.Setyawan P.Handoko ( ) The Effect of Acid, Hydrothermal and Support Chromium treatments of Natural Zeolite in Catalyst Preparation, Staf Pengajar Jurusan Kimia FMIPA Universitas Jember.
- 9. E. Erdem,N.Karapinar, R.Donat. 2004. The Removal of Heavy metal cations by natural zeolites, Journal of Colloid and
- Interface Science 280, 309-314, Department of Chemistry, Faculty of Science and Arts, Pamukkale University, 20017 Denizli, Turkey
- 10. http://www2.dwworld.de/indonesia/wisse nscchaft/1.44371.1.html Perak Sebagai Unsur Anti Infeksi .
- 11. Mursi Sutarti dkk. 1994. Zeolit, Tinjauan Literatur, Pusat Dokumentasi dan Informasi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi
- 12. R.M. Barrer, FRS. 1978. Zeolites and Clays Minerals as sorbents and Molecular Sieves, Academic Press.
- 13. Probisher,M. et.al. 1974. Fundamentals of Microbiology.Toppan Co. Ltd, Tokyo.
- 14. Roocyta H. et.al. 2005. Sintesa Zeolit Katalis Berbahan baku Mordenit, Laporan Penelitian Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK, Puslit Geoteknologi-LIPI,2005
- 15. Suryatono; et.al. 1990. Penggunaan Zeolit Bayah sebagai penukar kation logam-logam Berat pada pengolahan air buangan proses elektroplating di DKI Jakarta, Bandung; Pusat Pengembangan Teknologi Mineral.
- 16. Tarasevich, Y.I..et.al. 1985. Dalam Geology, Physiochemical Properties and Utilisation of Natural Zeolit, Metsnicreba, Tbilisi.
- 17. Tsitsishvili, G,V, et.al. Natural Zeolit England: Ellis Horwood Limited, 1992.
- 18. Kristi L. Farrington, RRT, BCS, CCRC, and Lee E. Morrow, MD. 2005. Antimicrobial Metals (Silver and copper) A Nonantibiotic Approach to Nosocomial Infections, The Journal for Repiratory, October.
- 19. http://www.castingimpregnation.net/Page s/Impregnation.
