Identifikasi Karakteristik Tempat Rekreasi yang Menarik untuk Dikunjungi Para Lansia dari Segi Penawaran

Hyra Annisa

Abstract


Penduduk dunia sedang mengalami transisi demografis menuju aging population, yaitu bertambahnya penduduk lanjut usia (lansia) dalam suatu populasi. Penduduk dunia mayoritas bertempat tinggal di kota besar, maka terdapat lansia di kota besar sebagai bagian dari populasi, termasuk di Kota Bandung, Indonesia. Kota Bandung yang juga dikenal dengan sebutan Paris van Java telah menjadi salah satu destinasi pariwisata yang terkenal karena memiliki banyak atraksi wisata. Salah satunya adalah “Taman Lansia” untuk mengakomodasi kebutuhan rekreasi penduduk lansia. Adanya “Taman Lansia” tidak lantas membuat lansia berekreasi ke “Taman Lansia” saja tetapi lansia juga berekreasi ke tempat lain yang tidak dikhususkan untuk lansia. Artikel ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tempat rekreasi yang menarik untuk dikunjungi para lansia dari segi penawaran. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan wawancara kepada pengunjung lansia di tempat rekreasi dan pengelola rekreasi serta observasi lapangan. Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis secara kualitatif. Dari hasil analisis ditemukan bahwa lansia menyukai tempat rekreasi yang memberikan mereka kesempatan untuk berolahraga, beribadah, berbelanja, dan bersosialisasi.

Kata kunci: Lansia, rekreasi, tempat rekreasi, penawaran

 

The world's population is undergoing demographic transition towards aging population, the increasing of elderly (seniors) resident in a population. Majority of the world population living in big cities, there are elderly in big cities as part of the population, including in Bandung City, Indonesia. Bandung City is also known as Paris van Java became one of the famous tourist destinations because it has many tourist attractions. Bandung City has “Taman Lansia” to accommodate the recreational needs for elderly population. The existence of “Taman Lansia” does not necessarily make the elderly recreation to “Taman Lansia” but also recreation to another place which is not specific for elderly. This article have purpose to identify characteristics of recreation area that attract the elderly to visit in terms of supply. To achieve these objectives conducted interviews of elderly visitors in recreation area, recreation management, and field observations. Data were analyzed qualitatively. From the analysis found that elderly loved recreational area which gives them the opportunity to exercise, prayer, shopping, and socializing.

Keywords: Elderly, recreation, recreation areas, supply


Full Text:

PDF

References


Abikusno, Nugroho. 2007. Older Population in Indonesia: Trends, Issues, and Policy Responses. UNFPA Indonesia and Country Technical Services Team for East and South East Asia Bangkok.

Aj, Suryadi. Pergeseran Keperawatan Lansia di Masyarakat. Diakses pada 28 September 2011. http://ageingsupport.blogspot.com/2010/01/p ergeseran-keperawatan-lansiadi.html.

Department of Economic and Social Affairs United Nations. World Population Ageing 2009. Diakses pada 2 Februari 2011. http://www.un.org/esa/population/publicatio ns/WPA2009/WPA2009-report.pdf.

Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation. Attraction. Diakses pada 7 Juni 2011. http://www.bookrags.com/tandf/attraction-3-tf/

Encyclopedia of Leisure and Outdoor Recreation.

Recreation Management. Diakses pada 8 Juni 2011. http://www.bookrags.com/tandf/leisuremana gement-tf/

French, Christine M., Stephen J. Craig-Smith, dan Allan Collier. 1996. Principles of Tourism.

Melbourne: Longman.

Gavrilov, Leonid A. dan Patrick Heuveline. Aging of Population. Diakses pada 2 Februari 2011. http://longevityscience.org/Population_Agin g.htm

Gunn, C dan Var T. 2002. Tourism Planning. Fourth Edition. UK: Routledge. International Association of Gerontology and Geriatrics. 2005. Manual Operating Procedures. Disusun untuk Kongres

Gerontology and Geriatry (IAGG) ke XVII.

Isnutomo, Maulita Dwasti. 2011. Identifikasi Permintaan Kelompok Lanjut Usia terhadap Kegiatan Rekreasi di Kota Bandung. Institut Teknologi Bandung.

Komisi Nasional Lanjut Usia. “Aksesibilitas dan Kemudahan Dalam Penggunaan Sarana dan Prasarana”. Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010

Page, Stephen. Urban Tourism. 1995. London:

Routledge.

Patmore, J. Allan. 1983. Recreation and Resources: Leisure Patterns and Leisure Places.Oxford: Basil Blackwell.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 30/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan.

Rian, Achmad. 2000. Studi Identifikasi Penyediaan Fasilitas Rekreasi Anak – Anak di Kotamadya Bandung.” Institut Teknologi Bandung.

Setiti, Sri Gati. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus pada Lima Wilayah di Indonesia). Diakses pada 28 September 2011. http://www.depsos.go.id/unduh/06_pelayana n%20lanjut%20usia%20berbasis%20kekerab atan.pdf.

Soenardjo, Budi Rochyati. Three Generations in One Roof. Diakses pada 2 Oktober 2011. http://gemamanahan.com/index.php?option= com_content&view=article&id=101:three- generations-in-one- roof&catid=53:komunitaslansia&Itemid=54.

Sukadijo. 1997. Systemic Linkage dalam Pariwisata. Jakarta: Gramedia.

Suwoko. Lansia Indonesia Tercepat. Diakses pada 28 September 2011. http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/2 9/opi04.htm.

Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.




Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

Copyright © 2019 Journal of Regional and City Planning