Potensi Wisata Agro Kabupaten Bandung Berdasarkan Aspek Permintaan dan Penawaran

Silvia Puspitasari

Abstract


Salah satu penghasil pertanian terbesar di Jawa Barat, bahkan di Indonesia adalah Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung juga telah menetapkan sembilan kawasan wisata agro melalui RIPPDA No 6 tahun 2006-2016, yaitu Desa Alamendah, Desa Panundaan, Desa Ciwidey, Desa Pasirjambu, Desa Sukawening, Desa Nengkelan, Desa Rawabogo, Desa malabar dan Pangalengan. Kawasan yang diteliti dalam penelitian ini yaitu tujuh kawasan yang tergabung dalam Kawasan Agropolitan Ciwidey dan terletak pada satu jalur pariwisata Soreang-Patengan. Penelitian ini bertujuan melihat potensi yang dapat dikembangkan di tujuh desa untuk menjadi destinasi wisata agro. Potensi yang diteliti meliputi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Penawaran yang diteliti mencakup daya tarik alam, budaya dan khusus, selain daya tarik alam , ditinjau pula sarana dan prasarana serta aksesibilitas yang mencakup akses menuju kawasan dan akses di dalam kawasan. Sedangkan permintaan mencakup pola perjalanan, karakteristik wisatawan dan kebutuhan wisatawan akan wisata agro di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, tujuh kawasan yang ditetapkan oleh RIPPDA memiliki potensi pertanian yang melimpah dan beragam, sehingga memiliki peluang besar dalam pengembangan wisata agro.

Kata kunci: Wisata Agro, Kabupaten Bandung, penawaran, permintaan

 

One of the largest agricultural producers in West Java, even in Indonesia is Bandung Regency. Bandung Regency has set nine agro tourism areas through RIPPDA No. 6 of 2006-2016, Alamendah Village, Panundaan Village, Ciwidey Village, Pasirjambu Village, Sukawening Village, Nengkelan Village, Rawabogo Village, Malabar and Pangalengan Village. The area studied in this research that is incorporated in the seven areas Agropolitan Ciwidey area and is located on line-patengan Soreang tourism. This study aims to see the potential that can be developed in seven villages to become agro tourism destinations. Studied include the potential supply and demand. Studied supply includes natural attractions, cultural and special, in addition to natural attractions, also reviewed the accessibility of facilities and infrastructure and that includes access to the area and access in the region. While the demand include travel patterns, traveler characteristics and needs of tourists in the agro-tourism in Bandung regency. This study shows that in general, the seven regions defined by RIPPDA has abundant agricultural potential and diverse, so have a great chance in the development of agro tourism.

Keywords: Agro Tourism, Bandung Regency, supply, demand

Full Text:

PDF

References


Data Objek dan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Bandung Triwulan I tahun 2009, Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Bandung

Kabupaten Bandung Dalam Angka 2008

Lobo, R.E., Goldman G.E. dan lain-lain. 1999. Agricultural Tourism: Agritourism Benefits Agriculture in San Diego Country. California Agriculture. University of California.

Masterplan Agropolitan Ciwidey

Profil Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung 2008

Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten Bandung No. 6 Tahun 2006

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung 2007-2027

Rilla, E. 1999. Bring the City and Country Together. California Coast and Ocean. Vol. 15, No. 2.

Sutjipta, I Nyoman. 2001. Agrowisata. Magister Manajemen Agrobisnis: Universitas Udayana. (Diktat)




Copyright © 2016 Journal of Regional and City Planning

Creative Commons License
This work licensed under CC-BY-NC, a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Visitor Counter