Industrialisasi dan Urbanisasi di Asia Tenggara

Hastu Prabatmodjo, Michael Micklin

Abstract


Tulisan ini menyoroti beberapa aspek perubahan struktural di empat negara—negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand) dengan konsentrasi pada proses industrialisasi dan urbanisasi. Disebabkan beberapa kesamaan dalam karakteristik ekonomi mereka, negara-negara tersebut nampaknya menghadapi masalah pembangunan ekonomi yang hampir serupa pula. Mereka adalah eksportir tradisional hasil—hasil pertanian dan pertambangan ke pasar yang sama (Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa Barat). Negara-negara tersebut juga memiliki pengalaman yang sama dalam mengubah strategi industrialisasi mereka dari substitusi—impor ke orientasi—ekspor melalui penggunaan tenaga kerja murah (Hara, 1984).

Ke empat negara tersebut adalah anggota pokok ASEAN yang dimaksudkan untuk menggalang kerjasama ekonomi, sosial—budaya dan politik. Singapura dan Brunei tidak dibahas, berhubung karakteristik ke dua negara tersebut amat berbeda dengan ke empat anggota ASEAN lainnya. Meskipun ASEAN dapat menjadi wadah untuk menjalin kerjasama dalam menghadapai pasar internasional maupun untuk meningkatkan situasi ekonomi dalam negeri, disebabkan falsafah pembangunan ekonomi yang nasionalistik yang memandang pembangunan ekonomi sebagai kunci untuk membangun bangsa (lihat Hara, 1984), kerjasama semacam itu belum terlaksana secara baik. Kepentingan nasional adalah lebih utama daripada kepentingan regional yang pada gilirannya menghasilkan pola—pola kerjasama yang longgar, meskipUn ini juga dianggap berperan dalam menunjang Viabilitas ASEAN (Wong, 1985). Kerjasama ekonomi dalam ASEAN dipengaruhi oleh interaksi antara kerjasama dan persaingan. Bagaimana hal ini mempengaruhi industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara tersebut adalah sebuah pertanyaan yang perlu untuk dieksplorasi jawabannya.

Dalam kaitannya dengan perubahan struktur pembagian kerja internasional, ke empat negara tersebut telah membuat penyesuaian—penyesuaian yang esensial untuk menangkap peran yang lebih besar sebagai pengekspor barang—barang industri tingkat bawah. ini telah mempengaruhi struktur ekonomi subnasional, termasuk urbanisasi mereka (Lo dan Salih, 1987). Di samping peningkatan dalam tingkat urbanisasi dengan pertumbuhan tahunan sekitar 3,7 persen pada periode 1980—1985, negara—negara tersebut telah mengalami peningkatan tingkat primasi perkotaan (Pernia, 1988) dengan kekecualian Malaysia di mana primasi adalah isyu yang tidak relevan (Lo dan Salih, 1987).

Tulisan ini membahas situasi dan prospek—prospek industrialisasi dan urbanisasi di empatnegara Asia Tenggara dengan memberi perhatian khusus pada konsekuensi-konsekuensi di bidang ketenagakerjaan. Harapan yang terkandung adalah agar dapat diperoleh perspektif yang lebih luas untuk mengkaji keterkaitan isyu-isyu substansial dalam konteks regional, sehingga dapat memberikan arahan untuk memantapkan kerjasama ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN.


Full Text:

PDF

References


Edgren, G. Restructuring, Employment and Industrial Relation : andjusment Issues in Asian Industries. Geneva : International Labour Office. 1989.

Forbes, D. and N. Thritt. "International Impacts on the Urbanization Process in the Aslan Region : a review“. H67—87 dalam PJ. Fuchs; GJ. Jones dan EM. Pernia (ed.). Urbanization and Urban Policies in Pacific Asia. Boulder : Westview Press. 1987.

Fuchs. FU. and EM. Pernia. "The Influence of Foreign Direct Investment on Spatial Concentration.“ H.387-410 dalam F.J. Costa; AK. Dutt: LJK. Ma; AG. Noble (ed.). Urbanization in Asia: spatial dimension and policy issues. Honolulu: University Hawaii Press. 1989.

Hara. Y. "Future Directions in ASEAN's Economic Development". Asian Journal of Economic and Social Studies No.3: 68-74, 1984.

Hiemenz. U. "Growth and Efficiency of Small and Medium Industries In ASEAN Countries". Asian Development Review: 101 -1 18. 1983.

Jha, SC. "Rural Development in Asia : issue and perspective“. Asian Development Review No.5: 84-93, 1987.

LaRosa. F. An Analysis of Urban Primacy : Reasserting the Need l'or National Spatial Planning in Developing Countries. Unpublished Ph.D. Dissertation. Department of Urban and Regional Planning. Florida State University. 1990.

Lo. F.C. dan K. Salih. “Structural Change and Spatial Transformation: review of urbanization In Asia, 1960—1980". H. 38—64 dalam R.J. Fuchs; .W. Jones; dan EM. Pernia (ed.). Urbanization and Urban Policies in Pasific Asia. Boulder: Westview Press, 1987.

McGee. T.G. "Urban System. Labour Markets and the Urbanization Process in Southeast Asia: research priorities of government policy”. H.115-138 dalarn R.P. Misra. Regional Development. Meruzen Asia. 1982.

Roe. T. dan M. Shane. "Export Performance, Marketing Services and the Technological Characteristic of the Malaysia Industrial Sector“. Journal oi Developing Areas No.13: 175-169, 1979.

United Nations. Statistical Yearbook for Asia and the Pacific 1 988. Bangkok, 1988.

Wong. &. "ASEAN's Experiences in Regional Cooperation". Asian Development Review No. 3: 79 - 98, 1985.

World Bank. World Development Report 1988. New York : Oxford University Press. 1988.




Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

Copyright © 2019 Journal of Regional and City Planning